Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

Psikolog: "Apapun bisa menjadi pemicu terjadinya bunuh diri"

JAKARTA, Indonesia —Banyak pandangan berbeda yang muncul dari lingkungan mengenai hal fenomena bunuh diri. Ada yang memilih untuk tidak banyak membahas dan menghindari diskusi soal ini, tapi ada yang mulai terbuka demi mengurangi angka bunuh diri sendiri.

Bicara soal angka. lebih dari 800 ribu orang di dunia meninggal karena bunuh diri per tahunnya. Bunuh diri juga ada di peringkat kedua dari penyebab kematian seseorang di umur 15-19 tahun.

Dari sisi psikologis, seperti apa sebenarnya fenomena bunuh diri yang terjadi, terutama di kalangan anak muda yang semakin banyak terjadi belakangan ini? Rappler mencoba menggali informasi dari Kassandra Purwanto yang berprofesi sebagai seorang psikolog.

Pemicu niat bunuh diri

Bunuh diri ditengarai terkait dengan kondisi mental psikologis yang mengalami gangguan mood jenis depresi. Penelitian terkini menyebutkan, depresi disebabkan berbagai faktor yang memengaruhi kondisi neuropsikologis (otak dan perilaku).

"Faktor-faktor ini antara lain adalah bawaan dan lingkungan, pola asuh, tekanan,  neurotransmitter jenis adrenalin, dopamine dan serotonin dan rendahnya kadar zinc dalam darah," ujar Kassandra pada Rappler, Jumat, 21 Juli.

Kata Kassandra lagi, sebenarnya kasus bunuh diri tidak hanya terjadi pada generasi muda atau mereka yang masih berusia muda. Ancaman ini bisa menyerang siapa pun dari usia berapa pun.

Jika fenomena ini kemudian banyak menimpa kalangan pesohor dan selebriti, kata Kassandra, tidak ada penyebab khusus dilihat dari profesi seseorang. "Apapun bisa menjadi pemicu terjadinya bunuh diri. Seperti, masalah hubungan, masalah finansial, masalah cinta, dan yang lain-lain."

Tanda-tanda

Siapapun sebenarnya bisa membantu mendeteksi mereka-mereka yang mulai menunjukkan gejala melakukan tindakan bunuh diri. "Seseorang yang berpikir untuk bunuh diri akibatnya memiliki adrenalin rendah, seseorang kehilangan motivasi untuk bergerak.  Ia menolak bangun pagi, beraktivitas dan bergaul, bahkan tidak memilki nafsu untuk makan."

"Konsep dirinya menurun, merasa tidak berharga dan tidak bahagia. Dengan dopamine rendah, seseorang kehilangan perasaan senang dan bahagia, ia tidak menemukan nilai-nilai yang menyenangkan dalam hidupnya," kata Kassandra.

"Jika hal ini dilakukan berlarut larut nantinya akan menampilkan sikap menutup diri, menolak makan, menolak keluar rumah dan beraktivitas, menolak bertemu orang lain yang semakin membuat persepsi diri menjadi tidak berharga dan tidak bernilai merasa hidup sia-sia dan tidak bermakna."

Lingkaran terdekat seseorang, misalnya keluarga, bisa menjadi benteng pertama untuk mengidentifikasi munculnya niat bunuh diri. "Jangan biarkan mereka sendiri dan semakin tenggelam dalam kesedihannya. Orang yang sedang berpikir untuk bunuh diri diajak berkonsultasi dengan ahli yang kompeten demi mengatasi depresinya," saran Kassandra.

Ada beberapa teknik yang telah terbukti efektif mengatasi depresi. Antara lain Cognitive Behavior, Behavior Activation dan lain lain. Psikofarmakologi seringkali sangat membantu untuk mengatasi gejala dan mengatasi masalah makan dan tidur yang kacau.

Namun, penelitian membuktikan bahwa psikofarmakologi yang tidak didukung terapi psikologis cenderung gagal mengatasi relapse dan memberikan dampak negatif kepada yang bersangkutan.

BACA JUGA:

 

—Rappler.com