3 nasihat yang tidak saya dapatkan dari ibu

Bagi sebagian wanita, ibu adalah sumber kebijaksanaan yang paling terpercaya. Namun bagi sebagian lainnya, mungkin tidaklah demikian.

Bisa saja Anda mempunyai seorang "Supermom" yang lebih suka menciptakan kesan bahwa semua masalah di dunia selesai dengan sendirinya, daripada mempergunakan masalah-masalah itu sebagai peluang untuk mendidik Anda. 

Bisa juga pada zaman itu pembicaraan-pembicaraan tertentu masih dianggap tabu, sehingga ibu membiarkan Anda mencari kebenarannya sendiri. 

Tiga orang wanita ini berbagi tentang nasihat yang tidak didapatkan mereka dari ibu. Apa saja yang bisa diambil sebagai pelajaran dari pengalaman mereka?

Membicarakan keuangan dengan pasangan

Ketika masih kecil, Michelle (25 tahun) tidak pernah ingat mendengar orangtuanya membicarakan keuangan. 

“Hanya Papa saja yang mencari nafkah, dan Papa juga yang mengurusi tabungan, investasi dan sejenisnya,” kata wanita yang berprofesi sebagai programmer ini. 

“Mama hanya mendapat jatah untuk anggaran rumah tangga, tapi sampai sekarang pun Mama tidak mengerti kalau ditanya soal aset keluarga, karena tidak pernah diberitahu oleh Papa.”

Michelle berencana menikah tahun depan. “Membicarakan keuangan dengan calon suami selama ini tidak gampang. Mula-mulanya saya merasa privacy saya dilanggar, tapi untung dia bersabar membantu saya belajar bahwa keterbukaan soal keuangan memang sudah menjadi salah satu tanggung jawab dasar pasangan suami-istri,” kata Michelle yang sebenarnya ingin mendapatkan nasihat ibu tentang bagaimana membicarakan keuangan dengan pasangan. 

“Tapi bagaimana mungkin kalau Mama sendiri tidak pernah melakukannya?”

Pentingnya membuat anggaran

“Saya tidak pernah ingat berapa uang jajan saya atau seberapa sering mendapatkannya waktu saya kecil dulu. Saya tidak pernah perlu beranggaran — pokoknya tinggal minta duit kapan itu dibutuhkan, dan selalu ada,” kata Dewi, seorang desainer grafis berusia 29 tahun. “Ketika mulai bekerja barulah saya sadari bahwa sepertinya saya tidak akan pernah bisa menghasilkan sebanyak orangtua saya dulu, sehingga saya harus pintar-pintar membuat anggaran.” 

 

Barulah pada usia pertengahan dua puluh Dewi bisa mulai rutin menabung, menolak godaan belanja impulsif, serta merencanakan pembelian-pembelian mahal sejak jauh-jauh hari. 

“Saya memang belum berinvestasi, tapi saya masih menabung untuk dana darurat sambil mempelajari pilihan-pilihan investasi yang terbaik untuk saya,” katanya. 

Dewi sebenarnya ingin mendapatkan nasihat ibu tentang membuat anggaran yang baik, tetapi ibunya malah terbiasa mengatakan tidak perlu khawatir akan uang.

Kejar mimpimu, maka uang akan mengikuti

Lita (32) mendapati dirinya senang menjadi jurnalis, meskipun dulu kuliah di jurusan arsitektur. 

“Butuh 6 tahun baru kuliah saya selesai, gara-gara saya lebih tertarik pergi jalan-jalan dan menuliskannya di majalah, ketimbang masuk kelas,” kata Lita, yang memiliki ayah seorang insinyur. 

Jurusan arsitektur adalah pilihan sang Ayah, sementara ibunya sebenarnya tahu bahwa Lita tidak cocok jadi arsitek, tetapi takut memberitahu ayah Lita karena takut salah.

“Seandainya saja dulu Ibu memberitahu saya, tidak apa-apa kalaupun saya ingin kuliah yang saya suka, misalnya jurusan sastra Inggris, dan bergelut dengan ketidakpastian pilihan karir dan penghasilan,” kata Lita, yang sekarang mengaku penghasilannya bahkan "lebih dari cukup". 

Belum lama ini ia dipromosikan ke posisi senior di redaksinya, sementara sesekali mendapatkan penghasilan tambahan dari proyek copywriting dan terjemahan.

“Terlepas dari apakah Ibu menasihati saya atau tidak, yang penting adalah saya belajar hikmatnya,” kata Lita, yang sudah punya anak perempuan berusia 2 tahun. 

“Mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa mengajar si kecil supaya dia tidak usah kesulitan mencari-cari sendiri seperti saya dulu.” —Rappler.com

Tips di atas berasal dari LiveOlive, sebuah situs yang membekali perempuan Indonesia dalam hal pengelolaan keuangan pribadi.

BACA JUGA: