Dua alasan Menpora Imam Nahrawi cabut pembekuan PSSI

JAKARTA, Indonesia - Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi akhirnya memastikan telah menandatangani surat pencabutan sanksi terhadap PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), Selasa, 10 Mei.

Ini berarti pembekuan tersebut dicabut setelah federasi sepak bola Indonesia itu disanksi tak boleh mengelola sepak bola nasional selama 1 tahun lebih satu bulan.

"Baru saja sudah saya tanda tangani. Iya saya cabut surat (sanksi penonaktifan PSSI) yang pernah kami keluarkan," kata Imam, saat ditemui di XXI Plasa Senayan, Selasa malam, 10 Mei.

Menurut Imam, ‎ada dua alasan yang membuat sanksi itu dicabut. Selain menghormati putusan Mahkamah Agung yang menolak banding atas putusan Pengadilan Tinggi yang memenangkan PSSI, kebijakan itu juga untuk menghargai federasi sepak bola dunia (FIFA).

"Ini semata-mata karena menghormati Mahkamah Agung dan menghargai komitmen FIFA, ‎seperti yang sudah disuratkan kepada Mensesneg. Dan itu sudah disepakati oleh FIFA, yang punya komitmen besar terhadap sepak bola Indonesia," tutur Imam.

Namun, pernyataan Imam ini masih belum resmi menjadi seremonial pencabutan sanksi. Sebab, Kemenpora berencana mengumumkannya ke khalayak pada Rabu (11/5). 

Apakah Menpora menyerah melawan mafia sepak bola Indonesia dan memilih mengikuti desakan publik untuk mengaktifkan kembali PSSI?

Sumber di internal Kemenpora menyebutkan, keputusan tersebut dipilih sudah melalui perhitungan yang matang. Para pemegang suara (voters) di PSSI sudah menyepakati akan menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Tujuannya, tentu saja melengserkan ketua umum saat ini, La Nyalla Mattalitti.

La Nyalla saat ini menjadi buron kasus korupsi dana hibah Kadin Jatim. Dia ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Namun, dia menolak panggilan korps Adhyaksa tersebut untuk memeriksanya sebagai tersangka. Saat ini dia dikabarkan berada di Singapura. Namanya masuk dalam daftar buruan Kejati Jatim.

La Nyalla digoyang Kelompok 85

Salinan surat permintaan KLB untuk mengganti La Nyalla yang diteken CEO Arema Football Club Iwan Budianto. Foto: Mahmud Alexander/Rappler

Salinan surat permintaan KLB untuk mengganti La Nyalla yang diteken CEO Arema Football Club Iwan Budianto.

Foto: Mahmud Alexander/Rappler

Sebelumnya, sebanyak 85 anggota PSSI yang menamakan dirinya Kelompok 85 sudah meminta digelar KLB. Ada empat poin yang menjadi alasan dalam pernyataan kelompok tersebut.

Pertama, sejak KLB 18 April 2015 di Surabaya, pengurus PSSI periode 2015/2019 tidak dapat menjalankan kewajiban organisasi, yaitu melaksanakan Kongres Tahunan 2016 yang seharusnya menjadi forum tertinggi organisasi untuk mencari solusi untuk federasi tersebut. Terutama pasca keputusan sanksi pembekuan dari Menpora.

Kedua, ketua umum PSSI saat ini adalah seorang tersangka bahkan buronan.

"Kami melihat adanya pelanggaran terhadap kode etik PSSI khususnya di pasal 3 ayat 1, 2 dan 3 yang berisi tentang prinsip dasar dari integritas pengurus PSSI yang telah dilanggar oleh Ketua Umum PSSI," kata Iwan Budianto, CEO Arema Football Club, salah satu anggota kelompok tersebut.

Ketiga, kelompok tersebut juga mempertanyakan integritas dan independensi PSSI. Federasi dituding mengutamakan kelompok tertentu di dalam organisasinya.

"Keempat, kami meminta dilakukannya KLB segera dengan agenda pemilihan komite eksekutif PSSI (Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Anggota Komite Eksekutif)," kata Iwan.-Rappler.com

BACA JUGA: