Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Use password?

Login with email

Reset password?

Please use the email you used to register and we will send you a link to reset your password

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue resetting your password. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

Join Move

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

welcome to Move

welcome to Move & Rappler+

Cendekiawan muslim: Omar Mateen bukan seorang Muslim radikal

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) - Cendekiawan muslim Yasir Qadhi menyampaikan pandangannya tentang penembakan di klub Pulse, Orlando, pada Ahad lalu. Menurut dia, teror ini tak ada hubungannya dengan gerakan islam radikal.

"Sudah terkonfirmasi, oleh berbagai sumber, kalau Omar Mateen, pelaku penembakan di Orlando, sendirinya adalah seorang gay," kata dia lewat status Facebook pada Selasa, 14 Juni 2016.

Beberapa media Amerika memang mulai memuat pemberitaan tentang Mateen yang sendirinya sering mengunjungi klub Pulse yang merupakan favorit kaum homoseksual; bahkan memiliki akun di beberapa aplikasi kencan sesama jenis seperti Grindr. 

Lebih lanjut, Mateen juga dikatakan sering berlaku kasar. Menurut saksi mata di Pulse, ia sering mabuk dan harus diusir karena kelakuannya ini.

Menurut mantan istri dan ayahnya, Mateen juga sering berlaku kasar dan bahkan tidak religius. Beberapa teman menambahkan kalau ia juga seorang penyendiri, introvert, dan sering mengancam dan berkata kasar ke orang lain.

"Dia bukan seorang muslim radikal. Ia adalah seorang Amerika yang psikopat, dan homoseksual tersembunyi yang tengah memerangi identitas seksualnya sendiri," kata Qadhi. Di sini, ia sekaligus mengkritik upaya media yang mengesankan serangan ini karena Mateen seorang 'islam radikal' dan bagaimana sikap Islam terhadap homoseksualitas.

Ketimbang menyoroti masalah kejiwaan Mateen, dan hukum kepemilikan senjata di Amerika yang merupakan problem sesungguhnya, politisi dan media tetap menuding keyakinan beragamanya.

"Orang ini sakit jiwa, sederhana dan mudah saja. Bagaimana sikap Islam terhadap homoseksualitas TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan pembantaian ini," kata Qadhi menutup pernyataannya. Ia bahkan menyebut media-media Amerika sebagai munafik.

Klaim ISIS

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas aksi penembakan massal yang terjadi di sebuah klub malam di Orlando, Pulse Club pada Minggu dini hari, 12 Juni. Klaim itu disampaikan melalui sebuah aplikasi pesan pendek Telegram dan tidak tertulis si pengirim. 

"Serangan yang menyasar sebuah klub malam bagi kaum homoseksual di Orlando, Florida, dan menyebabkan lebih dari 100 orang mati dan terluka dilakukan oleh seorang pejuang ISIS," ujar kelompok tersebut dan disebarluaskan melalui media resmi mereka, Amaq. 

Klaim itu berkembang usai pelaku, Omar Mateen diketahui sempat menghubungi polisi melalui 911 sebelum melakukan serangan. Tujuannya, karena pria berusia 29 tahun itu ingin menyampaikan dia telah berbaiat ke ISIS. 

Majalah Time menyebut dalam jumpa pers yang dilakukan pada Minggu siang, pejabat berwenang Biro Investigasi Federal (FBI) membenarkan adanya telepon yang dilakukan Mateen ke polisi. Tetapi, dia tidak menyebut isi pembicaraan di telepon. 

Sementara, keterlibatan Mateen dalam aksi penembakan tersebut membuat berbagai pihak terkejut, termasuk perusahaan keamanan tempatnya bekerja, GS4. Mereka mengaku telah mempekerjakan Mateen sejak tahun 2007. 

"Kami akan bekerja sama dengan otoritas berwenang," tutur perwakilan perusahaan. 

