Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 terendah selama 6 tahun

JAKARTA, Indonesia — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 sebesar 4,79 persen, terendah selama 6 tahun, demikian menurut catatan Badan Pusat Statistik, pada Jumat, 5 Februari.

Ini adalah kali pertama ekonomi Indonesia berada di bawah 5 persen sejak 2009, ketika terjadi krisis keuangan global. 

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2015 mencapai 4,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi Kementerian Keuangan sebesar 4,74 persen.

FE UI proyeksi untuk 2016 sebesar 5.25 persen 

Menanggapi hasil ini, ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan ia sudah memprediksi sejak awal.

Turunnya pertumbuhan ekonomi kita dibanding tahun sebelumnya memang sudah saya prediksi sejak awal,” kata Fithra saat dihubungi Rappler, Jumat.

Menurutnya, setahun lalu RIU FEB UI memproyeksikan ekonomi 2015 akan tumbuh 5,2 persen atau lebih rendah dari target pemerintah dalam asumsi APBN, yaitu 5,7 persen. 

“Tapi kemudian kami mengkoreksi itu lantaran sejumlah faktor. Salah satunya adalah penurunan kinerja ekspor seiring anjloknya harga komoditas,” ujarnya. Selain itu, juga “lambannya eksekusi belanja pemerintah dan faktor shock”.

Fithra mengatakan, kebijakan-kebijakan yang dilansir pemerintah kerap kali belum jelas. Misalnya, ingin mencapai target tinggi, tapi pemerintah malah terlalu sering melakukan kebijakan fiskal kontraktif.

Pada November lalu, kami terpaksa mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 akan mentok di level 4,75 persen. Angka ini sudah termasuk proyeksi kinerja ekonomi kuartal IV-2015 yang diperkirakan hanya tumbuh 4,9 persen,” ungkapnya.

Artinya jika dibanding realisasi, proyeksi kami mendekati akurat.”

Ia juga memaparkan bahwa untuk 2016, ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan berada pada angka 5,25 persen.  

—Rappler.com