'Kalau Riza Chalid yang atur, semua happy'

JAKARTA, Indonesia — Nama pengusaha Muhammad Riza Chalid disebut berkali-kali dalam sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI perihal dugaan pencatutan nama Presiden Joko “Jokowi” Widodo, 3 Desember 2015.

Nama pengusaha berusia 53 tahun disebut-sebut di ruang MKD saat Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin bersaksi dalam dugaan pencatutan nama Jokowi dalam perpanjangan kontrak perusahaan tambang emas di Papua itu.

Anggota MKD menanyakan pada Maroef beberapa hal tentang Riza. Pertama, soal perkenalannya dengan Riza.

Maroef mengaku baru berkenalan dengan Riza pada pada 13 Mei 2015 di The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta Selatan. 

“Yang Mulia, pertemuan kedua tanggal 13 Mei di Ritz-Carlton, di situ ada Riza, pertama kali ketemu dan kenalan,” kata Maroef.

Kedua, soal peran Riza dalam sejumlah pertemuan dengan Ketua DPR RI Setya Novanto dan Freeport. Mengapa Riza ikut hadir? Maroef mengaku tak tahu. 

Ia mengaku hanya mendengar nama Riza dari Setya. Sebelumnya Setya mengaku bakal mengenalkan seorang kawannya pada Maroef.

“Nanti kita ngopi-ngopilah, saya kenalkan pada kawan saya,” kata Setya pada Maroef pada pertemuan pertama di ruang kerja Ketua DPR, 27 April. 

Tudingan untuk Riza: Inisiator dan fasilitator 

Deputi I Bidang Pengendalian Pembangunan Program Prioritas Kantor Staf Kepresidenan, Darmawan Prasodjo. Foto dari ksp.go.id

Deputi I Bang Pengendalian Pembangunan Program Prioritas Kantor Staf Kepresenan, Darmawan Prasodjo. Foto dari ksp.go.

id

Pertanyaan ketiga adalah peran Riza setelah sejumlah pertemuan itu. Maroef mengungkapkan, Riza yang berinisiatif mengadakan pertemuan pada 8 Juni di The Ritz-Carlton.

Saat itu, Maroef mengaku tak langsung mengamini. Ia memastikan pada Riza terkait kehadiran Setya.

Riza pun mengatakan bahwa pimpinan DPR itu akan hadir. “Saya menghormati SN sebagai Ketua DPR,” kata Maroef, karena itu dia setuju untuk bertemu. 

Peran Riza tak hanya di situ, menurut keterangan Maroef di sidang, importir kakap minyak dan gas itu mendominasi pembicaraan.

“Siapa yang paling aktif?” tanya anggota sidang MKD. 

“MR (Muhammad Riza), Yang Mulia. Saya lebih banyak diam, saya jadi pendengar saja, (pembicaraan) asyik, menyangkut banyak hal,” katanya. 

Kata Setya tentang Riza

Dalam wawancara dengan Rappler, pada 23 November lalu di Forum Pemimpin Redaksi, Setya mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, Riza Chalid dan Maroef paling aktif berkomunikasi. 

Benarkah? Penelusuran Rappler di transkrip rekaman pertemuan selama 1 jam 20 menit, baik Riza, Setya, dan Maroef sama-sama aktif. Akan tetapi, perbincangan lebih banyak didominasi Riza dan Setya. 

Mengapa Riza menjadi pihak yang paling aktif berbicara?

Dari pernyataan Setya di transkrip rekaman, Ketua DPR itu menyebut Riza adalah "Sang Pengatur" yang bisa membuat semua orang happy.  

Setya menyebut kata happy ini dua kali dalam transkrip rekaman tersebut. “Udah tahu lah, kan Pak Luhut (Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Panjaitan) lapor semua pertemuan itu kalau Bung Riza semua yang ngatur,” kata politisi Golkar itu.

Yang kedua, “Kita happy Pak, kalau Bung Riza yang mengatur,” katanya lagi. 

Apa yang diatur oleh Riza?

Melalui transkrip tersebut, Setya mengklaim Riza telah mengamankan seorang anggota Staf Kepresidenan, Darmawan Prasodjo alias Darmo. Darmo adalah ekonom energi dan lingkungan dengan pengalaman internasional yang cukup rajin melakukan presentasi ke Jokowi.

“Darmo ini disayang dia, karena si Darmo kalau presentasi, lulusan Amerika, sudah kuliah PhD, pintar. Jokowi happy terus. Ini saya tahu. Darmo ngomong, Pak itu didengerin (presiden),” kata Riza. 

“Cuma sudah dibeli gara-gara ketemu Bapak, dikunci, sreeeet. Berubah. Makanya saya tahu. Makanya Bung Riza begitu tahu Darmo, di-maintainance, dibiayai terus itu Darmo habis-habisan supaya belok. Pinter itu,” kata Setya. 

Dikawanin lah,” kata Riza. 

Darmo inilah yang diminta Luhut melakukan kajian tentang Freeport. "Dia yang saya minta untuk membuat kajian tentang Freeport, Mahakam. Dia orang profesional," kata Luhut saat konferensi pers pada 19 November. Saat itu Luhut membantah perannya dalam kasus pencatutan nama Jokowi dalam kontrak perpanjangan izin PT FI.

'The Gasoline (God) Father'

Lalu, siapa Riza Chalid yang disebut sebagai "Sang Pengatur" oleh Setya Novanto? 

Selain dikenal sebagai importir kakap minyak dan gas, Riza memiliki perusahaan Global Energy Resources yang berkantor di Singapura. 

Karena usahanya ini, Riza masuk dalam jajaran 150 orang terkaya di tanah air versi Globe Asia.

Kekayannya ditaksir mencapai 415 juta dolar AS di umurnya yang ke 53 tahun. 

Riza disebut memiliki akses ke Pertamina. Ia juga mengembangkan bisnis untuk anak-anak, KidZania.

Selain itu, Riza juga dikenal sebagai kepala sekolah di Al Jabr School. Sekolah Islam ini menggunakan dua bahasa dengan standar internasional. Al Jabr School juga memiliki bangunan masjid mewah di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Selain minyak dan gas, Riza punya bisnis dengan Tony Fernandes, pemilik maskapai penerbangan AirAsia. Penelusuran ini didapatkan Rappler dari email rilis AirAsia Berhad pada 26 Juli 2012.

Dalam rilis itu disebutkan, AirAsia Berhad mengumumkan perubahan strategi pada Conditional Share Sale Agreement yang telah disepakati rekan usahanya PT Fersindo Nusaperkasa yang sahamnya dipegang Riza Chalid. 

Nama Riza juga disebut dalam buku Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli yang berjudul Menentukan Jalan Baru Indonesia, yang diterbitkan pada April 2009. 

Rizal menyebut Riza sebagai Teo Dollars karena pendapatan per harinya 600 ribu dolar AS. 

Tak hanya itu, George Aditjondro dalam buku Cikeas Makin Menggurita juga menyebut nama Riza. Buku itu mengulas tentang bisnis keluarga mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Namun, ada catatan miring tentang Riza, ia pernah tersandung kasus impor minyak Zatapi pada 2008. 

Saat itu, Petral membeli minyak campuran — diberi nama Zatapi — melalui Global Resources Energy dan Gold Manor, dua perusahaan yang terafiliasi dengan Riza. 

Kemudian impor minyak mentah jenis baru, Zatapi, memicu kontroversi. Kasus impor Zatapi mencuat saat Komisi Energi DPR mempersoalkannya dalam rapat kerja dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro saat itu pada Februari 2008. 

DPR dan pemerintah meributkan impor minyak 600 ribu barel jenis tersebut, dan mempertanyakan sejumlah kejanggalan di balik tender ini. 

Dalam dugaan impor 600 ribu barel minyak mentah Zatapi, Pertamina diperkirakan tekor Rp 65 miliar hanya pada satu transaksi. 

Namun kasus ini dihentikan oleh Bareskrim Mabes Polri karena dianggap tidak merugikan negara. 

Saat itulah, muncul julukan untuk Rizal, yaitu The Gasoline Godfather, yang artinya, rajanya raja minyak. 

Sumber Rappler di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut Riza sebagai sosok yang licin dan tidak tersentuh hukum. Lembaga anti-rasuah berkali-kali hampir menyentuh pengusaha ini, tapi selalu menemui kendala. 

Apakah ini yang membuat para petinggi negara happy jika diatur Riza Chalid?

—Rappler.com

BACA JUGA: