Menhub Jonan: Kemacetan tidak mungkin menyebabkan orang meninggal

JAKARTA, Indonesia - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meragukan pemberitaan yang menyebut sebanyak 12 pemudik meninggal akibat terjebak kemacetan selama berjam-jam di Tol Pejagan. Bahkan, arus kendaraan mengular hingga sepanjang 18 kilometer hanya supaya bisa keluar melalui pintu Tol Brebes Timur atau yang dikenal Brexit.

Menurut Jonan, tidak mungkin kemacetan bisa menyebabkan seseorang meninggal.

“Kalau ada yang mengutip ada yang meninggal karena macet, kok saya baru tahu ini seumur hidup saya. Begini, kalau sebelumnya tidak mengidap penyakit, saya kira tidak akan meninggal,” ujar Jonan yang ditemui di Istana Wakil Presiden pada Rabu, 6 Juli.

“Kalau ada yang bilang macet selama 12 jam lalu dehidrasi, lalu kalau orang berpuasa berapa jam? Saya kira lebih dari 12 jam, buktinya juga enggak apa-apa. Ini kan cuma duduk-duduk saja,” katanya lagi.

Sebelumnya, Kemenhub bekerja sama dengan PT Jasa Marga dan kepolisian sudah berupaya untuk mengurangi antrian menuju pintu tol Brexit. Dua di antaranya dengan mengerahkan petugas jalan tol yang menjemput bola menghampiri mobil yang berhenti untuk transaksi pembayaran masuk tol.

Cara lainnya yakni dengan melakukan rekayasa lalu lintas di dua jalur yaitu dari ruas Pejagan hingga ke Brexit dialihkan ke pintu tol Cikopo lama ruas Jakarta-Cikampek yang diarahkan ke pantura. Sementara, ruas Cikopo-Cipali ditutup sementara.

Rekayasa lainnya yakni ruas Palimanan-Kanci diarahkan keluar Kanci untuk mengarah ke jalur arteri.

Lalu, apa sebenarnya penyebab kemacetan di tol Pejagan-Pemalang ini? Menurut mantan Dirut PT KAI, hal tersebut disebabkan kebanyakan kendaraan.

“Orang ingin nyoba jalan tol baru yang panjang sekali. Itu saja,” tutur dia.

Jonan memprediksi kepadatan arus lalu lintas akan kembali terjadi saat arus balik yang sudah dimulai pada Jumat hingga Minggu.

Laporan mengenai adanya 12 pemudik yang meninggal saat sedang melintasi tol Pejagan disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, Sri Gunadi Parwoko. Dia pun turut menduga belasan pemudik meninggal karena penyakit yang diderita saat menempuh perjalanan menuju ke kampung halaman.

“Mudik kan memang mengeluarkan banyak tenaga. Sejauh ini belum diketahui, mungkin dengan tenaga besar yang dikeluarkan untuk mudik, ada beberapa penyakit yang kambuh. Sampai saat ini, itu data yang kami terima,” ujar Gunardi seperti dikutip media.

Bahkan, hal itu semakin diperparah ketika petugas sulit untuk mengevakuasi jenazah, sebab ambulans atau motor tidak mampu menembus kemacetan. Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan Brebes mengimbau agar pemudik membawa obat-obatan pribadi selama di perjalanan. - Rappler.com

BACA JUGA: