Rupiah minggu ini: Dibuka Rp 13.840, ditutup Rp. 13.833

JAKARTA, Indonesia — Rupiah hari ini, beserta analisis pelaku pasar terhadap pelbagai faktor yang mempengaruhinya.

Kemarin, sempat melemah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren penguataannya hari ini, Jumat, 4 Desember, menjadi Rp 13.833 per dolar AS dari sebelumnya Rp 13.845 per dolar AS. 

Demikian berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia.

Naiknya harga minyak dunia yang menekan dolar AS dinilai menjadi faktor pendorong bagi penguatan yang terjadi hari ini. 

"Harga minyak mentah di New York Mercantile Exchange tercatat naik 0,56 persen menjadi 41,31 dolar AS per barel," kata analis dari PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong di Jakarta, Jumat.

Kenaikan ini terjadi menjelang pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang akan berlangsung pada 4 Desember waktu Vienna, Austria.

Meski demikian, pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menilai bahwa peluang dolar AS untuk kembali bergerak menguat terhadap sejumlah mata uang global, termasuk rupiah masih terbuka.

Hal ini mengingat semakin dekatnya rencana bank sentral Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga acuannya. Proyeksi akan naiknya suku bunga AS pada pertengahan Desember ini akan mendorong pelaku pasar uang untuk masuk ke aset mata uang dolar AS.

Setelah dua hari berturut-turut menguat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada hari ini, Kamis, 3 Desember, menjadi Rp 13.845 per dolar AS dari Rp. 13.757 per dolar AS pada kemarin. 

Demikian yang tercatat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia.

Sinyal dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed tentang kesiapan mereka menaikkan federal funds rate dinilai menjadi penyebab situasi ini. 

"Dolar AS bergerak menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia setelah Gubernur bank sentral AS Janet Yellen memberikan sinyal kesiapannya untuk menaikkan suku bunga.

Hal ini seiring dengan data AS mengindikasikan solidnya pasar tenaga kerja," kata Analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong, di Jakarta, Kamis. 

Nilau tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada Rabu, 2 Desember dari Rp 13.808 per dolar AS menjadi Rp 13.757 per dolar AS. Demikian berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia.

Menurut analis, situasi ini terjadi karena secara umum dolar AS memang sedang mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang dunia.

"Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir manufaktur AS mengalami kontraksi.

Indeks pembelian manajer dari Institute for Supply Management (ISM) sektor manufaktur AS turun menjadi 48,6 pada November dibandingkan 50,1 pada bulan sebelumnya," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan dari Rp 13.840 per dolar AS kemarin menjadi Rp 13.808 per dolar AS pada hari ini, Selasa, 1 Desember.

Menurut analis, penguatan ini didorong oleh optimisme pasar terhadap kondisi perekonomian dalam negeri.

Mereka juga sudah mengantisipasi seandainya bank sentral Amerika Serikat atau The Fed akhirnya menaikkan federal funds rate pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang akan berlangsung pada Desember ini. 

Langkah The Fed tersebut diprediksi tak akan menggerus optimisme pelaku pasar terhadap kinerja investasi mereka di Indonesia. 

"Pandangan pasar terhadap ekonomi Indonesia yang relatif stabil menjadi salah satu penopang nilai tukar rupiah," kata analis dari PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong di Jakarta, Selasa.

"Aliran dana investor asing masih akan masuk ke dalam negeri. Imbal hasil investasi di Indonesia dinilai masih dapat bersaing meski Amerika Serikat menaikan suku bunganya," ujar Lukman lagi. 

Senin, 30 November, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan dari Rp 13.747 per dolar AS akhir pekan lalu menjadi Rp 13.840 per dolar AS. Demikian berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia.

Menurut analis, situasi ini terjadi didorong sejumlah faktor eksternal. 

"Faktor eksternal yang cenderung negatif menjadi salah satu pemicu nilai tukar rupiah bergerak melemah.

Data ekonomi Eropa yang belum membaik dan diikuti negara berkembang lainnya menjadi salah satu faktor tekanan bagi mata uang rupiah," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, Senin.

Di tengah kekhawatiran itu, pelaku pasar uang menurut Reza akan menempatkan aset-aset mereka ke dalam mata uang safe haven untuk melindungi nilainya.

Nilai tukar rupiah juga masih dibayangi pelemahan harga komoditas dunia. 

"Diharapkan harga komoditas segera pulih sehingga turut kembali menopang perekonomian domestik," ujar Reza.

Laporan Antara/Rappler.com

BACA JUGA: