Jerman protes pernyataan Duterte yang menyamakan diri dengan Hitler

JAKARTA, Indonesia - Pemerintah Jerman pada Jumat, 30 September memanggil Duta Besar Filipina terkait pernyataan Presiden Rodrigo Duterte yang menyamakan dirinya dengan Hitler. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Martin Schaefer menegaskan tidak dapat menerima pernyataan Duterte tersebut.

“Perbandingan apa pun antara tindak kekerasan Holocaust dengan peristiwa lainnya sangat-sangat tidak dapat diterima,” ujar Schaefer.

Sementara, di mata Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ashton Carter, hal yang diucapkan oleh Duterte sangat menganggu. Komentar itu dilontarkan Carter ketika menjamu pertemuan informal 10 Menhan Asia Tenggara di Oahu, Hawaii, Amerika Serikat pada Jumat kemarin.

Komandan tertinggi Pentagon itu menyebut tidak membahas mengenai pernyataan Duterte dalam pertemuan dengan Menhan Asia Tenggara.

“Tetapi, secara pribadi, saya menilai komentar itu sangat menganggu,” kata Carter menambahkan.

Dua hal yang berbeda

Juru bicara Kepresidenan, Ernesto Abella maksud Duterte justru membantah bosnya telah membandingkan dirinya sendiri dengan Adolf Hitler. Justru, Duterte tengah berupaya menepis label yang disematkan ke dirinya karena dia seolah-olah dipersepsikan melakukan pembunuhan massal, sama seperti yang dilakukan Hitler.

Menurut Abella, Duterte mencoba untuk menjawab perbandingan negatif tersebut.

“Justru sebaliknya dia ingin menepis kesimpulan negatif, bahwa di saat Holocaust adalah upaya untuk memusnahkan generasi masa depan warga Yahudi, peristiwa yang kerap disebut pembunuhan di luar proses peradilan ikut disematkan kepada Duterte. Tetapi, di saat yang bersamaan upaya tersebut untuk menyelamatkan generasi masa depan warga Filipina,” kata Abella.

Dia menjelaskan peristiwa Hitler telah membunuh 3 juta warga yang tak berdosa dan niat Duterte untuk membabat habis 3 juta pengedar narkoba demi menyelamatkan generasi masa depan bangsa, adalah dua hal yang sangat berbeda.

“Pemerintah Filipina mengakui pentingnya pengalaman yang dialami oleh warga Yahudi, khususnya sejarah tragis dan nenyedihkan. Kami tidak ingin mengecilkan makna kehilangan 6 juta warga Yahudi dalam peristiwa Holocaust, suatu kejadian yang masih terpatri dalam ingatan orang-orang,” katanya.

Menteri Luar Negeri Perfecto Yasay Jr, juga ikut membela bosnya dengan mengatakan cara media berbahaya dalam memberitakan pernyataan Duterte, karena mereka memlintir komentar mantan Walikota Davao itu.

“Hal tersebut dapat membuat negara ini tidak stabil,” ujar Yasay.

Melalui Facebooknya pada dini hari tadi, Yasay mengatakan Duterte memberi kepastian bahwa dia tidak akan meniru cara Hitler dalam memerangi perdagangan narkoba secara ilegal. Cara yang dirujuk oleh Yasay yakni dengan memusnahkan 3 juta para pengedar narkoba di Filipina.

“Tetapi, dia akan tetap memegang janjinya kepada rakyat untuk memberantas perdagangan narkoba secara ilegal, karena narkotika merupakan kejahatan yang kejam dan dapat menyebarkan penyakit korupsi di berbagai tingkatan pemerintahan,” katanya.

Pernyataan Duterte itu disampaikan pada Jumat pagi, 30 September di kota Davao. Di hadapan media, Duterte mengatakan jumlah warga Yahudi yang dibantai oleh Hitler dengan pemakai narkotika di Filipina sama-sama 3 juta orang.

“Paling tidak jika di Jerman ada Hitler, maka Filipina memiliki,” dia sempat terdiam.

“Tetapi, kalian tahu, korban-korban saya, saya ingin semua pelaku kriminal agar segera ditangkap, sehingga permasalahan di negara saya selesai. Selain itu, saya dapat menyelamatkan generasi masa depan dari kepunahan,” ujar Duterte. - dengan laporan AFP/Rappler.com