Jokowi: Menteri fokus kerja, jangan sibuk jadi komentator

BOGOR, Indonesia — Menjelang akhir 2015, Presiden Joko “Jokowi” Widodo melakukan evaluasi selama setahun ke belakang. Ia juga meminta jajaran menterinya untuk bekerja lebih giat lagi.

“Menteri fokus bekerja, jangan sibuk jadi komentator,” kata Jokowi saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Bogor hari ini, Selasa, 8 Desember.

Meski tidak menyebut nama, salah satu menteri di Kabinet Kerja Jokowi kerap diberitakan memiliki pandangan berbeda dari pimpinan negara.

Salah satunya adalah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli. Rizal pernah mengkritik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno soal rencana pembelian 30 unit pesawat Airbus 350 untuk maskapai Garuda Indonesia.

Ia juga meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said untuk mengevaluasi program pembangunan listrik 35.000 megawatt. 

Sementara itu, sidang kabinet hari ini mengagendakan empat hal, yakni Penyederhanaan Nomenklatur dalam Anggaran; Program Prioritas dan Pemanfaatan Anggaran Tahun 2016; Permasalahan yang belum selesai di Tahun 2015; dan Antisipasi Permasalahan yang timbul dalam Pelaksanaan Pilkada Serentak.

Jokowi mengaku mendengar ada 42.000 regulasi yang ada di Indonesia berupa Perpres, PP, hingga Peraturan Menteri.

Jokowi juga meminta peraturan yang tidak perlu dan menghambat, serta tidak fleksibel agar dihapus minimal separuhnya pada tahun depan.

Tahun depan, perintahnya, harus hilang minimal separuhnya di seluruh kementerian.

"Aturan-aturan ruwet buat kita terbelenggu, tidak fleksibel, tidak bisa melompat," katanya.

Ia memerintahkan agar semua Peraturan Pemerintah dikumpulkan dan jika perlu Peraturan Presiden (Perpres) dihapus yang tidak diperlukan.

"Jadi sekali lagi, orientasi kita adalah orientasi hasil, bukan prosedur. Orientasi kita adalah target, jangan dibalik-balik," katanya.

Mulai Januari 2016, Jokowi menginstruksikan para menterinya untuk berlari cepat.

Ia tidak ingin semua terjebak pada rutinitas business as usual yang monoton, melainkan harus membawa tradisi baru, pola baru, dan cara baru.

"Yang pertama masalah orientasi, semuanya harus berani membalikkan bahwa orientasi kita bukan prosedur, tapi orientasi hasil, prosedur mengikuti. ini yang harus dibalik total, semuanya," ujarnya. —Rappler.com

BACA JUGA: