Pembalut sekali pakai atau cawan menstruasi?

Dan setelah masa menstruasi kamu selesai, pastikan kamu mensterilisasi dengan cara merebusnya atau merendamnya dengan air panas selama beberapa menit, lalu menyimpannya di suhu ruangan dan keringkan. 

Atau kamu bisa mensterilkan cawan menstruasi di toples kaca lalu isi dengan air dan memasukkannya ke dalam microwave.

Apakah ada kelemahannya? Ada. Biasanya saat hari pertama haid, kamu harus mengenakan pembalut tambahan saat tidur. Karena volume tampung cawan yang terbatas. 

Tapi tetap saja, cawan menstruasi punya banyak manfaat. Salah satunya tidak berbau serta tidak menyerap darah sehingga tak ada akumulasi bakteri.

Untuk kamu yang belum menikah atau berhubungan seksual, ada pilihan berdasarkan ukuran. Umumnya ada dua ukuran yaitu Small dan Medium. Umumnya ukuran Small untuk perempuan yang belum pernah melahirkan dan Medium untuk perempuan yang pernah melahirkan. 

Pengalaman saya pribadi menggunakan cawan menstruasi ini cukup menyenangkan. Seharian saya merasa nyaman, bahkan tertidur pulas. Saya tidak terganggu sama sekali, bahkan bebas melakukan aktivitas saya sehari-hari tanpa harus memikirkan pembalut. 

Keuntungan cawan menstruasi pun sangat berdampak baik pada kesehatan dan higenisitas serta lingkungan dan ekonomi. 

Adanya tekanan dan stress serta rasa ketidaknyamanan saat menggunakan pembalut dapat membuat kita menjadi menstruphobia, sehingga kita sendiri akhirnya malas mengurusi kebersihan daerah alat kelamin kita. 

Selain itu, jika kita menggunakan cawan, kita juga membantu mengurangi sampah di muka bumi. 

Penggunakan cawan juga menghemat isi dompet. Minimal satu cawan menstruasi dapat mengurangi pengeluaran untuk kedepannya. Jadi kamu bisa menghemat dan menggunakan uang untuk kebutuhan lainnya. 

Karena harganya menurut temuan di amazon.com, berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu. 

Saran saya, pilih merek yang sudah memiliki rating dan komentar memuaskan dari para penggunannya. 

Bayangkan! Beli satu cawa menstruasi saja, dan nanti kamu tidak perlu menghabiskan uang repot-repot membeli pembalut yang setiap bulan selalu habis. 

Tapi masih ada pertanyaan yang paling penting dari itu, apakah selaput dara kita pecah setelah menggunakan cawan menstruasi? Ini jawaban teman saya, Kate Walton: 

Saya sekarang sudah hampir lima tahun menggunakan cawan menstruasi. Pada awalnya, saya ingin coba saja – tidak begitu mahal, jadi saya pikir 'ya sudah, kalau tidak cocok, tidak apa' – jadi saya membelinya online dari Inggris. 

Saya mantan pengguna tampon, bukan pembalut. Di negara saya, Australia, sepertinya mayoritas perempuan lebih suka memakai tampon karena rasanya lebih enak dari pada pembalut yang sangat tebal, bisa bau, dan sering bergerak dalam celana. Jadi pemindahan dari tampon ke cawan memang tidak begitu sulit buat saya. 

Buat perempuan yang tidak rela menggunakan tampon atau cawan karena tidak mau selaput darah 'pecah', ini sesuatu yang tiap orang harus memutuskan untuk diri sendiri.

Cawan menstruasi yang saya gunakan dibuat dalam dua ukuran. Satu lebih kecil untuk perempuan yang belum melahirkan, dan satu lebih besar untuk yang sudah. 

Dua-duanya ada tangkai di bawah untuk membantu mengeluarkan cawannya, tapi saya memotongnya habis karena merasa terganggu. Jadi saat mau keluarkan cawan dari vagina, kalau memotong tangkai, kamu pegang saja bagian bawah cawan dengan ibu jari dan dua jari lain, dan menariknya.

Lebih baik kamu lakukan ini pada saat duduk di atas toilet, biar darahnya langsung jatuh ke dalam kloset.

Banyak perempuan takut memakai cawan menstruasi karena tidak mau menyentuh darah. Kebetulan pas cawannya dikeluarkan, hanya sedikit darah terletak di luar cawan – jadi yang akan kena jarimu, mudah dibersihkan dengan tisu atau air.

Bagi yang takut adanya bocor dari cawan, solusinya cukup sederhana. Karena flow saya lumayan berat, saya selalu menggunakan cawan serta pembalut tipis pada hari pertama, dan kosongkan cawan tiap dua jam. 

Pada malam pertama, sering juga saya memakai pembalut malam agar aman. Tapi setelah hari pertama, tidak perlu kita gunakan pembalut lagi. Flow sudah berkurang, jadi hanya perlu kosongkan cawan tiap beberapa jam. 

Sejak mulai menggunakan cawan menstruasi, tidak pernah saya ingin kembali ke tampon. Kenapa? Ada beberapa alasan. 

Pertama: cawan itu tidak perlu diganti, jadi tidak ada pengeluaran dana. Kedua: saya sering ke luar kota ke kampung kecil dan terpencil untuk kerja. Kalau saya sedang haid dan menggunakan cawan, saya tidak perlu khawatir jika tidak ada tong sampah di WC, karena tidak ada tampon atau pembalut yang perlu dibuang. Butuh saja air untuk bersihkan cawan. Ketiga: saya merasa bebas. 

Cawan ini sama sekali tidak terasa jika dimasukkan dengan benar, sampai saya bisa lupa saya lagi mens.

Nah sekarang saya menjadi penasaran. Apakah masalah terobosan untuk mengatasi menstruasi seperti ini ada pada perempuan Indonesia yang masih tabu membicarakan hal ini?

Atau apakah kita terhambat karena ajaran budaya tertentu di masyarakat melarang kita memasukkan benda asing ke tubuh kita karena dapat merusak keperawanan seseorang?

Apakah konsep keperawanan akhirnya menghambat kita untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang cocok untuk diri kita sendiri? 

Kamu sendiri yang menentukan. —Rappler.com

Dea Safira Basori adalah seorang feminis Jawa yang senang melakukan eksplorasi jiwa untuk menemukan hasrat, hidup dan cinta, dan juga anggota Jakarta Feminist Club. Di waktu senggangnya, ia aktif di grup Indonesia Feminis dan menari tarian tradisional Jawa. Ia dapat disapa di akun twitter @DeaSB.