Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Pergantian wajah Paris: Kota cinta, teror, dan perlawanan

Perlawanan warga Paris saat ini adalah berusaha melanjutkan hidup seperti biasa. "Kejadian ini adalah kegilaan yang diperbuat segelintir orang. Kami sedih, tapi kami tetap hidup. Kami tidak ingin teroris menang, karenanya kami harus hidup seperti biasa sambil mencari solusinya," kata Antoine Billoin, warga Paris yang sedang menaruh bunga di Bataclan.

Di tempat yang sama, seorang warga Paris bernama Virginia Beaumont mengatakan bahwa serangan ini berdasarkan kegilaan ideologi, bukan agama.

"Buat saya, orang-orang ini bukan Muslim. Muslim dan teroris bukan orang-orang yang sama. Saya tak pernah membaca Qur'an, tapi saya yakin Tuhan takkan memerintahkan untuk membunuh manusia," ujarnya. 

Hanya saja, menurutnya, pemerintah setidaknya menyetop dulu menerima pengungsi Suriah untuk sementara waktu. Ia khawatir pelaku teror bisa menyelinap masuk bersama pengungsi.

Serangan Paris memang telah mempertajam debat kebijakan Uni Eropa tentang pengungsi. Polandia, contohnya, telah menyatakan tak akan mengikuti kebijakan Uni Eropa soal pengungsi.

Soal ini, Billoin mengakui bahwa warga Perancis pun terbelah soal pengungsi Suriah. Tak banyak pengungsi Suriah yang tinggal di dalam kota Paris. Kebanyakan dari mereka tinggal di kamp pengungsi di Calais, sebelah barat laut Prancis.

"Saya sendiri tak ada masalah. Perancis adalah negara untuk hidup bersama. Permasalahan saya hanya pada sekelompok orang ekstrimis kanan," ungkapnya. 

Permasalahan ekstrimis atau fundamentalis agama juga menjadi fokus para pendukung National Council of Resistance of Iran (NCRI). NCRI merupakan gerakan oposisi terhadap rezim pemerintah Iran saat ini.

Pada Selasa di depan Bataclan, para pendukung NCRI melakukan aksi solidaritas untuk korban penembakan. Mereka membawa bunga dan obor untuk menyatakan dukungan kepada korban dan keluarganya.

AKSI DAMAI. Anggota NCRI (National Council of Resistance of Iran) yang merupakan gerakan oposisi terhadap rezim pemerintah Iran saat ini melakukan aksi damai pada Selasa, 17 November, di depan Bataclan. Mereka membawa bunga dan obor untuk menyatakan dukungan kepada korban dan keluarganya. Foto oleh Rika Theo/Rappler

AKSI DAMAI. Anggota NCRI (National Council of Resistance of Iran) yang merupakan gerakan oposisi terhadap rezim pemerintah Iran saat ini melakukan aksi damai pada Selasa, 17 November, di depan Bataclan. Mereka membawa bunga dan obor untuk menyatakan dukungan kepada korban dan keluarganya.

Foto oleh Rika Theo/Rappler

"Kami bersimpati karena kami tahu rasanya. Kami adalah korban teror juga yang kehilangan keluarga karena rezim teror di Iran," kata Siavosh Hosseini, anggota NCRI.

Ia juga menyatakan aksi ini merupakan bentuk protes yang menyerukan agar orang-orang bersatu melawan fundamentalisme.

"ISIS tak ada kaitannya dengan Islam. Kami Muslim dan kami pikir ISIS adalah bentuk fanatisme. Tak ada bedanya apakah itu fanatisme Sunni atau fanatisme Syiah seperti di Iran, kami mengutuk keduanya. Barat juga harus mengutuk teror di mana pun, bukan sekadar demi minyak atau kepentingan ekonomi," ujarnya. 

Bagi NCRI, Paris adalah kota perlawanan. Ke kota ini, banyak pelarian atau eksil Iran yang lari mencari perlindungan. Ketua NCRI Maryam Rajavi tinggal dan memimpin gerakan oposisi Iran dari Paris.

Kota perlawanan, jadi mungkin itulah Paris sekarang. Serangan Jumat lalu kepada para warga yang sedang menikmati musik, makan, ngobrol, menonton sepak bola, menjadi pertanda bahwa kita semua bisa menjadi sasaran teror para fundamentalis.

Jika serangan pertama dulu menyasar pada jurnalis Charlie Hebdo yang dianggap telah menghina Islam, kini serangan hanyalah serangan.

"Ini bukan hanya serangan untuk orang Perancis, tapi juga dunia. Kalian juga pernah mengalaminya pada waktu Bom Bali," kata Billion kepada Rappler.

"It could be us," ujarnya. —Rappler.com

BACA JUGA: