Kronologi hilangnya gadis 9 tahun hingga ditemukan di dalam kardus

JAKARTA, Indonesia — Jarum jam berada di angka 3. Adzan salat Ashar pun sudah berkumandang dari musala di kawasan RT 06/07, Kalideres, Jakarta Barat.

Di dalam rumah, AS dan istrinya, IF, was-was. Semakin sore, sang anak, PNF, 9 tahun, belum kembali dari sekolahnya pada Jumat, 2 Oktober 2015. 

Padahal, anaknya yang duduk di kelas IV sebuah Sekolah Dasar Negeri di Kalideres itu seharusnya sudah pulang sebelum jam 12:00. AS dan IF pun gelisah. Apalagi setelah mendengar cerita dari keponakannya, KT (11).

KT yang satu sekolah dengan PNF ini menceritakan dia mengajak pulang sepupunya. "(PNF) enggak mau bareng, dia bilang mau ke rumah teman," kata KT di rumah duka, Sabtu, 3 Oktober.

KT curiga. Dia pun mengikuti PNF sampai di depan Kantor Kelurahan Kalideres. Namun, kata dia, PNF menyadari diikuti oleh KT dan langsung lari ke dalam sebuah gang.

KT ikut berlari. Namun, usahanya sia-sia karena PNF hilang karena masuk ke dalam gang-gang. "Saya lapor ini ke om saya, (AS)," kata KT.

Usai mencari, AS tak mencapai titik temu. Ia pun mengadu ke Ketua RW, AH. AH membenarkan menerima aduan dari AS dan IF. Lalu meminta mereka melaporkan kehilangan anaknya ke Kepolisian Sektor Kalideres 

Usai melapor, AS dan IF kembali ke rumah. "Mereka tidak bisa tidur semalaman," kata AB, paman Putri.

Hari berganti. Sang anak belum kembali. Namun, sekitar pukul 09:00 WIB Sabtu pagi, kata AB, pihak polisi memberi kabar ke keluarga. "Kabarnya buruk, (PNF) ditemukan tewas dalam kardus," kata AB. 

"Ibu (PNF) langsung pingsan."

Kepala Kepolisian Sektor Kalideres Komisaris Darmawan Karosekali mengatakan polisi mendapat laporan dari warga ihwal penemuan jenazah dalam kardus di Jalan Sahabat, RT 05/05 Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat. 

Saat ditemukan, kata Darmawan, kondisi kardus menyerupai paket dan dililit oleh lakban. "Warga membukanya sedikit, dan isinya mayat. Lalu dia kabur dan lapor ke kami," katanya.

Menurut Darmawan, saat ditemukan, kondisi PNF itu tertekuk dengan posisi tangan dan kaki terikat di dada dan mulut dilakban. 

"Saat itu kami belum tahu identitas. Namun, setelah menyocokkan ada laporan anak yang hilang, kami panggil keluarganya dan benar jenazah itu PNF," kata Darmawan.

Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan hasil pemeriksaan sementara ditemukan bekas luka cekikan dan luka lebam di seluruh tubuh. 

"Dugaan kematian korban karena cekikan pada leher," kata Krishna, Minggu.

Pihak keluarga, kata AB, kehilangan keceriaan PNF. Karena, kata dia, saat di rumah dia sering membantu tante dan nenek yang tinggal bersamanya.

 "Jika pelaku ketemu, keluarga ingin bertanya, kenapa bisa bertindak sekeji ini?" katanya. "Semoga dihukum berat.”

KT pun tak menyangka, hari-hari ke depan, dia akan pergi ke sekolah seorang diri. "Biasanya bareng (PNF)," kata KT. —Rappler.com

BACA JUGA: