Menanti kebangkitan film nasional sesungguhnya

Sampai bulan ketiga 2016, sederet film Indonesia berkualitas sudah dirilis di jaringan-jaringan bioskop. Selain London Love Story, yang sudah menembus 1 juta penonton; Talak 3; Surat dari Praha; dan A Copy of My Mind, juga menjadi film-film nasional yang sukses mendapat kritik dan respons positif.

Berdasarkan data dari Film Indonesia (per 3 Maret 2016, red), Talak 3 mampu memperoleh jumlah penonton sebanyak 566.615. Sementara Surat dari Praha dan A Copy of Mind, masing-masing menggaet 62.343 dan 50.273 penonton.

Secara kuantitatif, angka-angka tersebut cukup menjanjikan. Namun, apakah benar 2016 bisa melahirkan momentum film nasional untuk kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Mari kita telaah.

Menurut Joko Anwar, sutradara A Copy of My Mind, apa yang terjadi di kuartal pertama 2016 bukanlah momentum kebangkitan film nasional. “Bukan seperti itu situasinya. Faktanya, Indonesia tidak pernah kehabisan film berkualitas kok,” tutur Joko kepada Rappler.

“Setiap tahun selalu ada film bagus, tapi kurang berhasil mendapat penonton. A Copy of My Mind lumayan mendapat atensi, karena film ini sudah tayang di beberapa festival film internasional, seperti Venice dan Toronto. Media-media pun sudah banyak memberitakan, jadi kami cukup terbantu,” ujar filmmaker berusia 40 tahun itu.

Ia mengatakan, belum adanya model market study alias studi pemasaran yang cukup mumpuni, menjadi alasan utama kegagalan film-film nasional mengeruk penonton layaknya film-film produksi luar negeri. Selain itu, penurunan jumlah penonton ke bioskop juga jadi alasan lain.

Film Indonesia dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melansir, setidaknya sempat ada 16 juta penonton bioskop pada 2012. Tapi, angka ini kemudian menurun sampai 14,1 juta penonton pada 2014.

Faktor latah?

Senada dengan argumen Joko, pengamat film senior, Noorca Massardi, menyebutkan apa yang terjadi di awal 2016 bukanlah suatu momen yang perlu dibesar-besarkan. Menurut Noorca, hal ini hanya bagian dari siklus yang terjadi di ranah perfilman nasional Indonesia. Sebentar di atas, sebentar di bawah.

Pria yang juga berprofesi sebagai novelis itu meyakini siklus tersebut masih akan terus terjadi dalam kurun waktu cukup lama. 

“Saya sih melihatnya karena ada faktor ‘latah’. Saat ada film dengan tema tertentu sukses, berikutnya yang terjadi adalah banyaknya film-film sejenis menyusul,” kata Noorca.

“Sebagai contoh terkini, saat film biopik Habibie & Ainun (2012) dirilis. Mendadak, semuanya bikin film biopik. Mulai dari Soekarno, Jenderal Sudirman, sampai Jokowi. Tapi, karena tidak diproduksi secara baik, hasilnya pun jadi tidak baik. Akibatnya, kepercayaan penonton kembali berkurang,” ujarnya.

Sebagai penikmat film nasional, saya sangat setuju dengan pendapat Joko dan Noorca. Harus diakui, jarang bisa menemukan film nasional berkualitas. Meskipun secara kuantitas, Indonesia tidak pernah kehabisan stok film.

Di mata pribadi, kebangkitan film nasional sebetulnya sudah ditandai pada 2000, saat film keluarga produksi Miles Film, Petualangan Sherina, dirilis. Dua tahun kemudian, mimpi saya terhadap film-film nasional berkualitas kembali hadir lewat film drama percintaan remaja, Ada Apa dengan Cinta? (AADC?), yang juga merupakan produksi Miles Film. 

Kala itu, AADC? mampu meraih 2.170.390 penonton.

Akan tetapi, mimpi tersebut tidak berjalan langgeng. Bak roda yang tengah berputar, nasib film nasional pun turut mengalami perputaran dari waktu ke waktu. Ada masa di mana film-film nasional yang dirilis mempunyai kualitas baik, ada juga masa sebaliknya.

Akibatnya, saya, dan mungkin jutaan penikmat film nasional lainnya, terpaksa harus puas menonton film-film produksi luar negeri saja dan kembali merindukan lahirnya film-film nasional berkualitas.

Peran penonton

Kendati masih terus fluktuatif, Sekar Sari, aktris pemeran Siti di Film Terbaik FFI 2015, SITI, mengaku optimistis penonton-penonton Indonesia akan semakin bisa memilah film dengan cerdas dan tidak asal ikut arus.

“Saya rasa, hal ini juga banyak didukung oleh banyaknya ruang-ruang pemutaran film alternatif dan juga diskusi film,” kata Sekar.

Diakui mahasiswi Candidate Master Choreomundus — International Master on Dance Knowledge, Practice, and Heritage, London, Inggris, itu, penonton juga berperan besar dalam menentukan nasib film nasional. Baik dari sisi komersil dan bisnis, maupun dari sisi apresiasi dan kritisi.

“Karena sinema bukan komunikasi satu arah saja, yaitu dari filmmaker ke penonton. Tapi juga dua arah. Jadi, saran saya, tontonlah film. Kalau bagus diapresiasi, kalau jelek, ya dikritisi. Dengan begitu akan ada diskusi,” ujarnya.

Sayangnya, belum terlalu banyak agenda diskusi film nasional yang digelar di Tanah Air. Meski belakangan ini, sudah ada filmmaker yang menggelar forum tersebut. Salah satunya ialah Joko Anwar, yang rajin mengadakan diskusi film terbarunya, A Copy of My Mind, di sejumlah tempat di Tanah Air.

Diakui sutradara yang juga melahirkan karya-karya seperti Janji Joni, Arisan!, dan Modus Anomali itu, diskusi setelah menonton film mempunyai tujuan memberi literasi penonton terhadap perfilman secara luas. 

“Tapi, diskusi tidak ada hubungannya dengan sukses tidaknya sebuah film. Untuk mendapatkan penonton, itu tetap tugas marketing,” ujarnya.

Bila kembali dikaitkan ke model studi pemasaran yang belum cukup mumpuni tadi, sepertinya kebangkitan film nasional sesungguhnya masih menjadi sesuatu yang harus kita nantikan bersama. Di mana suatu produksi film nasional berkualitas bisa berjalan beriringan dengan kuantitas jumlah penonton yang didapat dari model market study tepat. —Rappler.com

Faya Suwardi adalah wartawan lepas (freelance) di Jakarta yang menikmati perkembangan berita olahraga, hiburan, dan traveling.

BACA JUGA: