Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

Perilaku online para ekstrimis di Indonesia memperluas doktrin ISIS

JAKARTA, Indonesia — Sebuah riset menunjukan bahwa perilaku online dan penggunaan sosial media di kalangan ekstrimis di Indonesia membuat propaganda ISIS mencapai cakupan yang lebih luas.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Insitut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) mengatakan bahwa pemerintah tidak akan dapat melawan gerakan tersebut kecuali mereka mampu melatih para ahli agar dapat menganalisis isi komunikasi para ekstrimis tersebut.

Riset yang dirilis pada Jumat, 30 Oktober ini menjelaskan bagaimana para ekstrimis di Indonesia menggunakan Facebook, Twitter, dan beberapa aplikasi telepon seluler seperti WhatsApp dan Telegram. Penelitian ini membagi analisanya menjadi empat periode, 1999-2003 periode Jemaah Islamiyah, 2004-2009 periode Noordin, 2010-2013 periode pasca kamp pelatihan di Aceh, dan 2014-2015 ketika ISIS mulai muncul.

“Propaganda ISIS disebarluaskan melalui media sosial dan dapat mendoktrin para penonton agar tertarik dengan ISIS,” tutur direktur IPAC Sidney Jones dalam rilis. “Namun yang paling mempengaruhi seseorang adalah saat mereka mulai bergabung dengan kelompok diskusi radikal.”

Meskipun begitu, propagada ISIS sepertinya memiliki pengaruh tersendiri, setidaknya dalam menggambarkan kehidupan “menyenangkan” di ISIS serta kenyamanan hidup para pejuang ISIS dari Indonesia. IPAC menyatakan, setiap harinya semakin banyak keluarga Indonesia yang pergi ke Syria, termasuk para wanita.

“Kekerasan ekstrimis di Indonesia saat ini telah menjadi aktivitas sosial,” kata Jones. “Menjadi bagian dari sebuah kelompok memiliki ketertarikan tersendiri.”

Melihat hal tersebut, IPAC menyimpulkan bahwa para ekstrimis di Indonesia tidak terlalu kreatif dalam penggunaan internet. Setidaknya hanya ada satu peretasan besar yang terjadi di Indonesia, itu pun terjadi pada lima tahun yang lalu.

Mungkin yang paling menarik adalah kegunaan baru dari telepon genggam, yakni kegiatan menikah-melalui-video, mempersatukan para wanita di Indonesia dengan para ekstrimis di Syria. Menurut hasil riset IPAC, pernikahan ini memiliki beberapa tujuan, antara lain memperkuat hirarki sosial, memenuhi kebutuhan biologis, serta membawa para wanita ke Timur Tengah untuk para pejuang ISIS yang belum menikah. —Rappler.com

BACA JUGA: