Rupiah Minggu ini: Dibuka Rp 13.696, ditutup Rp 13.747 per dolar AS

JAKARTA, Indonesia — Dari Senin, 23 November hingga Jumat, 27 November, inilah dinamika pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari hari ke hari serta analisis pelaku pasar dan pengamat tentang berbagai faktor yang mempengaruhinya.

Kamis, 26 November, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan dari Rp 13.673 per dolar AS menjadi Rp 13.733 per dolar AS. Demikian berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia.

Menurut analis, hal ini lebih dipengaruhi sentimen eksternal. 

Sejumlah data kinerja perekonomian Amerika Serikat yang diumumkan Rabu malam waktu setempat seperti jumlah pemesanan barang tahan lama inti yang naik 0,5 persen dari minus 0,3 persen serta klaim tunjangan pengangguran yang menunjukkan penurunan, telah mendorong dolar AS bergerak menguat.

"Pasar menanggapi positif indikator perekonomian AS. Menguatnya data ekonomi AS itu kembali mendorong harapan kenaikan suku bunga acuan AS sehingga kembali memicu penguatan mata uangnya terhadap mata uang di negara berkembang," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, Kamis. 

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta memiliki pendapat serupa. Meski demikian, Samuel optimistis laju pelemahan mata uang negara berkembang akan berlangsung dalam batas yang wajar.

"Harapan dinaikkannya suku bunga AS pada Desember memang terus naik, tetapi kemungkinan kenaikan suku bunga AS cenderung bertahap seperti diperlihatkan dalam notulensi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pekan lalu, situasi itu akan mengurangi tekanan pelemahan kurs negara berkembang lebih dalam," ujarnya.

Menurut analis, hal ini terjadi karena harapan pasar bahwa data kinerja perekonomian domestik Indonesia yang akan dirilis pada Desember mendatang, menunjukkan hasil positif. 

"Nilai tukar rupiah masih mampu bergerak di area positif seiring dengan masih adanya harapan dari ekonomi Indonesia. Sedianya data ekonomi domestik akan dirilis pada awal Desember mendatang," kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova.

Sentimen lain yang mendorong penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS menurut Rully adalah angka inflasi November ini yang diprediksi masih terjaga di kisaran rendah.

Meski demikian, masih terdapat potensi rebound karena secara umum mata uang Asia sedang tertekan terhadap dolar AS.

"Kondisi mata uang di kawasan Asia yang tertekan terhadap dolar AS dapat membuat laju nilai tukar rupiah rentan mengalami koreksi," ujar Rully. 

Sempat terjadi penguatan, namun nilai tukar rupiah masih tertekan oleh potensi turunnya harga minyak dunia. 

"Laju mata uang rupiah melanjutkan kenaikannya meski dibayangi oleh melemahnya harga minyak mentah dunia menyusul kekhawatiran masih melemahnya permintaan global," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Selasa. 

Secara umum menurut Reza, kekhawatiran pasar terhadap potensi naiknya suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed memang mulai mereda. Hal ini berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah.

Meski demikian, pelaku pasar masih berada dalam posisi waspada karena karena kalaupun nilai tukar rupiah bergerak menguat, penguatan ini masih rentan untuk terkoreksi. 

Senin, 23 November, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat dari Rp 13.739 per dolar AS pada akhir pekan lalu menjadi Rp 13.696 per dolar AS.

Demikian data yang tercatat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia. 

Namun rupiah kemudian bergerak melemah. Menurut analis, alasannya adalah karena sebagian investor pasar uang cenderung menahan transaksinya terhadap mata uang domestik.

"Faktor technical menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS," kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova, Senin.

"Akhir pekan lalu nilai tukar rupiah telah menguat cukup signifikan sehingga sebagian investor pasar uang cenderung menahan transaksinya terhadap mata uang domestik."

Meski demikian, Rully menilai terbuka peluang rupiah akan kembali menguat.

"Hilangnya ketidakpastian dari bank sentral Amerika Serikat mengenai rencana kenaikan suku bunga acuannya akan menopang aset mata uang berisiko. Hal ini karena sebagian investor sudah dapat melakukan kalkulasinya untuk mengambil langkah investasi ke depannya," katanya.

Laporan Antara/Rappler.com

BACA JUGA: