Kembali ke habitat, orangutan melahirkan bayi laki-laki

Marconi, seekor orangutan yang dilepaskan ke Cagar Alam Jantho, Aceh pada 2011, tampak bersama bayinya yang diperkirakan berumur antara 6 sampai 8 bulan. Foto oleh BKSDA dan SCOP.

Marconi, seekor orangutan yang dilepaskan ke Cagar Alam Jantho, Aceh pada 2011, tampak bersama bayinya yang diperkirakan berumur antara 6 sampai 8 bulan. Foto oleh BKSDA dan SCOP.

 

BANDA ACEH, Indonesia – Kabar gembira datang dari Cagar Alam Jantho, Aceh. Seekor orangutan yang dilepas kembali ke habitatnya pada Agustus 2011 melahirkan seorang bayi laki-laki.

Usia bayi orangutan itu diperkirakan antara 6 dan 8 bulan sekarang tetapi petugas baru  mengetahuinya pada Senin, 11 September, ketika melihat sang induk, yang mereka panggil Marconi, memangku seekor bayi orangutan.

Bayi orangutan itu diberi nama Masen, nama daerah asal induknya di hutan Ulu Masen, Aceh. Petugas mengatakan baik Marconi maupun Masen tampak sehat.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Sapto Aji Prabowo mengatakan Marconi disita dari aparat negara di Alue Bilie, Nagan Raya, Aceh pada 2009.

"Daerah Nagan Raya dulunya merupakan wilayah dengan populasi orangutan yang tinggi dan berkembang. Namun, karena laju konversi hutan yang menjadi habitat orangutan, wilayah tersebut telah menjadi salah satu wilayah dengan populasi orangutan Sumatera paling terancam," kata Sapto.

Pada Desember 2009, Marconi dberada  di Fasilitas Karantina Batumbelin, Sibolangit, Sumatera Utara. Usianya pada saat itu diperkirakan antara 4 dan 8 tahun.

"Orangutan berkembang sangat lamban dan memerlukan bimbingan dan dukungan sebelum akhirnya siap untuk hidup sendiri pada usia sekitar 10 tahun," ujar Sapto.

Dua tahun di Batumbelin, Marconi dipindahkan ke Stasiun Reintroduksi Orangutan di Jantho. Di sana, dia diajarakan keterampilan oleh Program Konservasi Orangutan Sumatera (SCOP), termasuk bagaimana memilih makanan yang boleh dimakan dan  membuat sarang supaya bisa tidur nyaman. 

Pada Agustus 2011, Marconi dilepasliarkan di hutan Jantho, namun masih dalam pantauan tim SCOP. Marconi sempat jatuh dan terpaksa dibawa kembali ke karantina untuk operasi di lengan atasnya. Ketika pulih, ia kembali dilepaskan.

Terakhir petugas melihat Marconi pada September 2015. Ia  mulai merasa aman dan menyebar ke seluruh kawasan dan membentuk rentang rumah baru.

Dua tahun berselang, pada September 2017 Marconi menampakkan dirinya kepada petugas. Ia tidak lagi sendiri, tapi berdua dengan bayinya.

"Setelah hampir tujuh tahun mengenalkan orangutan ke Stasiun Reintroduksi Orangutan di Cagar Alam Jantho oleh SOCP dan BKSDA Aceh, akhirnya tervalidasi," kata Sapto.

Hal ini dibuktikan bahwa orangutan tidak hanya bertahan di habitat berhutan baru mereka, tapi juga berhasil bereproduksi.

"Kami merayakan kemenangan kecil ini, dengan terus mengingat perjuangan yang akan datang untuk memastikan masa depan bagi bayi baru Marconi, dan orangutan lainnya di habitat liar hutan Sumatra yang tersisa," kata Sapto.

Hingga 2017, total orangutan yang sudah dilepasliarkan di Jantho sebayak 100 ekor dengan tingkat keberhasilan mencapai 87 persen. – Rappler.com