Kualitas data produksi jadi tantangan stabilisasi harga pangan

JAKARTA, Indonesia — Stabilisasi harga pangan menjadi salah satu poin yang diangkat pemerintah dalam paket ekonomi jilid sembilan yang diluncurkan oleh pemerintah kemarin, Rabu, 27 Januari.. 

Presiden Joko "Jokowi" Widodo telah menugaskan Menteri Perdagangan Thomas Lembong dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk mengambil langkah-langkah dan merancang strategi yang dibutuhkan, guna menekan harga sejumlah komoditas pangan yang berdasarkan data Kementerian Perdagangan mulai bergerak naik belakangan ini

Menurut ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal, belum efektif dan efisiennya rantai distribusi masih menjadi salah satu penyebab tak stabilnya harga pangan.

"Saya rasa ini masalah distribusi," kata Fithra kepada Rappler, Kamis, 28 Januari. 

Persoalan dalam rantai distribusi pangan di Tanah Air memang beragam mulai dari indikasi keberadaan kartel pangen hingga kualitas infrastruktur.

Namun demikian, menurut Fithra, ada satu persoalan penting lain di luar bermasalahnya rantai distribusi yang juga berpengaruh terhadap tak stabilnya harga pangan kita: Data produksi pangan yang tidak andal. 

"Sejauh ini, pemerintah masih belum satu suara mengenai data produksi. Ada yang bilang cukup, tapi ada yang bilang tidak. Untuk produksi beras, misalnya, para pencatat masih sangat tergantung pada pandangan mata per petak sawah dan tidak presisi," kata Fithra.

"Untuk daging sapi, yang dihitung adalah populasi sapi padahal yang paling penting adalah kepemilikannya, apakah dimiliki perorangan atau industri. Dan masih banyak lagi contoh data produksi yang harus diperbaiki," ujarnya.

Tanpa data produksi yang andal, sulit bagi pemerintah untuk menyelaraskan sisi pasokan dan permintaan komoditas pangan. Hal ini akan berujung pada tak stabilnya harga. —Rappler.com

BACA JUGA: