Jenderal polisi purnawirawan jadi korban kebakaran RS Mintoharjo

JAKARTA, Indonesia – (UPDATED) Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Mintoharjo terbakar pada Senin, 14 Maret, diduga akibat korsleting listrik. Si jago merah menyambar ruang tabung bangsal Pulau Miangas Gedung Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) lama di rumah sakit.

Akibatnya muncul asap putih lebat dan pasien yang berada di dalam tabung terbakar sehingga tidak dapat diselamatkan.

Keempat korban diketahui bernama:
1. Irjen Polisi Purn Abubakar Nataprawira
2. Edi Suwandi
3. dr. Dimas
4. Sulistyo

Peristiwa kebakaran bermula pada pukul 11:30 WIB ketika sedang dilakukan sesi terapi. Dokter memasang tekanan di ruang tersebut dengan tekanan 2,4 atmosfir.

"Lalu, pada sekitar pukul 13:00 ketika tekanan baru mulai dikurangi menuju 1 atmosfir terlihat percikan api di dalam chamber. Operator dengan cepat membuka fire system tetapi, api dalam bangsal secara cepat langsung membesar dan tekanan dalam chamber naik dengan cepat," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama M. Zainudin melalui pesan pendek pada Senin, 14 Maret.

Terapi hiperbarik yang dilakukan di RS TNI AL Mintoharjo. Terapi tersebut sudah dipraktikan sejak tahun 2013 lalu. Foto: RS TNI AL Mintoharjo

Safety valve terbuka dan menimbulkan ledakan. Api bisa dipadamkan pada pukul 14:00, tetapi, korban tidak dapat diselamatkan. Keempat korban kemudian dievakuasi ke kamar jenazah RS TNI AL Mintoharjo.

Sementara, petugas dan penunggu yang ada di kamar udara bertekanan tinggi (KUBT) langsung dievakuasi ke ruang gawat darurat rumah sakit. Mereka diberikan perawatan intensif akibat terlalu lama menghirup asap.

Pihak Puslabfor Polri bersama Pomal kini tengah melakukan olah TKP. Saat ini belum bisa diambil kesimpulan mengenai penyebab kebakaran.

Minta maaf

Dalam jumpa pers yang dilakukan hari ini, Laksamana Pertama M. Zainudin mewakili TNI Angkatan Laut meminta maaf kepada publik atas insiden tragis tersebut. Dia mengatakan rumah sakit tidak pernah mengalami kejadian ini sejak terapi hiperbarik dilakukan tahun 2013 lalu.

"Selama ini belum mengalami kecelakaan apa pun. Ini bukan harapan kami, oleh sebab itu kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas peristiwa ini," ujar Zainduin. 

Dia menjelaskan saat peristiwa itu terjadi, tabung instalasi barik diisi empat pasien. Keempat pasien saat itu tewas saat terjadi kebakaran.

Pejabat polri beralih jadi politisi

Abubakar Nataprawira diketahui pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Humas Mabes Polri hingga akhirnya pensiun pada 1 Juli 2009. Sebelum berkantor di Trunojoyo, Abubakar pernah menjadi Kapolres Jakarta Pusat ketika terjadi kerusuhan pada tahun 1998 lalu.

Posisi Abubakar sebagai Kadiv Humas diisi oleh Komisaris Jenderal (Purn) Nanan Soekarna. Saat upacara serah terima jabatan kepada Nanan, Abubakar berpesan agar Nanan bekerja lebih baik daripada dirinya. Hubungan yang dijalin Abubakar dengan wartawan tergolong dekat.

"Hubungan yang sudah ia bina selama ini dengan wartawan, sudah sepatutnya diteruskan oleh Kadiv Humas yang baru. Selama saya jadi Kadiv Humas Mabes Polri, terima kasih atas kerjasama dan dukungan rekan-rekan wartawan," ujar almarhum seperti dikutip laman hukumonline.com.

Usai tak lagi menjadi petinggi Polri, Abubakar merambah dunia politik dengan Ketua Dewan Perwakilan (DPW) Partai Nasional Demokrat Provinsi Baten menggantikan Wawan Iriawan pada tahun 2013. Ketika itu, Abubakar mengatakan di bawah kepemimpinannya tidak akan ada faksi-faksi partai. 

"Partai ini bukan milik si A, B atau C semuanya pengurus harus solid. Kita tidak ingin ada persaingan antar bacaleg, pesaing kita itu adalah partai politik lain,” ujar Abubakar. 

Terapi perdana

Selain Abubakar, pasien lainnya yang dikenal publik dan ikut tewas adalah Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo. Saat datang ke rumah sakit, Sulistyo menjalani terapi hiperbarik perdananya.

"Pak Sulis baru pertama kali menjalani terapi oksigen terapi oksigen murni ini," ujar Kepala Dinas Kesehatan TNI AL, Kolonel Kesehatan Lukman di tempat yang sama.

Sulis yang juga menjadi anggota DPD itu mengikuti terapi hiperbarik karena mengikuti saran dari dokter pribadinya. Namun, naas, dia tewas dalam peristiwa ledakan yang diakibatkan percikan api tersebut.  dengan laporan ANTARA/Rappler.com

BACA JUGA: