Kasus e-KTP tak jadi penghalang PDI Perjuangan usung Ganjar di Pilkada Jawa Tengah

SEMARANG, Indonesia - Para elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyambut antusias keputusan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang kembali mengusung calon incumbent Ganjar Pranowo di putaran Pemilihan Gubernur Jateng tahun ini. Mega akhirnya memasangkan Ganjar dengan Taj Yasin dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Presiden ke-4 itu sempat terlihat sangat berhati-hati menentukan pilihannya bagi kandidat yang maju di Pilkada Jawa Tengah. PDI Perjuangan baru mengumumkan calon mereka H-1 jelang pendaftaran ke kantor KPU.

Apalagi nama Ganjar juga sempat terseret dalam kasus mega korupsi pengadaan KTP Elektronik. Diduga kasus korupsi itu pula yang nantinya akan dijadikan amunisi oleh pihak lawan untuk menjatuhkan Ganjar. Namun, siap kah PDI Perjuangan menghadapi serangan tersebut? (BACA: Ganjar Pranowo mengaku pernah ditawari uang proyek KTP Elektronik)

Ketua DPP PDI Perjuangan Jawa Tengah, Bambang Wuryanto mengatakan adanya kasus korupsi yang telah merugikan negara Rp 2,3 triliun itu tidak akan menggoyahkan kader dan simpatisan partai untuk mengusung keduanya.

“Langkah kami mantap dan tegak lurus dengan arahan DPP. Artinya, ketika kita berpolemik di internal, tapi begitu sudah menjadi keputusan DPP, maka kita harus berjalan tegak lurus,” ujar Bambang ketika dihubungi Rappler melalui telepon pada Minggu siang, 7 Januari.

Ia menganggap kekhawatiran yang muncul di kalangan akar rumput soal kasus mega korupsi KTP Elektronik hanya terjadi sesaat. Pihaknya mengatakan saat ini sudah siap tempur dan akan menghalau semua rintangan yang mengganggu di lapangan.

“Kami hindari saja. (Kasus e-KTP) tidak menghambat kami. Basis massa juga tidak goyah, itu karakter yang ada di Jawa Tengah. Ketika keputusan sudah diambil, (kekhawatiran) itu dua tiga hari pasti berlalu,” kata dia.

Ia pun mengaku optimistis pasangan Ganjar-Gus Yasin bakal mampu mengungguli rival-rivalnya nanti. Maka dari itu, Bambang mengaku telah mengerahkan semua mesin partainya untuk memenangkan pasangan calon itu.

"Yang pasti, kami enggak mikir panjang lagi, termasuk pikiran-pikiran apakah yang bersangkutan terkena kasus e-KTP, buat kami itu enggak masalah," katanya.

Bambang menegaskan status Ganjar saat ini baru sebatas saksi. Itu pun yang dijadikan saksi bukan hanya pria berusia 49 tahun tersebut, namun ada pula beberapa anggota DPR lainnya.

“Saya tegaskan, kami ndak khawatir. Ndak goyah apalagi ragu,” kata dia.

Nama Ganjar ikut terseret dalam pusara kasus korupsi KTP Elektronik, lantaran mantan bendahara umum Partai Demokrat Nazaruddin 'bernyanyi' ketika di persidangan. Kepada majelis hakim, terdakwa yang kini sudah menjadi 'justice collaborator' itu mengatakan Ganjar ribut ke media mengenai proyek dengan anggaran Rp 5,9 triliun lantaran hanya diberi jatah US$ 150 ribu. 

Nazaruddin mengatakan Ganjar ingin mendapat jatah yang lebih besar yakni US$ 500 ribu. 

"Pak Ganjar saya lihat memang menolak ketika ditawari uang US$ 150 ribu. Dia ribut ke media lalu meminta agar diberi lebih besar dari nominal itu,” kata Nazaruddin. 

Belakangan, nama Ganjar tidak ikut ditulis oleh jaksa di surat dakwaan Ketua DPR non aktif Setya Novanto. Hal itu menjadi tanda tanya publik dan dijadikan keberatan oleh kuasa hukum Setya. Tetapi, juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan nama-nama anggota DPR yang sempat diklaim hilang itu tetap ada. 

"Nama-nama itu tidak hilang tetapi hanya dikelompokan ke dalam anggota DPR," kata Febri. 

Saling melengkapi

Sementara, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Bambang Kusriyanto menganggap pasangan Ganjar-Gus Yasin merupakan figur yang bisa saling melengkapi karena menggabungkan basis suara yang berbeda.

“Pak Ganjar-Gus Yasin keduanya pas sebagai koalisi Merah-Hijau. Saling melengkapi, ideal untuk maju Pilgub Jateng,” katanya yang dikonfirmasi secara terpisah.

Ia menjelaskan semua kader di tingkat akar rumput telah diberitahu untuk mengerahkan strateginya dalam memenangkan pasangan Ganjar-Gus Yasin.

"Kami akan mendaftarkan Pak Ganjar dan Gus Yasin tanggal 9 Januari nanti ke KPU. Ini tentunya menjadi sikap teguh kami untuk bersaing ketat dengan pasangan calon lainnya dalam Pilgub," kata dia.

Disukai mayoritas warga Jateng

Sementara, menurut pakar komunikasi politik dari Universitas Diponegoro Teguh Juwono menilai wajar dengan sikap PDI Perjuangan yang kembali menjatuhkan pilihan calon gubernur kepada Ganjar. Pasalnya, tingkat elektabilitas Ganjar di internal partai juga mengungguli nama-nama pendaftar lainnya.

"Elektabilitas incumbent mencapai 56 persen. Jadi, wajar kalau Mega mencalonkan dia lagi," katanya.

Namun, ia mengingatkan kepada PDI Perjuangan supaya memperkuat solidaritas kadernya di bursa Pilgub Jateng. Menurutnya persaingan akan seru bila ada dua pasangan calon yang maju Pilgub.

Kans Ganjar untuk unggul kembali masih terbuka lebar mengingat dalam beberapa kali jajak pendapat, tingkat popularitasnya di tengah masyarakat mencapai di angka 70 persen.

"70 persen warga Jateng menyukai figur Pak Ganjar karena Beliau dikenal bersih dan kinerjanya enggak jelek-jelek amat kok. Asalkan timnya solid dan berhati-hati terhadap kasus e-KTP," tutur Teguh. - Rappler.com