Paru-paru hijau sekarat di bumi Indonesia

“Manusia kelihatan cukup berbeda dari sebuah pohon. Tanpa keraguan kita merasakan kehidupan dengan cara yang berbeda dari sebuah pohon. Tetapi jauh di dalam, pada jantung kehidupan molekuler, pohon dan kita pada dasarnya identik,” tulis Carl Sagan, kosmolog kenamaan Amerika Serikat dalam bukunya, Cosmos

Sagan benar. Keduanya menggunakan asam-asam nukleat untuk berkembang biak. Keduanya menggunakan protein sebagai enzim untuk mengontrol sel-sel kimia. Manusia butuh oksigen yang dihasilkan oleh pohon, begitu juga pohon yang membutuhkan karbon dioksida. Keduanya saling silang membagi energi biologis untuk beraktivitas dan tetap lestari.

Sejarah juga memperlihatkan bahwa pohon memiliki energi magis. Siddharta Gautama mendapatkan pencerahan dan menjadi Buddha kala bermeditasi di bawah pohon selama 49 hari. Sekitar 1666, apel yang jatuh dari pohon mengilhami Isaac Newton muda yang kemudian merumuskan teori gravitasi dan merevolusi dunia sains. 

Pengalaman Sukarno kurang lebih sama, kebiasaannya merenung di bawah pohon sukun selama empat tahun masa pengasingannya (1934-1938) di pulau Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, membuahkan asas-asas filosofis Indonesia yang kemudian hari dikenal dengan nama Pancasila.

Namun di masa kini, kesadaran akan ikatan alamiah ini kian tergerus, tuntutan hidup yang besar membuat umat manusia makin biadab dalam memperlakukan hubungan kekerabatannya yang panjang dengan pohon.

Pertengahan 2015 lalu, tindakan perusakan berdalih pembebasan lahan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab menyebabkan kebakaran hutan dan polusi asap parah yang tidak hanya melanda Indonesia, namun juga kawasan Asia Tenggara. 

Menariknya, bahkan dalam hitungan bulan, hal sama terulang kembali ketika belum lama ini hutan di provinsi Riau kembali terbakar dan status siaga darurat ditetapkan. 

Ironis, mengingat pada hari ini, Senin, 21 Maret, publik internasional merayakan Hari Hutan Sedunia yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), termasuk juga Indonesia. Lalai ataukah kesengajaan?

Memang, melenyapkan hutan untuk membuka lahan bukanlah hal yang asing dalam sejarah manusia sejak zaman purbakala. Di Indonesia, kerajaan-kerajaan di Jawa membuka panggung sejarahnya dengan membuka lahan dari hutan-hutan yang masih perawan.

“Banyak daerah yang daerah yang tampaknya telah dibuka untuk digarap atas perintah seorang raja, yang mengirimkan keturunannya ke hutan yang dikuasai oleh bawahan atau keluarganya, yang nanti bisa menjadi penguasa setempat,” tulis sejarawan Anthony Reid di Asia Tenggara dalam Kurun Niaga Jilid I.

Contohnya ketika Raden Wijaya membuka hutan Tarik, yang berada di sekitar delta sungai Brantas, Mojokerto, pada abad ke-13. Hutan itu dihadiahkan oleh Jayatkawang, Adipati Kediri yang baru saja menggulingkan Raja Kertanegara dari Singhasari. 

Lahan yang dibuka sebagian besar ditanami beras dan surplusnya dijual untuk membeli rempah-rempah, yang lalu dijual lagi kepada pedagang asing. Majapahit mendapatkan profit besar dari sistem ekonomi ini dan imbasnya semakin luas pula lahan yang akhirnya dibuka.

Agresi terhadap hutan kian menjadi-jadi di masa kolonial. Ketika Belanda mulai membangun Batavia di abad ke-17, hutan-hutan di sekitar kota dieksplorasi dan ditebangi untuk membangun infrastruktur kota. Tak dielakkan, banjir pun datang menyusul di musim hujan dan akhirnya menjadi bencana tahunan. 

Sistem tanam paksa yang diterapkan mulai 1830 membuka lahan-lahan penanaman komoditi ekspor baru, seperti teh dan kopi. Hutan di Jawa pun kian tersingkir. Hewan-hewan liar pun terusir dari habitatnya dan diburu karena dianggap hama oleh penduduk, salah satunya harimau Jawa yang kini telah punah.

Sifat keramat dan angker pohon kadang juga ampuh untuk mengontrol pola pikir manusia. Publik Eropa sempat dibuat geger oleh mitos pohon beracun dari Nusantara, pohon upas, sebelum akhirnya Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Jawa (1811-1815) membuktikan bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. 

Pohon upas tidak seseram yang dibayangkan, konon katanya orang akan langsung mati bila berdiri terlalu dekat dengan pohon itu, tetapi hanya getahnya yang terbukti mematikan. Tapi toh, publik sudah terlanjur percaya.

Satu lagi pohon yang dikeramati oleh Indonesia adalah beringin. Perlambang sila ‘persatuan Indonesia’ ini bahkan menjadi lambang partai berkuasa yang begitu ampuh “mengontrol stabilitas dan persatuan dalam negeri” selama masa Orde Baru.

Ironisnya, pembalakan besar-besaran akan pohon-pohon di Indonesia justru dimulai kala Orde Baru berkuasa, medio 1970-an, dan menghasilkan pundi-pundi uang yang menopang rezim itu sampai roboh pada 1998.

Rasanya nasib pohon-pohon di Indonesia tidak akan lebih baik ke depannya. Di kota, ia kian tergusur oleh aspal dan beton. Di alam liar, ia dilenyapkan secara sembarangan demi menyediakan lahan bagi komoditi-komoditi profit, terutama kelapa sawit. 

Kemajuan memang penting, tetapi bukankah sudah kelewatan apabila hal itu dicapai dengan tidak mengindahkan resiko kerusakan alam?

Dan seperti yang Carl Sagan katakan, manusia dan pohon itu serupa dan terikat secara alamiah. Karena itu, merusak pohon sama saja dengan mencekik leher sendiri; akan tiba saatnya ketika alam membalas dendam dan manusia hanya bisa terheran-heran mengapa semua bencana ini terjadi. 

Ketika hutan, sang paru-paru hijau, berhenti bekerja, bumi dan seisi kehidupannya tinggal menunggu waktu untuk binasa. Rasanya, umat manusia sudah setengah jalan untuk sampai ke sana. —Rappler.com

Rahadian Rundjan adalah sejarawan lepas yang tengah menggeluti tema sejarah sains dan teknologi. Kini berdomisili di Bogor dan bisa disapa di @rahadianrundjan.

BACA JUGA: