Tottenham Hotspur vs Leicester City: Si Rubah tanpa gairah

JAKARTA, Indonesia — Anomali di Liga Primer tampaknya tak akan terulang lagi. Musim sepak bola di Negeri Ratu Elizabeth tersebut sudah kembali normal. Tim-tim besar mulai berbenah dan para pemburu gelar juara kemungkinan adalah tim yang itu-itu saja.

Salah satu tandanya, Leicester City, sang juara di musim “pancaroba” Liga Primer lalu, tak lagi menunjukkan dahaga yang sama. Mereka tak lagi lapar gelar. Tim berjuluk The Foxes itu justru mengalihkan prioritas di Liga Champions. 

Pasukan Claudio Ranieri itu sudah memastikan lolos ke ronde kedua ajang  paling bergengsi di Eropa tersebut bahkan sebelum semua laga fase grup rampung. Kemenangan atas Copenhagen 1-0 melanjutkan tren sempurna mereka. Tiga kemenangan dalam tiga laga!

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan tren mereka di level domestik. Dalam 9 laga Liga Primer, Wes Morgan dan kawan-kawan hanya menang 3 kali dan kalah justru 4 kali.

Padahal, sepanjang liga musim lalu mereka hanya kalah 3 kali. 

Ranieri menolak anggapan bahwa mereka tidak serius di Liga Primer. Dalam beberapa kesempatan, dia mengatakan bahwa Liga Primer tetap jadi prioritas.

“Kami hanya belum menemukan kemenangan,” katanya seperti dikutip Telegraph.

Munculnya anggapan tersebut tidak salah. Sebab, mereka memang tak lagi bermain seperti musim lalu. Bertahan bagai tembok dan menyerang cepat seperti kilat. Leicester kini tak lagi ngotot. Ada kegairahan yang hilang. 

Jamie Vardy yang musim lalu menjadi mesin gol kini hanya mencetak 2 gol. Jumlah golnya sama dengan striker Islam Slimani. Padahal, Slimani hanya seorang “anak baru” di King Power Stadium. Bukan level Vardy. 

Ranieri sudah beberapa kali menyindir performa Vardy yang menurun itu. Manajer asal Italia itu bahkan tidak memasangnya saat melawan Crystal Palace dalam matchday kedelapan Leicester—meski mereka tetap menang 3-1. 

Dalam matchday kesepuluh melawan Tottenham Hotspur, Sabtu, 29 Oktober pukul 21.00 WIB, situasi bisa semakin buruk jika kegairahan dan dahaga kemenangan belum juga mereka temukan. 

Apalagi, Spurs bakal bermain di White Hart Lane dengan semangat berlipat. Ini bukan laga biasa bagi mereka. Musim lalu, pasukan Mauricio Pochettino itu tinggal beberapa langkah dari gelar juara. Mereka menjadi satu-satunya penantang pemuncak klasemen Leicester saat itu. 

Only Spurs (54) have collected more #PL points than Leicester (53) during 2016 #TOTLEI pic.twitter.com/mmUWenolkh — Premier League (@premierleague) October 29, 2016

Namun, kekalahan 0-1 atas klub milik konglomerat Thailand itu membuat mimpi meraih gelar harus menguap.

“Saya tak pernah bahagia dengan gelar yang mereka dapatkan,” kata Pochettino. 

Selain itu, tim berjuluk The Lilywhites tersebut sedang berupaya kembali ke jalur kemenangan. Sudah empat laga di semua ajang berlalu tanpa kemenangan. Kekalahan terakhir bahkan sangat menyakitkan. Mereka dikirim Liverpool pulang dari Piala Liga setelah kalah 1-2.

Catatan performa terakhir kedua tim juga mengunggulkan Spurs. Musim ini, rival abadi Arsenal itu belum pernah sekalipun kalah di Liga Primer. Pertahanan tim London Utara itu juga yang paling solid. Mereka hanya kebobolan 4 gol.

Kondisi tersebut sejatinya membuat Ranieri waspada. Mantan pelatih Juventus, Inter Milan, dan Chelsea itu mengatakan bahwa bakal ada yang berbeda dari bentrok mereka kali ini.

“Mereka punya alasan kuat untuk mengalahkan kami kali ini,” kata Ranieri. 

Situasi Leicester semakin rentan karena kinerja pertahanan mereka adalah salah satu yang terburuk di Liga Primer. Mereka adalah satu dari 5 tim paling banyak dibobol. Total jumlah kebobolan mereka mencapai 15 gol.

“Justru Tottenham adalah tim yang lebih lapar dari kami. Mereka tak pernah kalah dan pasti akan menjaga rekor tersebut,” katanya.—Rappler.com