Jomblo Metropolitan: Berpuisi di jalanan Jakarta

Jakarta itu rakus. Tapi Jakarta juga indah.

Jakarta itu kejam. Tapi di sisi lain, Jakarta membawa kedamaian.

Pada 26 September 2015 lalu, saya dan 7 orang kawan lain berkesempatan menjadi bagian dari 100 Thousand Poets for Change (100TPC).

100TPC adalah sebuah gerakan global yang didirikan oleh Michael Rothenberg dan Terri Carrion pada 2011. Pada hari tersebut, penyair dan pemuja puisi dan sastra bergabung membacakan karya-karya mereka di kota dan/atau negara masing-masing.

Kami berdelapan turut berpartisipasi dengan membuat sebuah video sebagai bentuk “cinta” (?) kepada Jakarta, tempat kami dilahirkan, dibesarkan, dan mencari nafkah.

Kegiatan ini digagas oleh kawan-kawan yang tergabung dalam Unmasked, yaitu Putri Minangsari, Ayu Meutia, dan Pangeran Siahaan. Dan didukung oleh teman-teman lain seperti Andhyta Firselly Utami, Antonia Timmerman, Anisa Menur, dan Rara Rizal.

Inti dari kumpulan puisi yang kami buat adalah sebuah perubahan yang kami inginkan buat Jakarta. Masing-masing dari kami membacakan tulisan sendiri yang bisa diartikan entah sebagai karya individu atau sebuah kesatuan. Tergantung pembaca (dan penonton) menginterpretasikannya.

Langsung tonton videonya di atas.

Oh ya, hari ini, Minggu, 4 Oktober, kawan-kawan di Unmasked juga menggelar acara yang tak kalah serunya, Syair Lisan dan Adu Puisi (spoken word and poetry slam) di pusat kebudayaan Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 

Saya awalnya didapuk untuk menjadi pembawa acara, namun karena satu dan lain hal harus mengundurkan diri.

Acara dimulai jam 4:30 PM kalau kalian tertarik untuk ikut berkompetisi. 

Untuk info lebih lengkapnya bisa kunjungi laman Facebook ini. —Rappler.com

BACA JUGA: 

Abdul Qowi Bastian adalah staf redaktur Rappler Indonesia. Ia dapat disapa di Twitter @aqbastian