Apa kata Krishna Murti soal tudingan rekayasa Bom Sarinah?

JAKARTA, Indonesia — Suara khas Robert Smith mengalun dari sebuah ponsel milik seorang polisi di ruangan Kepala Polisi Daerah Inspektur Jenderal Tito Karnavian di lantai dua gedung utama, Kamis pagi, 21 Januari. 

Friday, I’m in love,” nyanyi vokalis The Cure it. 

Di saat bersamaan, seorang pria berdada tegap dengan seragam biru dan celana coklat muda melintas. Ia adalah Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti yang sempat menjadi buah bibir belakangan ini. 

Selain karena aktivitasnya saat mengerahkan anggotanya dalam peristiwa penembakan dan peledakan bom di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu, juga karena aktivitasnya di media sosial. 

Krishna dikenal karena kerap memperbarui status Facebook-nya. Mulai dari rapat dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) hingga menjawab tudingan tentang rekayasa bom Sarinah.  

Salah satunya, ia sempat membantah spekulasi yang menyatakan bahwa penyerangan dan pengeboman di Jalan Thamrin adalah rekaan (settingan) polisi.

Pada statusnya ia menulis, "Pak NP; saya tidak perlu menjelaskan kenapa kami cepat ke TKP. Cukup FB Bu Nita Triyana yang bercerita."

Tudingan adanya rekayasa bom Sarinah itu datang dari Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane dalam sebuah diskusi, pada Selasa, 19 Januari. Neta oleh Krishna disingkat dengan inisial NP. 

Dalam pernyataannya, Neta menyatakan, ada lima kejanggalan dalam insiden itu. Salah satunya mempertanyakan mengapa Krishna dan timnya begitu cepat tiba di lokasi kejadian — dan sudah mengenakan rompi anti-peluru. 

Postingan di atas bukan pertama kalinya, atau satu-satunya, Krishna mengunggah status terkait serangan di Jalan Thamrin itu.

Lalu, apa jawaban Krishna atas tudingan itu? 

“Kan kita polisi Polda Metro Jaya. Enggak mungkin kan Densus 88 sudah ada di sana. Kita gerak cepat," katanya kepada Rappler, pagi ini.

Mengapa Krishna curhat di media sosial? 

“Saya hanya memperbarui status saja. Saya tidak curhat. Tidak juga menjawab. Bahkan saya juga tidak membaca komentarnya,” ujarnya. 

Kemudian, haruskah pertanyaan itu dijawab melalui media sosial? 

“Ya, saya ingin menunjukkan bahwa polisi itu tidak hanya seperti yang digambarkan di televisi, memakai kekerasan, ada juga yang soft,” kata Krishna sembari melempar senyum, dan menatap ke polisi jaga yang sedang asyik menikmati lantunan lagu band asal Inggris sepanjang pagi ini.  

Pagi itu, gedung utama Kapolda serasa studio rekaman, bukan kantor polisi. Percakapan singkat Rappler dengan Krishna pun berakhir di tengah lantunan lagu-lagu The Cure. —Rappler.com

BACA JUGA: