Jangan nyinyir kepada kepedulian orang lain

Bisakah kita mengadili pikiran? Bisakah kita menguji niat baik? Barangkali begini, mereka yang memakai avatar media sosial dengan bendera ingin menunjukan kepedulian, sekadar solidaritas. Karena, mungkin mereka sudah berdoa, mereka ingin membantu, tapi tidak bisa. 

Dengan menggunakan avatar dengan bendera Perancis, mereka setidaknya berusaha menunjukan kepedulian kepada mereka yang kehilangan, kepada mereka yang bersedih bahwa saya peduli.

Anggap saja begini. Ketika kerabat atau orang yang Anda kenal meninggal, lalu Anda menemuinya. Anda berusaha menggunakan pakaian hitam sebagai bentuk duka, apakah ini ikut-ikutan? Apakah ini cari perhatian? Saya kira tidak. 

Ini adalah simbol bahwa saya peduli, saya berempati, dan saya merasakan duka yang Anda rasakan dan Anda tidak peduli.

Apakah kepedulian dan tragedi punya strata? Saya tidak tahu. Tapi jika mengatakan bahwa, "Ah, giliran Perancis aja sok solidaritas. Pas orang Palestina dibantai kalian kemana? Pas anak-anak sekolah Papua dibunuh, kalian di mana?" itu adalah kebebalan. 

Apakah Anda benar-benar mengenal orang yang Anda tuduhkan itu? Apakah Anda benar-benar mengerti isi pikiran dan niat dari orang itu? Mengadili seseorang berdasarkan prasangka adalah keburukan. Saya juga sering begitu. Ini tidak membuat saya lebih baik dari kalian.

Tapi sebut saja begini. Tentu kalian mengenal orang orang yang selalu bersikap setiap ada satu masalah. Sebut saja tragedi di Palestina, di Suriah, di Afganistan, di Iraq, di Nigeria, di Lebanon, dan di manapun itu. Ketika setiap tragedi direspons, akan ada orang orang yang berkomentar, "Idih caper amat, semua-semua di doakan. Noh, tetangga yang belum makan didoain, noh kabut asap dibantu”. 

Saya kira kita tak bisa memuaskan semua orang. Selalu ada satu sudut jelek yang akan dieksploitasi untuk menjatuhkan kepedulian kita. Apakah kita akan menyerah?

Tragedi yang terjadi di Paris itu terjadi setiap hari di Suriah, di Afganistan, di Papua, lalu kemana kepedulian kalian? Apakah kepedulian mesti ditunjukan setiap saat, ditunjukan kepada semua orang, dan ditunjukan kepada beberapa orang tertentu agar terlepas dari stigma, "Ah, ikut-ikutan doang, dasar aktivis jempol?” 

Jika begitu, sebenarnya apa yang lebih penting dari solidaritas? Menunjukan bahwa kita peduli pada semua orang atau berusaha memahami bahwa tragedi itu mesti dicegah dan belajar jadi orang yang lebih baik lagi?

Berdoa itu bagus. Membantu nyata juga bagus. Ibu saya yang sudah sepuh, tidak bekerja, bukan aktivis, dan mudah lelah tentu tidak bisa diminta untuk menyumbang atau ikut jadi relawan ke Timur Tengah. Ibu saya hanya bisa berdoa, lantas, jika dia berdoa apakah saya harus merendahkan dan menghinanya? Atau saya berkata, "Ah, doa mulu, aksi dong, banyak bacot lo orang tua”? Saya tidak bisa, demi tuhan saya tidak bisa.

Yang meninggal didoakan, yang ditinggal hidup dikuatkan dengan menunjukan kepedulian dan solidaritas. Tidak harus percaya Tuhan untuk jadi orang baik. Tapi yang memercayai Tuhan semestinya selalu berlaku baik. Menghakimi niat baik seseorang itu jahat, tapi sekadar ikut-ikutan peduli hitungannya adalah empati level satu. Itu sudah bagus. 

MARK ZUCKERBERG. Filter foto profil Facebook sebagai bentuk solidaritas terhadap serangan teroris yang terjadi di Paris, Perancis. Foto dari Facebook Mark Zuckerberg

MARK ZUCKERBERG. Filter foto profil Facebook sebagai bentuk solidaritas terhadap serangan teroris yang terjadi di Paris, Perancis.

Foto dari Facebook Mark Zuckerberg

Pura-pura peduli lebih baik daripada menyebar kebencian, fitnah, dan kebohongan. Solidaritas kemanusiaan mungkin bisa masuk dari pura-pura peduli, sampai nanti akhirnya peduli beneran.

Pun mereka yang telah membantu, bekerja keras seperti Medical Emergency Rescue Committee (Mer C), seperti para relawan dan juga pejuang yang turun ke lapangan, saya hanya mampu mendoakan, memberi hormat, dan menyisihkan sedikit kembalian dari uang ngopi saya di Starbucks.

Karena saya tidak bisa turun ke lapangan seperti jadi relawan ke Palestina, saya tak punya kemampuan medis dan pengetahuan tentang kebencanaan, ngotot berangkat "jihad" dengan modal kepedulian bisa jadi celaka dan membebani mereka yang benar-benar profesional.

Mau pake avatar dengan bendera boleh, mau doa boleh, mau solidaritas boleh. Kalau ada yang enggak suka dengan apa yang kamu lakukan, itu masalah mereka, bukan masalah kamu. Berbahagia dan bertanggung jawablah dengan pilihanmu sendiri. 

Di Indonesia ada orang-orang yang akan mengatur kamu boleh peduli pada isu apa, bersolidaritas pada negara mana, dan berdoa untuk siapa. Ini adalah hal yang menggelikan dan memang menyedihkan. Mau berempati saja kok mesti bersekapat?

Setelah kalian ganti avatar dan menunjukan kepedulian dan solidaritas, ada baiknya belajar untuk memahami kondisi bangsa sendiri. Jika saya tidak mampu membantu negeri yang jauh, apa yang bisa saya lakukan untuk saudara saudara saya di negeri sendiri? Mulai dari hal sederhana, membentuk jejaring solidaritas, dan mengangkat isu sosial bersama. 

Bukankah negeri ini gudangnya masalah? Mulai dari intoleransi, konflik agraria, kejahatan kemanusiaan, kejahatan seksual sampai rasisme. Tinggal pilih mana masalah mana yang kamu sukai dan peduli.

Setiap hari tentu ada masalah. Di jalanan kita bertemu pengendara motor bajingan yang menerobos lampu merah dan hampir menabrak kita, di kantor bos memaksa kita mengerjakan hal yang mustahil, dunia makin brengsek, gaji kurang, gaya hidup semakin mahal dan segala hal tampak tidak menunjukan tanda kebaikan.

Lalu pelan-pelan kita kehilangan kemampuan untuk peduli, kemampuan untuk bersolidaritas. Getirnya hidup membuat kita semakin mahir nyinyir berkomentar dan semakin tumpul berempati.

Ini bukan soal mana yang lebih prioritas atau siapa yang paling menujukan kepedulian. Saya kira kita semakin kebal dengan kesedihan. Banyaknya masalah membuat kita semakin pandai berkomentar alih-alih peduli.

Adriano Qolbi, dalam Podcast Awal Minggu, dengan cerdas menangkap fenomena ini. Ia berkata kepedulian kita pelan-pelan terkikis oleh banyaknya masalah, kemudian kita menentukan mana prioritas kepedulian, karena pada akhirnya akan mustahil untuk terus menerus berduka setiap ada tragedi.

Bagi saya ini adalah kewajaran, sebuah reaksi manusiawi akan tragedi yang beruntut dan terulang-ulang. Seperti jatuh cinta, perpisahan pertama akan membuatmu merasa dunia berakhir, perpisahan berikutnya akan membuatmu kuat sampai akhirnya kebal. Begitu juga pada duka akan tragedi kemanusiaan. 

Tapi kebal terhadap tragedi tidak membuatmu berhak menghakimi yang lain. Saya kira, ini persoalan prioritas, perspektif, dan juga isi bagasi kepala. Kamu tidak bisa memaksa orang keji untuk peduli pada kemanusiaan, mungkin mereka sendiri perlu dikasihani.

Tapi ah, ini juga komentar bukan? Akan berlalu bersama angin dan tak lagi relevan setelah tragedi berikutnya terjadi. —Rappler.com

BACA JUGA:

Arman Dhani adalah seorang penulis lepas. Tulisannya bergaya satire penuh sindiran. Ia saat ini aktif menulis di blognya www.kandhani.net. Follow Twitternya, @Arman_Dhani.