Jemaah haji beresiko terkena ‘heatstroke’

Jamaah haji asal Indonesia sebelum berangkat naik pesawat menuju Mekah, Arab Saudi, pada 17 November 2007.

Foto oleh Mast Irham/EPA

JAKARTA, Indonesia — Pemerintah mengimbau jamaah haji tahun ini untuk bersiap menghadapi resiko terkena sengatan panas, atau heatstroke, karena tingginya suhu di Arab Saudi yang diakibatkan oleh pemanasan global. 

Kepala pusat kesehatan haji di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Fidiansjah, mengatakan bahwa tahun ini suhu di Arab Saudi diperkirakan bisa mencapai 50 derajat Celcius, jauh lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya mencapai 43 derajat.

“Jauh sekali (kenaikan suhunya), bahkan diprediksi bisa sampai 50 derajat. Kita ini sekarang paling panas di Jakarta cuma 30 derajat,” ujar Fidiansjah setelah rapat koordinasi persiapan haji 2015 di kantor Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KemenkoPMK) di Jakarta Pusat, Selasa, 11 Agustus.

Oleh karena itu, resiko terkena heatstroke sangatlah besar, apalagi saat melaksanakan wukuf, inti dari ibadah haji, di padang Arafah. Tahun lalu saja, 4 jamaah haji asal Indonesia meninggal dunia akibat heatstroke

Heatstroke adalah kondisi di mana suhu tubuh dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius atau lebih. Heatstroke dapat disebabkan oleh kenaikan suhu lingkungan, atau aktivitas tinggi yang dapat meningkatkan suhu tubuh. 

“Tendanya itu tidak seperti di Mina yang pakai AC. Kalau di Arafah itu tidak (ada AC). Jadi sama seperti kita tenda camping dan di situlah ambruknya jamaah, padahal itu intisarinya (dari ibadah haji),” ungkap Fidiansjah. 

DItambah lagi dengan faktor orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan iklim di Timur Tengah.

“Orang Indonesia itu solat 5-10 menit saja sudah dehidrasi dan dia bisa heatstroke dan bahkan yang kita tidak inginkan meninggal,” ujar Fidiansjah, 

Selain suhu tinggi, jamaah haji juga harus antisipasi cuaca esktrim selama menunaikan ibadah.

“Tahun lalu saja malamnya hujan, besoknya panas waktu wukuf. Begitu fluktuatif (cuacanya), jadi suhunya tinggi tapi bisa tiba-tiba ada hujan, ada badai,” kata Fidiansjah. 

Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari pengaruh perubahan iklim global. 

Oleh karena itu, pihak Kemenkes telah menyiapkan sebuah buku panduan bagi jemaah haji dan juga petugas di lapangan untuk menghadapi cuaca panas selama naik haji. 

“Tanggal 19 Agustus, kita launching (buku panduan) khusus gimana kita bisa antisipasi kebutuhan cairan bagi jamaah haji dan umroh karena 15 tahun ke depan diantisipasi akan panas terus sehingga buku ini memang ditunggu-tunggu semua petugas kesehatan dan jemaah,” ungkap Fidiansjah. 

Selain itu, selama masa persiapan jamaah haji di Kementerian Agama (Kemenag), Kemenkes juga sudah memberikan panduan untuk menghadapi cuaca ekstrim. 

“Kita juga sudah anjurkan tidak lagi memaksakan diri (selama naik haji), ibadah sunnah itu bukan ibadah wajib, jadi jangan bolak balik pondokan dan masjid berpanas-panas. Solat di pondokan sama juga mulianya, sama juga pahalanya,” kata Fidiansjah.

Selain itu, pihak pemerintah juga sudah mempersiapkan penyemprot air bagi para jemaah untuk digunakan selama di sana. 

“Kita menyiapkan semprotan air, itu juga sesuatu yang praktis, untuk mendinginkan dan untuk minum. Ini air matang atau bisa air zam-zam, jadi dia bisa multi fungsi,” katanya.

“Kemenag juga mengatakan akan menyiapkan air ketika Wukuf di Arafah, itu 1 orang dapat 3 liter. Itu juga sudah suatu kemajuan, dari kebutuhan minimal sudah terpenuhi,” ujar Fidiansjah. —Rappler.com 

BACA JUGA: