Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Brasil vs Jerman: Mengusir hantu dari masa lalu

Neymar (L) of Brazil in action against Harakawa (R) of Japan during a friendly match between the Olympic teams of Brazil and Japan at the Serra Dourada stadium in Goiania, Brazil, 30 July 2016. EPA/Fernando Bizerra Jr.

Neymar (L) of Brazil in action against Harakawa (R) of Japan during a friendly match between the Olympic teams of Brazil and Japan at the Serra Dourada stadium in Goiania, Brazil, 30 July 2016. EPA/Fernando Bizerra Jr.

JAKARTA, Indonesia – Ada begitu banyak beban sejarah yang dipikul Neymar dan kawan-kawan jelang laga final Olimpiade Rio 2016 melawan Jerman, Minggu, 21 Agustus, pukul 03:30 WIB. 

Pertama, mereka bakal bermain di stadion “terkutuk”: Estadio Jornalista Mario Filho atau yang akrab disebut Maracana. Di stadion legendaris tersebut, seluruh warga Brasil larut dalam air mata setelah kalah menyakitkan 1-2 di tangan Uruguay.

Meski tragedi tersebut terjadi lebih dari enam dekade lalu, tepatnya pada Piala Dunia 1950, memori kelam tersebut muncul lagi karena ekspektasi tinggi dari warga negara terbesar di Amerika Selatan tersebut.

Sebab, menjadi runner up adalah menjadi pecundang terbesar. Begitu jauh tim melaju tapi akhirnya tetap gagal juara.

ZERO HOUR: #BRA clashes with #GER in hunt for the "ouro inédito" in order to redeem self esteem. 17h30, Maracanã. pic.twitter.com/Ed1uKrhtpT — Seleção Brasileira (@BrazilStats2) August 20, 2016

Kedua, lawan yang dihadapi adalah tim yang mempermalukan mereka di semi final Piala Dunia 2014. Di tangan Die Mannschaft, pasukan Selecao tersebut hancur dengan skor 1-7 di Estadio Mineirao, Belo Horizonte.

Beban yang ketiga adalah status sebagai tuan rumah. Sepanjang Canarinho menjadi host turnamen, mereka tak pernah menang. Bukti yang kuat adalah Piala Dunia 1950 dan 2014.

Di Olimpiade, meski bukan turnamen sekelas Piala Dunia, Brasil dibayang-bayangi hantu yang sama. Apalagi, masuk ke beban sejarah keempat, Brasil tak pernah menjuarai Olimpiade.

Brasil tiga kali menembus final Olimpiade. Dan tiga-tiganya berakhir dengan kekalahan.

Dengan beban berlipat ganda tersebut, pasukan Rogerio Micale harus menghadapi lawan berat. Jerman memang sempat terseok-seok di fase grup. Hanya lolos berstatus runner up grup C.

Tapi grafik permainan mereka terus naik setelah itu. Mereka menghabisi Jerman 4-0 di perempat final dan Nigeria 2-0 di semi final.

Pelatih Jerman, Rogerio Micale, secara tidak langsung mengakui bahwa beban tersebut mengancam performa anak asuhnya. Karena itu, saat ditanya wartawan terkait kekalahan 2014, Rogerio menolak menjawab.

“Apa yang terjadi di masa lalu bukan urusan saya. Saya hanya peduli apa yang terjadi besok,” katanya seperti dikutip Samba Foot.

Rogerio patut khawatir dengan situasi non teknis tersebut. Tim yang sudah susah-susah dia bangun bisa hancur karena tekanan mental diri mereka sendiri.

Padahal, Brasil di Olimpiade sudah menemukan pakem serangan yang tajam dalam kuartet pemainnya, Luan, Gabriel Barbosa, Gabriel Jesus, dan Neymar.

Guardiola compares Gabriel Jesus to Agüero: "When the ball comes to him, it's a goal. He smells the goal." pic.twitter.com/Bu7nT74W62 — Seleção Brasileira (@BrazilStats2) August 20, 2016

Sama seperti Jerman, mereka juga sempat tak maksimal di dua laga perdanany di Olimpiade. Namun, dalam laga pemungkas grup A, mereka berhasil membantai Denmark 4-0 untuk meraih tiket ke perempat final dengan label juara grup.

Mesin gol Brasil tak kunjung berhenti. Kolombia mereka hajar 2-0 dan Honduras 6-0. Wajar jika kemudian harapan terhadap tim muda Brasil ini meningkat seiring performa yang meyakinkan.

Karena itu, jika berhasil mengalahkan Max Meyer dan kawan-kawan, Neymar tak hanya akan menghapus semua kutukan yang begitu mengakar di masyarakatnya.

Tapi juga membuktikan bahwa Brasil masih bisa menyelamatkan mukanya: mereka telah membalaskan kekalahan telak di Estadio Mineirao dua tahun silam.

Namun, upaya untuk mengusir sekian banyak hantu dari masa lalu itu tidak gampang. Jerman sudah sangat kompak dengan sistem 4-2-3-1.

Davie Selke di depan memang tidak terlalu mengancam. Namun, pemain 21 tahun yang merumput di RB Leipzig itulah sejatinya pemberi bola kepada trio pemain di belakangnya, Serge Gnabry, Sven Bender, dan Lars Bender.

Para triumvirat tersebut kerap membingungkan lawan-lawannya dengan pergerakan yang sangat cair saat menyerang. Pergerakan yang dinamis tersebut ditopang dengan kecepatan dan keberanian untuk menusuk ke kotak penalti lawan.

Karena itu, Rogerio tak boleh salah memilih bek tengah di laga nanti. Mereka bisa kembali dihajar dengan skor telak jika tidak penuh perhitungan.

Semangat Jerman juga bakal lebih panas karena sukses di cabang olahraga sepak bola sudah didahului tim putri. Tim sepak bola putri Jerman sudah lebih dulu meraih medali emas setelah mengalahkan Swedia 2-1.

Jika Jerman berhasil menyusul tim putrinya, maka kutukan tersebut bakal terus membayangi Brasil. Dan tampaknya mustahil untuk memutus rentetan rantai kesialan itu. Setidaknya dalam waktu dekat.—Rappler.com