Perang melawan ISIS: Hollande bersumpah akan balas dendam atas serangan Paris

PARIS, Perancis — Presiden Perancis Francois Hollande telah bersumpah untuk menghabisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada Senin, 16 November, setelah serangan Paris kemarin akhir pekan lalu.

Hollande menjanjikan langkah-langkah anti-teror baru di dalam negeri serta mengintensifkan serangan bom ke Suriah.

Perancis dan Belgia melakukan puluhan serangan sebagai langkah perburuan delapan orang pelaku serangan, termasuk di sebuah perkampungan yang terkenal radikal di Brussel, di mana diperkirakan pernah menjadi tempat tinggal beberapa pelaku.

Hollande mendeskripsikan serangan terkoordinir yang menewaskan 129 jiwa tersebut sebagai “tindakan perang.”

Presiden Perancis ini telah meminta seluruh dunia untuk membalas serangan tersebut dan menghancurkan ISIS. Selain itu, ia juga menyatakan akan segera melakukan pertemuan dengan pihak Amerika Serikat dan Rusia untuk berbicara tentang tindakan balasan selanjutnya.

“Tindakan perang… direncanakan di Suriah, disiapkan di Belgia (dan) dilaksanakan di negara kita dengan keterlibatan warga Perancis,” tutur Holande saat pertemuan luar biasa dengan kedua majelis parlemen di Versailles, Perancis, Senin, waktu setempat.

“Kebutuhan untuk menghancurkan ISIS… merupakan kepentingan komunitas di seluruh dunia,” ujarnya kepada para anggota parlemen, yang terlihat sangat emosional saat menyanyikan lagu kebangsaan La Marseillaise setelah pembacaan pidato.

Pertemuan antara kedua majelis parlemen ini merupakan yang kedua sejak 150 tahun lalu.

Di dalam negeri, Hollande memperpanjang kondisi siaga menjadi tiga bulan dan mengumumkan lowongan untuk 8.500 polisi dan petugas pengadilan untuk membantu melawan terorisme.

Sumber di pemerintahan Perancis menuturkan kepada AFP bahwa mereka yang datang dari Suriah dapat menjadi tahanan rumah dan presiden sedang berencana untuk mengamandemen konstitusi agar dapat meningkatkan pengamanan.

Dalam keadaan emosional, ribuan warga berhenti sejenak di jalanan Paris untuk mengheningkan cipta selama satu menit sebagai peringatan atas mereka yang meninggal pada serangan Jumat, 13 November, lalu.

Pihak penyidik telah berhasil mengidentifikasi dua orang pelaku lainnya, termasuk seorang warga negara Perancis yang pernah didakwa atas perencanaan serangan teror.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa serangan di Paris membuktikan pentingnya koalisi internasional dalam gerakan anti-terror.

“Saya telah membicarakan ini kepada PBB… dan insiden tragis kemarin membuktikan bahwa kami benar,” kata Putin di hadapan para peserta konferensi G20 di Turki.

Presiden AS Barrack Obama yang juga berada di Turki mengatakan bahwa perjanjian baru telah disepakati dengan Perancis dalam kerja sama intelijen.

Sekretaris Negara AS John Kerry telah tiba di Paris pada Senin malam untuk berdiskusi lebih lanjut tentang serangan tersebut dan mendeskripsikan ISIS sebagai “monster psikopat”.

Peluncur roket

Dalam penggerebekan dini hari di wilayah tenggara Lyon, Perancis, polisi menemukan sebuah gudang senjata, termasuk sebuah peluncur roket dan senapan Kalashnikov.

Menurut penuturan Menteri Dalam Negeri Perancis Bernard Cazeneuve lebih dari 100 orang telah berstatus tahanan rumah, sedangkan 23 orang lainnya ditahan dan 31 senjata disita.

Sementara pihak otoritas terus berusaha menemukan pelaku serangan, masyarakat kota Paris berusaha untuk kembali kerutinitas mereka.

Gundukan bunga dan lilin ditaruh di tempat kejadian serangan serta di depan toko-toko yang kehilangan seseorang.

“Kita harus mengerti bagaimana perilaku barbar seperti ini dapat eksis dan mengapa harus Perancis yang membayarnya dengan harga mahal,” ujar David Boy, seorang pimpinan agensi iklan berusia 52 tahun saat mampir ke tempat peringatan sebelum ia berangkat ke kantor.

Kereta Metro telah dipenuhi warga, para siswa telah kembali bersekolah dan museum kembali buka, meskipun status keadaan darurat masih diberlakukan di penjuru negri.

Sebuah kampanye media sosial meminta semua orang untuk berkunjung ke kafe dan bar pada Selasa malam, 17 November.

Untuk melawan “barbarisme.. budaya adalah tameng terbesar kita dan seniman adalah senjata terbaik,” kata Menteri Kebudayaan Perancis Fleur Pellerin.

Perdana Menteri Manuel Valls memperingatkan warga akan pertumpahan darah selanjutnya, dengan mengatakan kepada RTL radio bahwa masih ada banyak operasi “yang dipersiapkan, tidak hanya melawan Perancis tapi juga negara Eropa lainnya.”

Minggu malam, 15 November, pesawat tempur Perancis mengebom perkampungan ISI di wilayah utara Suriah, termasuk pusat rekrutmen, gudang amunisi, dan sebuah kamp pelatihan di Raqa, ibukota de facto Suriah bagi ISIS, serta beberapa penyerbuan lainnya juga dilaporkan pada Senin, 16 November.

Koneksi Belgia

BURON. Salam Abdeslam merupakan salah satu buronan pelaku serangan di Paris. Foto dari Police Nationale/AFP

BURON. Salam Abdeslam merupakan salah satu buronan pelaku serangan di Paris.

Foto dari Police Nationale/AFP

Perburuan dilanjutkan untuk menemukan Salah Abdeslam, salah satu dari tiga bersaudara yang diduga terkait dengan serangan di Paris.

Satu orang dari mereka melakukan bom bunuh diri di tempat konser Bataclan dan teridentifikasi dari jari yang terputus, sedangkan saudara yang ketiga sempat ditangkap di Belgia namun telah dibebaskan tanpa hukuman.

Mereka bertiga tinggal di perkampung Molenbeek, Belgia, yang memang memiliki reputasi Islam militan di mana polisi pernah melakukan beberapa kali penangkapan.

Abdelhamid Abaaoud, 28 tahun, seorang berkebangsaan Belgia keturunan Maroko yang juga berasal dari Molenbeek dan diduga merupakan bagian pasukan ISIS di Suriah, dianggap sebagai otak dari serangan di Paris.

Lima dari tujuh pelaku yang diketahui telah teridentifikasi, namun masih belum jelas apakah ada penembak yang kabur setelah kejadian tersebut.

Dua penembak di Bataclan yang membunuh 89 orang telah teridentifikasi dengan nama Omar Ismail Mostefai, 28 tahun yang berasal dari Paris, dan Samy Amimour. Mereka berdua merupakan pelaku bom bunuh diri.

Amimour sempat didakwa di Perancis pada tahun 2012 atas kasus “konspirasi untuk melakukan terorisme” saat berusaha pergi ke Yaman dan telah menjadi buronan dunia setelah melanggar peraturan pengawasan yudisialnya.

Terdapat ketakutan bahwa para teroris masuk ke Eropa bersama dengan rombongan imigran yang datang dari Suriah, setelah ditemukannya sebuah paspor Suriah di dekat tubuh pelaku bom bunuh diri atas nama Ahmad Al Mohammad. Namun keaslian paspor tersebut masih harus diperiksa.

Pada Senin, 16 November, Serbia menahan seorang imigran yang memiliki paspor dengan identitas serupa.

Serangan Paris terjadi sebelas bulan setelah serangan di kantor majalah satir Charlie Hebdo dan sebuah supermarket Yahudi yang menewaskan 17 orang. —Laporan AFP/Rappler.com

BACA JUGA: