Istri polisi jujur: Dari jual kopi di kolong jembatan sampai desakan cerai

Ngatiani menunjukkan foto keluarga pada Kamis, 26 Mei 2016. Dia bangga dengan sikap tegas suaminya menolak memanfaatkan jabatan. Foto: Dyah Ayu Pitaloka

Ngatiani menunjukkan foto keluarga pada Kamis, 26 Mei 2016. Dia bangga dengan sikap tegas suaminya menolak memanfaatkan jabatan.

Foto: Dyah Ayu Pitaloka

MALANG, Indonesia – Siapa yang tidak kenal Bripka Seladi, polisi asal  Polres Malang, Jawa Timur yang menyambi sebagai pemulung guna menambah pendapatan keluarganya?

Pada Senin, 23 Mei, bapak tiga anak itu mendapat penghargaan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Oleh pimpinan Dewan, dia dinobatkan sebagai Polisi Teladan karena berani menolak pemberian dari orang-orang yang dia layani sebagai anggota polisi.

Yang tidak kalah hebat adalah orang-orang di belakang sosok polisi jujur ini, terutama istrinya Ngatiani, perempuan yang Seladi nikahi tahun 1992. 

Pada 1995, Seladi menerima pesanan meubel senilai Rp 115 juta, dengan sistim pembayaran secara cicil. Untuk menyakinkan Seladi, rekanan bisnisnya itu membayar uang muka sebesar Rp 20 juta. Ternyata, rekan bisnis itu menghilang setelah menerima semua pesanan.

Masalahnya, uang sebesar itu merupakan pinjaman dari Koperasi Kepolisian di Polres Malang Kota yang harus dicicil tiap bulan. Mereka tidak mempunyai pilihan. Gaji sang suami, yang nilainya cuma Tuhan yang tahu, habis dipotong untuk membayar utang koperasi. Bahkan mereka masih harus menombok Rp 35 ribu.

"Bayangan saya menikah dengan polisi akan indah. Ternyata yang terjadi sebaliknya," kata Nani kepada Rappler pada Jumat, 27 Mei.

Pernikahan Nani dengan Seladi dikaruniai tiga anak. Anak sulung Dina Afrita Sari sudah bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Malang, sementara anak kedua Rizal Dimas Wicaksono sedang merintis jalan masuk pendidikan Akpol, dan anak bungsu Neny Winarti masih duduk di bangku SMA.

Kerabat dan orang tua Nani kerap memberikan bantuan dan menyemangatinya. Ada pula teman yang tidak tega dan memintanya meninggalkan Seladi. 

"Ibu sempat berdoa tidak iklas jika harus meninggal sebelum melihat hidup saya sejahtera. Ada yang menyarankan saya untuk cerai saja, tapi saya tetap sabar," katanya.

Kondisi demikian tidak mengubah prinsip Seladi untuk menolak segala pemberian yang berhubungan dengan profesinya. Bahkan dia meminta semua orang di rumah untuk tidak menerima apapun dari orang yang mereka tidak kenal.

Pada suatu hari, ada orang Mergosono  datang ke rumah Seladi membawa bingkisan buah. Dia ngotot meninggalkan bingkisan itu di meja karena ingin berterimakasih telah ditolong mengurus SIM.

"Ketika suami saya pulang dia marah-marah dan minta kami mengembalikan parsel itu. Akhirnya malam itu juga anak saya mengembalikan parsel itu," ujarnya.

Kondisi ekonomi mereka mulai berubah sejak 2001. Pada saat itu, Nani menyewa tempat kecil di bawah jembatan penyeberangan di depan Kantor Polres Malang Kota. Berbekal hutang pada bapaknya, Nani berjualan kopi dengan pembeli utama dari lingkungan Polres.

"Alhamdulilah hidup kami mulai berubah, ada pemasukan walaupun tak banyak. Setiap hari saya mencicil hutang sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu kepada almarhum bapak saya," ujarnya.

Ketika sang suami mulai menyambi sebagai pemulung pada 2004, Nani ikut membatu mengambil sampah di cafe milik salah satu artis nasional di Malang.

"Saat itu di cafenya Anang (Anang Hermansyah). Saya yang mendorong dari belakang, suami saya menarik kantong hingga masuk ke bak mobil. Sampah itu sangat berat dan banyak bekas makanan basah, saya sampai menangis karena merasa berat dan jijik," katanya.

"Saya juga ikut memilah sampah botol bekas plastik, setiap 50 botol bisa dijual Rp 10 ribu, lumayan untuk tambahan beli sabun dan kebutuhan harian," kata Nani.

 Buas manis kejujuran

Kisah Bripka Seladi sebagai polisi jujur yang tak mau memanfaatkan status dan jabatan untuk kepentingn pribadi menjadi viral minggu lalu. Permintaan untuk wawancara pun masih mengantri.

Untuk pertama kalinya, Nani naik pesawat ketika menemani sang suami ke Jakarta untuk wawancara dengan satu televisi nasional.

Seladi juga telah menerima banyak janji bantuan mulai dari gaji anggota DPR hingga janji bantuan gudang untuk memilah sampah jika Seladi pensiun kelak.

"Saya percaya saja apa kata suami saya, apapun perbuatannya yang penting anak saya tetap dibesarkan dan hormat pada bapaknya. Ternyata jadinya seperti sekarang ini, seperti doa almarhum ayah saya dikabulkan," katanya.

Dia juga senang karena cicilan utang yang membuat mereka bangkrut akan lunas sebentar lagi.

"Gaji dari kantor semakin banyak, gaji pokoknya Rp 4 juta kemudian dipotong hutang separuh.  Cicilan kami baru habis bulan depan nanti. Meskipun tak bisa ditabung tapi cukup untuk kebutuhan harian kami," kata Nani. – Rappler.com