Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

Kejayaan internet paksa "Jakarta Globe" tutup

JAKARTA, Indonesia – “A Last Hurrah… And a New Beginning.”

Itulah penampilan halaman depan Jakarta Globe versi cetak dalam edisi terakhirnya, 15 Desember 2015. Sorakan ini merupakan ucapan selamat tinggal untuk para pembacanya yang setia selama tujuh tahun usia media berbahasa Inggris ini.

“Sejak edisi pertama Jakarta Globe terbit, 12 November 2008, kami selalu memburu berita-berita penting, yang bermanfaat, dan memandu pembuat keputusan memiliih informasi,” demikian surat kabar itu menulis di halaman depan.

Surat kabar ini sudah menerbitkan berbagai artikel terkait sejumlah peristiwa penting. Di antaranya serangan teror di Jakarta, tahun 2009, dan tahun 2014. Kemudian pemilihan presiden 2014, kasus-kasus korupsi, dan isu terkait hak-hak minoritas. Terbitan pamungkas ini juga menampilkan sejumlah artikel dan foto kenangan di berbagai halaman.

Apa yang membuat koran ini tutup tidak lain adalah masalah klasik. Yakni tingginya ongkos produksi di tengah gemuruh era media berbasis internet. “Sejak awal banyak masalah kami hadapi di antaranya melambungnya ongkos cetak dan distribusi, pembaca yang terus merosot, dan kejayaan internet,” demikian koran ini menulis.

Selanjutnya awak redaksi akan menjumpai pembacanya dalam bentuk online. “Memberi pembaca pengalaman lebih hangat terhadap berita-berita terbaru,” demikian mereka memberikan alasannya.

Jakarta Globe tutup tak lama setelah Sinar Harapan dan Koran Tempo edisi Minggu memutuskan hal serupa. Penyebabnya kurang lebih sama, yakni biaya cetak yang tinggi.

Jakarta Globe merupakan bagian dari Lippo Group’s BeritaSatu Media Holdings (BSMH), salah satu konglomerat media Indonesia. Pada hari yang sama, BSMH mengumumkan investasi $65 miliar ke versi digital.

“Lebih dari 100 juta warga Indonesia akan terkoneksi pada 2020. Strategi bisnis digital BSMH akan membidik 10 juta pasar pembaca dalam waktu enam tahun,” katanya. – Rappler.com

 BACA JUGA