Keluarga pun juga terkejut mendengar Mateen melakukan penembakan massal dan menewaskan korban terbanyak dalam sejarah peristiwa serupa di Amerika Serikat. Kepala Polisi Orlando, John Mina menyebut keluarga telah meminta maaf kepada publik atas kejadian itu. Sementara, Ayah Mateen, Mir Seddique mengaku tidak tahu mengapa putranya bisa tega melakukan perbuatan itu. 

"Saya tidak tahu mengapa dia melakukannya. Sekarang dia sudah meninggal, jadi saya tidak bisa menanyakan hal itu kepadanya. Saya berharap tahu sejak awal," ujar  Seddique ketika diwawancarai NBC News. 

Tetapi, dia menegaskan peristiwa penembakan massal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. Menurut sang Ayah, baru-baru ini Mateen memiliki sentimen negatif terhadap kaum homoseksual ketika melihat sepasang homoseksual tengah berciuman di Miami. 

"Ciuman itu terlihat di depan istri dan anaknya, sehingga dia menjadi marah," tutur  Seddique.

Tetapi, penyidik masih terus melakukan penyelidikan. Kini, mereka masih meminta keterangan kepada anggota keluarga lainnya. 

Sosok yang tidak stabil

Namun, beberapa orang yang mengenalnya justru ragu jika pria berusia 29 tahun itu memiliki sentimen negatif kepada kelompok homoseksual. Kepala Pusat Islam di Fort Pierce, Syekh Shafeeq Rahman mengaku tidak pernah didatangi oleh Mateen dan ditanyakan mengenai isu homoseksual. 

Tetapi, dia menyebut Mateen sulit memiliki teman. Biasanya dia datang ke masjid pada malam hari dengan membawa putranya. Setelah selesai salat, lalu dia pergi. 

Komentar yang sama juga disampaikan oleh kakak kelas Mateen di SMA, Samuel King. Dia mengaku masih berkomunikasi setelah keduanya lulus pada tahun 2004 lalu. Saat itu, King sudah bekerja sebagai petugas keamanan di Restoran Ruby Tuesday, sedangkan Mateen bekerja di toko nutrisi, GNC yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan. 

Bahkan, kepada Mateen, King mengaku secara terbuka dirinya homo dan dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. 

"Dia tidak pernah menunjukkan rasa bencinya kepada saya dan teman-teman saya. Bahkan, dia selalu tersenyum, menyapa dan mengatakan 'halo'" ujar King sambil menyebut ada yang berubah dalam diri Mateen akhir-akhir ini. 

Sementara, mantan istri Mateen, menyebut mantan suaminya itu bukan sosok pria dengan emosi stabil. Bahkan, selama menikah, Mateen kerap memukulnya hanya karena alasan sepele. 

"Dia bisa saja kembali ke rumah lalu memukul saya, hanya karena pakaian belum selesai dicuci," tuturnya kepada harian Washington Post. 

Dia mengenang bertemu Mateen melalui dunia maya 8 tahun lalu, kemudian memutuskan pindah ke Florida untuk menikah. 

Pernah diwawancarai FBI

Mateen diketahui pernah dimintai keterangan oleh petugas FBI sebanyak dua kali. Menurut agen khusus yang bertanggung jawab dalam kasus itu, Ron Hopper, Mateen dimintai keterangan sebanyak dua kali yakni tahun 2013 dan 2014. 

Pada tahun 2013, dia dimintai keterangan karena diduga memiliki kaitan dengan salah satu anggota kelompok radikal. Sedangkan, di tahun 2014, FBI kembali meminta keterangan karena Mateen diduga memiliki hubungan dengan Moner Mohammad Abu-Salha, warga Amerika Serikat yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Suriah. 

Tetapi, saat itu FBI melepaskannya, karena Mateen jarang berkomunikasi dengan Salha dan dianggap bukan sebagai ancaman. 

Hingga saat ini polisi masih mencari tahu motif penembakan tersebut. Sementara, polisi mengoreksi jumlah korban tewas akibat aksi penembakan massal. Jika sebelumnya mereka menyebut jumlah korban 20 orang, maka mereka mengklarifikasi korban tewas ternyata lebih tinggi yakni mencapai 50 orang.

Total korban luka ikut bertambah menjadi 53 orang dan mereka sudah dilarikan ke berbagai rumah sakit. Salah satu korban luka merupakan petugas polisi. 

Berdasarkan informasi dari Pemerintah Indonesia, tidak ada WNI yang menjadi korban tewas atau luka dari insiden tersebut. 

"KJRI Houston akan terus memantau perkembangannya dan berkoordinasi dengan otoritas setempat serta jaringan masyarakat Indonesia," Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal dalam keterangan tertulis pada Minggu, 12 Juni. 

Sementara, Mateen tewas saat baku tembak dengan petugas polisi. Dia diketahui membawa senapan tangan, senapan jenis AR 15 dan beberapa alat mencurigakan. Alat tersebut ditemukan di jenazah, mobil yang dikendarai Mateen dan di dalam klub. 

Peristiwa teror domestik

Mateen datang ke klub tersebut sekitar pukul 02:00 waktu setempat. Dia langsung masuk ke dalam klub, mengeluarkan senjata, dan melepaskan tembakan ke arah atap klub serta ke pengunjung.

Mateen menembak ke arah pengunjung secara membabi buta. Sementara, saat itu diperkirakan terdapat lebih dari 100 pengunjung. Selama beberapa jam, sempat terjadi aksi penyanderaan di klub itu. 

Situasi itu akhirnya berhasil diatasi ketika tim SWAT menyerbu ke dalam klub sekitar pukul 05:00. Salah satu pengunjung klub yang bersembunyi di dalam terus berkomunikasi dengan polisi di saat pelaku lengah.

Sempat terdengar ledakan di dalam klub. Tetapi, menurut polisi ledakan itu berasal dari alat pengalih perhatian yang digunakan untuk menyelamatkan sandera dari dalam klub. Total terdapat sekitar 30 sandera yang berhasil diselamatkan.

Dalam jumpa pers yang dilakukan pada Minggu pagi, juru bicara Biro Investigasi Federal (FBI) meyakini pelaku memiliki keyakinan ekstrim dan kemungkinan terkait dengan kelompok radikal Negara Islam dan Irak Suriah (ISIS). Kendati begitu, mereka tetap membuka peluang adanya petunjuk lainnya.

Tetapi, mereka tidak menampik bahwa aksi penyerangan itu tergolong rapih.

Sementara, polisi belum bisa mengkonfirmasi apakah pelaku beraksi seorang diri atau berkoordinasi dengan pihak lain. Mereka memastikan usai aksi tersebut tidak ada peningkatkan ancaman di Orlando dan area sekitarnya.

"Ini merupakan sebuah kejadian yang saya nilai bisa dikategorikan sebagai peristiwa teror domestik," ujar petugas polisi Jerry Demings kepada harian The Guardian.

Presiden Barack Obama dilaporkan juga sudah mengetahui peristiwa penembakan massal ini. Dia meminta agar terus dikabari mengenai perkembangan kasus penembakan massal tersebut.

"Doa kami bersama keluarga dan orang-orang terkasih korban," demikian pernyataan Gedung Putih.

Ini peristiwa penembakan kedua yang terjadi di Orlando dalam satu pekan. Sebelumnya pada Jumat malam, 10 Juni, penyanyi dan mantan kontestan ajang pencari bakat The Voice, Christina Grimmie juga tewas ditembak usai menggelar konser. Dia ditembak di bagian kepala ketika tengah memberikan tanda tangan bagi 60 penggemarnya. 

Tetapi, menurut keterangan pejabat berwenang yang dikutip kantor berita Reuters, aksi penembakan yang menewaskan Grimmie tidak terkait dengan peristiwa di Klub Pulse. - Rappler.com

BACA JUGA: