Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Cinta itu buta: Masalah keuangan yang menyebabkan pasangan bercerai

Satu dari 10 pernikahan di Indonesia berakhir dengan perceraian, setidaknya berdasarkan data dari Kementerian Agama di tahun 2014. 

Data yang dilansir Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (MA) menyebutkan, dari 285.184 perkara perceraian, sebanyak 67.891 kasus (24%) karena masalah ekonomi, disusul oleh masalah perselingkuhan sebanyak 20.199 kasus (7%), serta 2.191 kasus (3%) karena kekerasan dalam rumah tangga.

Mengingat permasalahan utama berkaitan dengan uang, waspadai beberapa masalah berikut yang bisa menyebabkan pasangan bercerai:

‘Uangmu adalah uangku’

Perilaku ini mungkin tidak bermasalah saat Anda masih lajang, tapi ketika dua orang menikah, hal ini bisa berpotensi merusak sebuah hubungan.

Yeni (37 tahun) seorang ibu satu anak, nyaris mengakhiri pernikahannya karena masalah kemandirian ini.

“Dari pacaran sampai nikah dengan 3 anak, saya dan suami jalan masing-masing soal keuangan. Dia enggak pernah memberikan gajinya ke saya, dan saya pun enggak pernah minta uang ke dia karena punya penghasilan sendiri,” kata Yeni.

“Konsekuensinya, kami saling lempar tanggung jawab untuk pengeluaran besar keluarga seperti servis mobil, uang pangkal sekolah anak, dan lain lain. Akibatnya, kami saling menyalahkan dan puncaknya saya hampir saja menggugat cerai karena masalah menjadi semakin besar,” ujarnya.

Ia dan suaminya kini tengah menjalani mediasi dan mencari jalan keluar terbaik untuk mempertahankan pernikahan mereka.

Menganggap keuangan rumah tangga sebagai “uang bersama” adalah awal yang baik untuk mencapai target keuangan keluarga.

Tidak ada transparansi

Widyanto (49) telah menikah selama hampir 15 tahun dan mempercayakan pengelolaan keuangan sepenuhnya kepada sang istri. Meski istrinya bekerja paruh waktu, namun ia tidak tahu berapa besar penghasilannya dan tidak pernah menanyakannya. Menurutnya, sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Namun, ia sering merasa kesal ketika istrinya mengeluh kekurangan uang, padahal tunjangan yang diberikannya setiap bulan dari gajinya sebagai manajer di hotel berbintang tidaklah kecil. Gaya hidupnya juga sederhana, dengan rumah di pinggiran Jakarta, mobil standar kelas menengah, dan jarang bepergian.

“Kalau saya hitung di atas kertas, malah seharusnya masih ada sisa paling tidak 20%-30% buat diinvestasikan. Tapi boro-boro investasi, dana darurat aja kami tidak punya. Tiap kali ia mengeluh uangnya kurang, saya selalu minta buktikan dengan laporan keuangan. Tapi ia selalu mengelak dengan alasan tidak sempat, atau malah balik menyerang bahwa saya telah menuduhnya, tidak percaya, dan sebagainya,” keluh Widyanto.

Bersikap transparan terhadap penghasilan dan pengeluaran akan membangun kepercayaan terhadap sebuah hubungan. Sebuah laporan keuangan sederhana untuk pasangan Anda sebenarnya cukup – isinya total jumlah penghasilan per bulan dikurangi pengeluaran.

Perbedaan tujuan keuangan

Alin (33) dan Ino (35) sangat bertolak belakang. Alin hobi traveling, sedangkan Ino anak rumahan. Sebenarnya tidak masalah, hingga suatu hari Ino marah besar karena uang bonus yang mestinya dipakai untuk merenovasi rumah, dipakai habis oleh Alin untuk membeli tiket liburan sekeluarga ke luar negeri.

“Maksudnya sih, saya mau kasih surprise buat ulang tahunnya, tapi ternyata ia malah marah”, kata Alin, mengenang insiden yang terjadi 5 tahun lalu.

Menurut Ino, ia marah karena ada kebutuhan renovasi rumah yang lebih mendesak saat itu, tapi uang mereka malah dipakai untuk hal lain yang kurang perlu. Setelah itu, keadaan di antara mereka sempat tegang selama beberapa minggu.

Lain lagi cerita Intan (30) yang begitu ambisius dengan perencanaan masa depan hingga porsi investasinya mencapai 60% dari pendapatan bersama. Prinsip “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” dijalankannya dengan berlebihan hingga suaminya tidak tahan mengikutinya.

“Oke lah kalau kita sudah sangat sejahtera, 40 persen dari pendapatan mungkin sudah cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Tapi kami ini masih kelas menengah yang berjuang untuk memperbaiki taraf hidup,” keluh karyawan swasta berusia 34 tahun tersebut.

Setelah menyadari bahwa mereka selalu berargumen panas tentang uang, mereka memutuskan untuk memakai jasa seorang perencana keuangan independen sejak 1,5 tahun lalu, yang ternyata cukup efektif dalam menyatukan perbedaan tujuan keuangan mereka berdua. —Rappler.com

Tulisan di atas berasal dari LiveOlive, sebuah situs yang membekali perempuan Indonesia dalam hal pengelolaan keuangan pribadi.

BACA JUGA: