Penduduk dunia kian menua, Indonesia bisa apa?

Pagi ini, Kamis, 10 Desember, di tengah hiruk pikuk berita pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) dan sengkarut PT Freeport, mata saya berhenti di sebuah berita di koran Bisnis Indonesia. Judulnya, Asia Timur Hadapi Penuaan

Tidak main-main, yang mengingatkan adalah Bank Dunia. Asia Timur merupakan rumah bagi sepertiga masyarakat berusia 65 tahun ke atas di dunia. Demikian diungkapkan di tubuh berita.

Dengan kondisi tersebut, maka dunia akan mengalami potensi penurunan produktivitas, peningkatan biaya kesehatan, penurunan perekonomian, dan beban yang harus ditanggung generasi mendatang.

Ngeri dengan dampak-dampak negatif, alhasil, saya pun meluangkan waktu yang begitu berharga di pagi ini untuk browsing tentang warga senior (senior citizen). Hasilnya memang cukup mencengangkan. 

Data yang saya peroleh dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) per 2013, jumlah warga senior (usia di atas 60 tahun) mencapai 841 juta jiwa. Pada 2050 nanti, semoga saya masih hidup untuk membuktikannya, jumlah warga senior akan meningkat hingga dua miliar lebih. 

Dari sisi persentase, pada 1990, jumlah warga senior mencapai 9,2% dari total penduduk dunia. Lalu meningkat menjadi 11,7% pada 2013, dan akan mencapai 21,1% pada 2050. 

Diperkirakan dua per tiga dari total warga senior tersebut akan berada di negara berkembang.

Negara-negara maju yang mulai menghadapi jumlah populasi warga senior yang cukup besar, sudah mempersiapkan kondisi ini jauh-jauh hari. Kendati kerepotan, aturan-aturan untuk warga senior, beserta teknologi untuk menopang kehidupan mereka sudah disiapkan. Kini sepertinya negara-negara Asia Timur dan negara kaya Asia lainnya tengah melakukan hal yang serupa.

Korea Selatan hari-hari ini misalnya. Mereka terus melakukan perbaikan kelayakan hidup untuk warga senior. Kondisi di Korea Selatan — dari informasi npr.org — tidaklah secantik paras anggota girl band negara tersebut. 

Hampir separuh warga senior Korea Selatan menjalani hidup yang tak mudah. Hasil dari pensiun yang mereka terima, hanya sepertiga dari pengeluaran kebutuhan hidup layak di Korsel. 

Kondisi ekonomi dan budaya juga bergeser. Jika di era 80-90an, anak akan menyokong orang tua mereka, hari-hari ini mereka sendiri kesulitan menghadapi kondisi ekonomi sehingga tidak mampu membantu orang tuanya. 

Menyedihkan sekali untuk sebuah negeri yang dipuji-puji memiliki kecepatan Internet nomor wahid di dunia. Di Seoul, satu dari lima warga senior, tinggal sendiri. Mereka hidup sendiri dalam keramaian Seoul yang hiruk pikuk dengan berbagai gebyar aktivitas. Duh, moga ada gitu yang membiayai saya ke Seoul.

Bagaimana dengan Tiongkok? Kebijakan satu anak di Negeri Tirai Bambu yang sudah dilakukan beberapa dekade terakhir tentunya juga berujung timpangnya demografi. 

Pada 2040, Tiongkok diperkirakan memiliki potensi kehilangan 90-100 juta pekerja akibat tren populasi yang menua. Sudah pada tahu kalau per oktober tahun ini, Tiongkok sudah meninggalkan kebijakan satu keluarga satu anak? Baru tahu? Kalian sungguh memalukan, sama seperti saya. Ini saya juga baru tahu usai tuntas membaca Bisnis Indonesia halaman ekonomi global.

Jepang rasanya adalah negara Asia Timur yang paling banyak diperbincangkan terkait warga senior. Sebagai salah satu negara dengan life expectancy tertinggi (di atas 80 tahun), Jepang tentunya menghadapi banyak tantangan. 

Sekitar lima tahun lagi, tantangan itu akan kian berat karena pasca 2020, diperkirakan jumlah warga senior di atas 60 tahun di Jepang akan mencapai 25%, bahkan lebih. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari prediksi jumlah warga senior dunia pada 2050. 

Kultur yang kuat di Jepang membuat 60% lebih orang tua, tinggal bersama anak tertua, terlebih jika orang tua tinggal seorang. Tiga puluh persen lagi tinggal berdua dengan pasangan. Sisanya tinggal di fasilitas-fasilitas khusus untuk warga senior.

Indonesia harus melakukan apa?

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi (tengah) mengikuti jalan sehat 1.000 langkah bersama ribuan warga lanjut usia dalam rangka festival olahraga lansia di Serpong, Tangerang, Banten, pada 14 November 2015. Foto oleh Muhammad Iqbal/Antara

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi (tengah) mengikuti jalan sehat 1.000 langkah bersama ribuan warga lanjut usia dalam rangka festival olahraga lansia di Serpong, Tangerang, Banten, pada 14 November 2015.

Foto oleh Muhammad Iqbal/Antara

Indonesia saat ini memiliki bonus demografi yang luar biasa besar. Jumlah kelas menengah juga amat besar, serta aging population yang tidak separah Asia Timur atau negara maju lainnya. 

Tapi lihatlah teman-teman sekitar Anda. Ada berapa pasangan muda yang berencana memiliki lebih dari dua anak? Jangankan rencana memiliki dua anak, rencana kapan menikah pun masih madjoe moendoer tjantik #FansSyahriniGarisKeras. Sebagian lagi termenung karena MKD, Menunggu Kapan Dilamar. 

So, terpampang nyata bahwa populasi warga senior di Indonesia di masa yang akan datang tentu juga akan mengalami ketimpangan. Di tingkat dunia, diperkirakan 2047, jumlah penambahan warga senior setiap tahun akan lebih tinggi dari jumlah bayi lahir.

Dalam jangka menengah hingga panjang, Indonesia harus memikirkan dampak-dampaknya. Saya pernah membaca twit Poltak Hotradero, bahwa jumlah penduduk yang bertani di Indonesia di dominasi usia 40 tahun ke atas. 

Artinya, pada 2035-2040, jumlah petani Indonesia bisa jadi tidak ada kalau tidak ada upaya perbaikan teknologi, lahan, dan tenaga kerja. Padahal, era 2035-2040 itu, 70% penduduk ada di kota dan 80% makanan akan dikonsumsi masyarakat perkotaan. 

Benarnya saya browsing tentang kebenaran data Bang Poltak, tapi niatan itu saya batalkan karena Bang Poltak selalu benar, hehehe.

Itu baru dari sisi produksi pangan. Belum termasuk masalah anggaran kesehatan, kesejahteraan, dan kebutuhan lainnya. Yang menurut saya paling ruwet adalah produktivitas. 

Sudahlah, warga RI banyak dibilang produktivitasnya rendah, eh, saat lagi dikejar peningkatan produktivitas, angkatan kerjanya didominasi aging population. Suram, dong. Semoga tidak terjadi, ya. Amin?

Tapi dari seluruh cerita sedih aging population, ada potensi bisnis besar yang bisa diperoleh Indonesia. Bisnis itu adalah perawat untuk warga senior di luar negeri. Negara-negara maju tentunya menyambut dengan tangan terbuka. 

Orang-orang kaya di seluruh dunia pasti mau menggaji besar perawat yang menjaga orang tua mereka. Sudah banyak cerita perawat memperoleh pendapatan per bulan di atas Rp 30 juta untuk merawat warga lanjut usia.

Selain itu, dengan tren masyarakat kaya yang aneh-aneh seperti hari ini, bukan tidak mungkin Indonesia membuat fasilitas-fasilitas tinggal dan perawatan untuk orang-orang kaya di seluruh dunia. Dibuat di tempat-tempat tinggi yang sejuk dan asri, mungkin juga bisa dibuat dengan hamparan pandangan sawah atau pantai. Mahal dong fasilitas ini? Ya, iyalah, buat orang kaya keleus.

Potensi-potensi besar ini harus dimanfaatkan maksimal. RI harus belajar best practice dari berbagai negara maju. Tidak hanya demi warga senior Indonesia di masa depan, namun juga memperoleh berkah bisnis yang mengglobal. 

Kalau masih ingat, Oktober lalu, Jepang siap menginvestasikan ratusan miliar rupiah untuk membangun fasilitas pelatihan perawat khusus untuk orang tua. 

Dugaan saya, Jepang masuk ke daerah-daerah dengan bonus demografi tinggi untuk dilatih menjadi perawat sembari mereka “menitipkan” produk teknologi mereka. Well, peluang ini harus dimaksimalkan oleh Indonesia.

Artikel ini akan saya tutup dengan: Sayangi orang tuamu. Sudah menelepon orang tua hari ini? —Rappler.com

BACA JUGA: 

Kokok Dirgantoro adalah mantan wartawan, mantan karyawan bank. Kini ia mengelola kantor konsultan di bidang komunikasi strategis. Meski demikian, Kokok sangat berminat belajar seputar isu ekonomi. Follow Twitter-nya @kokokdirgantoro.