Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

ISPA disertai diare dan asma bisa renggut nyawa anak-anak

PALANGKARAYA, Indonesia — Bayi berumur 8 bulan itu batuk-batuk. Anisah juga menderita diare. Ibunya, Simyati (30 tahun), mengurung anaknya di dalam rumahnya di Windu, Kalimantan Tengah.

Bukan karena ia kejam pada anaknya, tapi karena asap pekat menyelimuti langit Palangkaraya sejak tiga bulan lalu. 

“Saya khawatir,” kata Simyati saat ditemui Rappler di Ruang Flamboya,n Rumah Sakit Umum Daerah Doris Sylvanus, khusus untuk anak ISPA (inspeksi saluran pernapasan), Kamis, 29 Oktober. 

Simyati sempat kehabisan akal, sebelum akhirnya membawa Anisah ke dokter.

Ia menduga anaknya batuk karena menghirup asap di sekitar rumahnya. “Saya mau pakaikan masker, tapi dia enggak mau,” katanya. Ia tak bisa memaksa. 

Eva Fatimah (17), kakak dari Mahmudah (8), juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengatakan adiknya batuk tiada henti. 

Saat dikunjungi Rappler, Mahmudah sedang tertidur nyenyak. Sebuah kertas tertempel di atas dinding kamar tidurnya, bertuliskan, “ISPA, Low Intake, Leukopeni.” ISPA adalah infeksi saluran pernafasan akut.

Sudah dua hari, Mahmudah terpapar di rumah sakit. Tapi belum ada perkembangan yang menggembirakan. 

Telapak tangannya bengkak karena diinfus dan diperban. Warna kulitnya pucat.

Sama dengan Anisah, Mahmudah tak mau memakai masker dengan alasan tidak bisa bernapas. Padahal, hawa di Mendawai, tempat asalnya, tak baik untuk anak seusianya, pekat karena asap. 

Lain dengan Anisah dan Mahmudah, Padil Rafael (5) tetap terlihat lincah dan berlari ke sana ke mari. Ia menenteng sebuah kamera digital. Memencet tombolnya berkali-kali. 

Tapi menurut Yulianti (25), anaknya itu baru saja bisa tersenyum lebar setelah dirawat selama lima hari. Menurut keterangan dokter, Padil menderita gejala ISPA disertai asma. 

Pasien anak rawat jalan ISPA meningkat tajam

PASIEN ISPA MENINGKAT. Kepala Bidang Humas RSUD Doris Sylvanus Dokter Theodorus Saptaatmadja pasien ISPA anak meningkat sejak Palangkaraya dikepung asap tiga bulan lalu. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

PASIEN ISPA MENINGKAT. Kepala Bidang Humas RSUD Doris Sylvanus Dokter Theodorus Saptaatmadja pasien ISPA anak meningkat sejak Palangkaraya dikepung asap tiga bulan lalu.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Kepala Bidang Humas RSUD Doris Sylvanus Dokter Theodorus Saptaatmadja mengatakan rata-rata keluhan anak-anak ini adalah batuk, sesak napas, dan pusing kepala. Menurut Theo, ini karena mereka menghirup udara yang bercampur asap. 

Theo mengungkapkan, ada sekitar 149 pasien ISPA yang dirawat sejak awal tahun. Jumlahnya kemudian meningkat pada 3 bulan terakhir, ketika asap mulai mencemari udara di Kota Palangkaraya. 

“Dari total 149 pasien, 65 di antaranya anak umur 1-4 tahun. Dan jumlah anak yang dirawat karena ISPA selama tiga bulan terakhir sudah mencapai 28,” katanya pada Rappler. 

“Yang kita lihat peningkatan itu di kasus rawat jalan. Hingga per 28 Oktober sudah ada 226 pasien anak yang menjalani rawat jalan karena ISPA,” katanya. 

Theo mengaku tak khawatir jika mereka hanya menderita ISPA, tapi ia tak bisa tenang jika anak tersebut juga membawa penyakit lainnya, seperti diare dan asma. 

“Kalau gejala ISPA sebenarnya sudah terlihat dari gejalanya, ada batuk, demam, sesak napas, tenggorokan sakit, kalau terus berlanjut bisa gejala pneumonia. Tapi yang kami takutkan ISPA disertai penyakit sebelumnya atau penyerta,” kata Theo. 

Jika dua penyakit itu menyerang anak-anak, maka nyawa sang anak bisa sekarat.  

Tak perlu memakai masker N95 

Theo kemudian menanggapi ihwal anak-anak yang tak memasang masker pada anaknya. Menurut Theo anak-anak memang tak bisa dipaksakan menggunakan masker, pun jenis maskernya memang berbeda dengan orang dewasa. 

Ia menganjurkan, “Yang pertama adalah kurangi aktivitas di luar ruangan,” katanya. Jika ingin memasang masker, cukup masker hijau yang biasa dibeli di apotik.

Masker biasa tersebut cukup untuk membantu anak-anak bernapas. Tapi akan lebih baik, kata Theo, jika udara Palangkaraya bisa bersih kembali. “Kemarin sudah hujan dua hari ya, lumayan cerah,” katanya. 

Ia beharap hujan akan rutin turun, sehingga anak-anak bisa kembali menghirup udara segar dan tak lagi terpapar asap.—Rappler.com

BACA JUGA