Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Agar rupiah tak tembus Rp 14.000

JAKARTA, Indonesia — Rupiah berpotensi terus melemah. "Jika kenaikan suku bunga The Fed terjadi, bisa saja rupiah jatuh melebihi Rp 14.000 per US$," kata ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal para Rappler.

Jika Bank Sentral Amerika Serikat atau the fed merealisasikan rencana mereka untuk meninggalkan Zero Interest-Rate Policy, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan mungkin akan terus berlanjut.

Untuk antisipasi, Fithra menyarankan agar Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin atau 1%. Jika ini bisa dilakukan dengan baik secara bertahap, menurutnya rupiah masih bisa bertahan di rentang 13.200 hingga 13.800 di akhir tahun 2015.

Ekonom Center for Information and Development Studies Umar Juoro tak sepenuhnya sepakat dengan pendapat Fithra. Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan BI akan berdampak negatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

"Itu nanti kenanya ke pertumbuhan," kata Umar. Dia menilai bahwa menjaga nilai tukar rupiah tak sesederhana menaikturunkan tingkat suku bunga. Membentuk ekspektasi positif pasar menurutnya lebih penting. 

"Dalam asumsi makro APBN 2015-2016 pemerintah masih menyatakan Rp 13.200, sedangkan analis banyak memprediksi di Rp 13.800 sampai di atas Rp 14.000. Ini masalah ekspektasi yang berbeda," kata Umar. Menurutnya kebijakan pemerintah harus memberikan kepastian sehingga tidak ada lagi perbedaan ekspektasi.

Pendapat Umar senada dengan pandangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang menilai suku bunga acuan di tanah air terlalu tinggi. Bunga yang tinggi menekan daya saing industri dalam negeri dan pada gilirannya, laju pertumbuhan ekonomi.

“Salah satu isu yang akan terus kita gelindingkan ke depan adalah bagaimana menurunkan suku bunga bank yang memang terasa masih cukup berat bagi dunia usaha,” kata Ketua KPPU, Syarkawi Rauf baru-baru sebagaimana dikutip oleh media.

Akankah BI akan menaikkan tingkat suku bunga acuan seperti saran Fithra atau justru menahannya pada level saat ini? Kita masih harus menunggu. Hingga saat ini, belum ada komentar dari pihak Bank Indonesia terkait persoalan ini.  

Dipicu manuver PBOC

Jumat akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) melemah ke level terendah sejak krisis ekonomi 1998. Rupanya, rupiah tak sendiri.

Data dari WSJ Market Data Group menunjukkan bahwa sejumlah mata uang lain di kawasan Asia Pasifik mengalami nasib yang sama.  Salah satu penyebab yang paling signifikan adalah sinyal dari bank sentral Cina, People Bank of China, untuk melonggarkan batas deviasi nilai tukar Yuan. 

"Pelemahan massal beberapa mata uang ini itu lebih ke aspek penyesuaian psikologis ketimbang reaksi teknis," kata Fithra. 

Sebelumnya fluktuasi nilai tukar Yuan baik karena apresiasi maupun depresiasi dibatasi hanya 2% oleh PBOC. Lewat dari besaran tersebut, PBOC akan melakukan intervensi pasar. 

Potensi krisis

Bagaimanapun masyarakat belum perlu khawatir akan potensi datangnya krisis ekonomi seperti yang menghantam Indonesia pada 1998. Ada perbedaan mendasar antara situasi ketika itu dan saat ini. 

"Saat itu rupiah tiba-tiba melemah cukup dalam. Pelemahan kali ini saya lihat masih bisa diantisipasi oleh Bank Indonesia. Memang persisten, tapi cukup smooth akibat intervensi BI," kata Fithra. 

Pemerintah sendiri masih relatif optimis dalam memandang situasi perekonomian saat ini. Paradigma pemerintah dalam proses pembangunan, potensi naiknya konsumsi dan kondusifnya iklim investasi menjadi landasan optimisme tersebut.— Rappler.com