Makna haji: Tak ada Islam tanpa berhaji


Siapa tak kenal Nabi Ibrahim as? Tidak hanya satu, bahkan ada tiga umat beragama yang mengklaim beliau. Ada yang menyebut Yahudi, Nasrani dan Islam sebagai ‘
Abrahamic faiths’, yang maknanya adalah bahwa ketiga agama ini berasal dari Nabi Ibrahim as. Akan tetapi, baik Yahudi dan Nasrani sama-sama tidak melestarikan warisan sunnah beliau, yaitu beribadah di Ka’bah yang beliau muliakan, atau menyembelih hewan qurban sebagaimana yang beliau lakukan.

Al-Qur’an sendiri telah jauh-jauh hari bersikap tegas dengan menyatakan bahwa beliau bukanlah seorang Yahudi, bukan pula seorang Nasrani, melainkan Muslim yang
hanif, dan beliau tidak pernah menyekutukan Allah SWT (QS. 3:67).

Ketika berdakwah kepada kaum Yahudi dan Nasrani, Rasulullah saw dan para sahabatnya selalu mengingatkan mereka untuk kembali pada ajaran para Nabi terdahulu. Ja’far ibn Abu Thalib ra, misalnya, ketika beraudiensi dengan Najasyi, Sang Raja Habasyah (Ethiopia) yang beragama Nasrani, menjelaskan Islam dengan membacakan Surah Maryam. Lantunan ayat dari lisan Ja’far ra membuat Najasyi menangis tersedu-sedu dan mengatakan bahwa wahyu yang baru saja dibacakannya itu sumbernya sama dengan ajaran Nabi Isa as.

Demikian pula Nabi Muhammad saw seringkali mengajak kaum Yahudi untuk kembali menengok ajaran Nabi Musa as yang sesungguhnya, karena para Nabi dan Rasul diutus oleh Dzat yang sama, yaitu Allah SWT. Tentu saja, salah satu langkah yang paling strategis untuk menimbulkan kesepahaman dengan kaum Yahudi dan Nasrani adalah dengan mengenang kembali ajaran Nabi Ibrahim as.

Lebih dari empat belas abad lamanya, umat Muslim telah membuktikan komitmennya kepada ajaran Nabi Ibrahim as. Setelah Hijrah, Allah SWT memerintahkan berpindahnya kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, tempat berdirinya Ka’bah yang pondasinya ditinggikan oleh ayah dan anak yang sama-sama mulia, yaitu Nabi Ibrahim as dan Nabi Isma’il as. Meski kiblat tidak lagi di Masjidil Aqsha, namun kecintaan umat kepadanya tidak berkurang.

Umat Muslim setiap tahunnya juga berbondong-bondong pergi berhaji ke Baitullah, sementara yang tidak pergi berhaji pada saat yang bersamaan menyembelih hewan kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak seorang pun lupa bahwa ibadah kurban ini adalah dalam rangka meneruskan sunah Nabi Ibrahim as, yaitu ketika beliau menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Isma’il as. Betapa pun beratnya perintah, Nabi Ibrahim as adalah hamba-Nya yang berkomitmen, dan Nabi Isma’il as adalah hamba-Nya yang sangat bersabar. Ketika penyembelihan hampir terjadi, Allah SWT menggantikan Nabi Isma’il as dengan seekor domba.

Begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari ibadah haji. Inilah ibadah yang membutuhkan ilmu, kesiapan fisik dan kemapanan finansial sekaligus. Meskipun Haji tidak sama dengan jihad, namun jauh dan beratnya perjalanan membuat setiap orang yang pergi berhaji tidak bisa memastikan ia bisa pulang ke kampung halamannya. Banyak orang menemui ajalnya dalam ibadah Haji, dan seluruh jemaah Haji memahami betul risiko ini. Apapun itu, tidak ada yang bisa menyurutkan semangat umat Muslim untuk menunaikan salah satu bagian dari Rukun Islam ini.

Di masa lampau, pemerintah Kolonial Belanda tidak hanya memandang haji sebagai ibadah semata, melainkan juga mencermati implikasi politisnya. Snouck Hurgronje, orientalis terkemuka yang menjadi penasihat penguasa kolonial dahulu, menyatakan bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik.

Belanda kemudian menyimpulkan bahwa perlawanan umat Muslim di Indonesia terhadap kolonialisme digerakkan oleh ‘kaum fanatik’ yang telah pergi berhaji, apalagi kaum ulama yang sempat menuntut ilmu di Arab. Akibatnya, ada masa-masa di mana pemerintah Belanda mempersulit keberangkatan ibadah haji dari Indonesia, bahkan banyak usulan untuk melarangnya secara total. Hurgronje mengusulkan pendekatan yang lebih ‘lunak’, namun Konsul Belanda di Jeddah menjadi pusat pengawasan umat Muslim Indonesia yang datang ke Arab Saudi dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya.

Sejarah membuktikan bahwa kekhawatiran Belanda memang sangat beralasan. Para ulama besar Indonesia banyak yang belajar di Arab Saudi. KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sama-sama belajar di Arab Saudi. Mereka berdua sama-sama menuntut ilmu dari Sang Imam Masjidil Haram pada masa itu, yang juga berdarah asli Indonesia, yaitu Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Dari rahim Muhammadiyah-lah ‘lahir’ tokoh sekaliber Jendral Sudirman, sedangkan NU melahirkan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang membakar semangat perlawanan rakyat Indonesia, antara lain dalam pertempuran besar 10 November 1945 di Surabaya dengan Bung Tomo sebagai tokoh utamanya. Ketika Republik Indonesia belum lagi memperoleh pengakuan kedaulatannya di dunia internasional, para mahasiswa dan pemuda Indonesia di negara-negara Arab telah ‘bergerilya’ dan berhubungan rapat dengan para ulama di sana. Sehingga kelak dari negeri-negeri di Timur Tengah itulah Indonesia untuk pertama kalinya mendapatkan pengakuan.

Meski hal-hal tersebut tidak secara spesifik berkaitan dengan ibadah haji, namun tak pelak lagi menunjukkan bahwa sejak dahulu telah tertanam rasa persatuan dan senasib-sepenanggungan antara umat Muslim di seluruh dunia, baik di Nusantara maupun yang di Arab, atau pun di belahan dunia lainnya. Perasaan sebagai umat yang besar inilah yang dibawa pulang oleh segenap Muslim dari ibadah haji, baik yang ulama maupun yang rakyat biasa, sehingga tiba-tiba saja kekuatan kolonialisme terlihat kecil.

Mereka tahu bahwa umat Muslim di mana pun bersaudara, meski negerinya dipisahkan oleh samudera luas. Mereka tidak merasa ‘sendirian’, sebab di negeri mana pun mereka berada, mereka senantiasa mendapat pembelaan dari saudara-saudaranya. Dari perasaan inilah tumbuhnya semangat perlawanan, dan dari sini pula kemerdekaan negeri besar ini berasal. Itulah sebabnya para pendiri bangsa ini tak bisa tidak mencantumkan kata-kata yang sangat agung dalam Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa...

Betapa agungnya ibadah haji yang setiap tahunnya bagai magnet menarik umat Muslim dari seluruh penjuru dunia. Ibadah ini mengumpulkan mereka di satu tempat yang sama, melantunkan doa bersama, mendirikan shalat bersama, thawaf dan wukuf bersama, mengenang kepahlawanan para Nabi dan Rasul terdahulu, serta menghayati persaudaraan dalam arti yang sesungguhnya. Mereka pergi ke Tanah Suci dengan memahami betul risiko yang mesti dihadapi, mulai dari iklim yang tak familiar hingga yang benar-benar ekstrem, atau musibah yang tak pernah bisa diramal kapan dan bagaimana datangnya. Sepulang dari Tanah Suci, mereka bisa bercerita kepada kerabat dan handai taulan: “Kita punya banyak saudara di luar sana. Kita tidak dipersaudarakan oleh ras atau warna kulit, tidak pula kebangsaan dan bahasa, namun oleh Islam.”

Amat disayangkan jika kini ada anak bangsa yang begitu buta sejarahnya sehingga tidak memahami sumbangsih umat Muslim terhadap bangsa ini. Lebih mengenaskan lagi jika ada Muslim yang tidak memahami betapa agungnya ibadah haji dan menganggap bahwa ia tidak lebih dari sebuah pemborosan, sementara ada begitu banyak jenis pemborosan yang sesungguhnya dengan nilai yang jauh lebih besar yang dilakukan oleh anak-anak bangsa ini.

Memang sampai kapan pun selalu ada peluang terjadinya masalah, mulai dari perumusan jumlah kuota, kelengkapan fasilitas, masalah manajemen, musibah, termasuk juga perilaku selfie berlebihan yang dikhawatirkan merusak kesakralan ibadah, namun semua itu bukan alasan untuk mengecilkan arti ibadah ini. Sampai kapan pun, ibadah haji akan senantiasa tertera dalam Rukun Islam, dan tak ada Islam tanpa berhaji. -Rappler.com

Akmal Sjafril adalah seorang penulis lepas, peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), aktivis gerakan #IndonesiaTanpaJIL dan pengajar di Sekolah Pemikiran Islam (SPI). Dia bisa disapa di twitternya @malakmalakmal.