132 dilaporkan tewas dalam insiden penembakan dan ledakan bom di Paris

PARIS, Perancis (UPDATE ke-2) —Sejumlah 132 orang dilaporkan tewas dalam insiden penyerangan di gedung pusat kesenian Bataclan, Jumat 13 November. Lainnya menderita luka serius. 

Bagaimana kronologinya? 

Insiden itu bermula dari penyanderaan pada pukul 23:35 waktu setempat di gedung pusat seni Bataclan, sebelah timur Paris. Menurut laporan, seorang pria menembaki penonton konser rock band Eagles of Death Metal satu per satu. Seorang saksi mengatakan, seorang penembak berteriak "Allahu akbar" kemudian melepaskan tembakan di keramaian penonton. (FOTO: Serangan 13 November di Paris)

Kemudian polisi datang ke lokasi. Paris langsung mengirimkan setidaknya 1.500 tentara setelah serangan di Bataclan yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari bekas kantor Charlie Hebdo, yang pernah menjadi target teroris.  (SAKSIKAN; Serangan teroris di Paris)

Selain penembakan di Bataclan, juga terjadi tiga ledakan dekat Stadion Nasional Stade de France, di mana Perancis sedang bertanding bola dengan Jerman dan disaksikan langsung oleh Presiden Francois Hollande. Akibat ledakan ini, lima orang tewas dan Hollande yang sedang berada di stadion langsung diungsikan. Dari tiga ledakan tersebut, menurut sumber, satu ledakan adalah bom bunuh diri. (Dubes: Belum ada laporan WNI jadi korban di Paris)

Selain tempat konser dan stadion, sebuah restoran Kamboja juga diserang, beberapa orang dilaporkan tewas.  

Presiden Hollande geram

Melihat serangan dan ledakan yang sporadis di tiga tempat ini, Hollande langsung angkat bicara. (KBRI imbau WNI di Paris tetap waspada)

"Teroris menyerang secara tidak terduga di sepanjang kota Paris," katanya dengan nada emosional. "Ini horor." 

Hollande kemudian mendeklarasikan bahwa negara dalam keadaan darurat, ia juga membatalkan kunjungannya di pertemuan G20 yang akan berlangsung di Turki akhir pekan ini. (Selebriti, politisi Indonesia ikut berduka untuk korban serangan teroris di Paris)

Kesaksian warga 

Julien Pierce, seorang warga yang sedang berada di area konser Bataclan mengatakan bahwa ia melihat mayat-mayat bergelimpangan. 

"Saya melihat sekitar 20-25 tubuh bergeletakan di lantai, orang-orang terluka parah, luka tembak," katanya pada Radio 1 Europe. 

"Beberapa dari mereka sudah meninggal, beberapa lainnya dalam keadaan berdarah-darah. Penuh darah."

Dikira kembang api 

Sementara itu Pierre Montfort, seorang warga yang tinggal di dekat restoran Kamboja mengatakan bahwa ledakan itu mirip kembang api. 

"Kami mendengar suara tembakan, sekitar 30 menit, tanpa jeda, kami pikir itu kembang api," katanya. 

"Semua orang tiarap di lantai, dan tak ada yang bergerak," tambah seorang saksi lainnya. 

"Seorang gadis dibawa oleh seorang pemuda. Dia sekarat."

Pemimpin dunia berduka 

Konselor Jerman Angela Merkel dan Presidium Uni Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan mereka sangat terkejut dengan serangan ini.

Perancis sebelumnya sudah menetapkan status waspada setelah serangan Chalie Hebdo pada Januari dan supermarket orang Yahudi yang menewaskan 17 orang. 

Keamanan sebenarnya sudah diperketat di Paris sejak 30 November, dengan pengecekan di perbatasan sejak Jumat kemarin, mengingat sejumlah pertemuan penting seperti perubahan iklim tingkat dunia diselenggarakan di sana.  

Presiden Joko "Jokowi" Widodo bahkan direncanakan untuk hadir di acara tersebut.

Siapa bertanggung jawab atas serangan ini?

SERANGAN PARIS. Presiden PPerancis Francois Hollande menyalahkan ISIS sebagai otak serangan Paris. Foto oleh Yoan Valat/EPA

SERANGAN PARIS. Presiden PPerancis Francois Hollande menyalahkan ISIS sebagai otak serangan Paris.

Foto oleh Yoan Valat/EPA

Belum ada pihak yang secara resmi dinyatakan bertanggung jawab atas serangan ini. Tapi Presiden Hollande pada Sabtu, 14 November menyalahkan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atas insiden berdarah ini. 

"Sebuah aksi perang oleh teroris, ISIS, untuk melawan Prancis, melawan kami sebagai negara yang bebas," ujar Hollande. 

Alih-alih membantah, ISIS mengamini pernyataan Hollande. Secara online, organisasi ini mengatakan pihaknya bertanggung jawab atas serangan yang membunuh ratusan orang tak berdosa tersebut. 

"Delapan kawan mengenakan sabuk dilengkapi bahan peledak dan senapan dalam serangan yang diberkati di Prancis," klaim ISIS. Eric Randolph, AFP/Rappler.com 

BACA JUGA: