ISIS klaim bertanggung jawab serangan teror truk di Nice Perancis

JAKARTA, Indonesia - (UPDATED) Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Nice, Perancis, pada Kamis lalu. Mereka menyebut Mohamed Lahouaiej Bouhlel, pengemudi truk putih maut tersebut sebagai 'pejuang' mereka.

Meski demikian, pejabat dan intelijen Perancis tidak menemukan kaitan antara Bouhlel dengan kelompok esktremis mana pun. Pelaku yang tewas setelah ditembak aparat juga tidak meninggalkan deklarasi publik, maupun pernyataan baiat kepada ISIS atau kelompok lainnya.

Menteri Dalam Negeri Perancis Bernanrd Cazeneuve sangat berhati-hati dalam menyebutkan Bouhlel. "Ada seorang individu yang oleh badan intelijen berkaitan dengan kegiatan muslim radikal," kata dia.

Saat ini, aparat yang berwenang masih terus menelusuri latar belakang pria berusia 31 tahun ini untuk mendapatkan motif yang lebih jelas. Mereka hendak memastikan apakah Bouhlel terganggu secara psikologis, atau memang memiliki kaitan dengan kelompok teroris tertentu.

Ia memang memiliki catatan kriminal, namun bukan dengan kegiatan yang berbau ekstremis keagamaan. Kejahatan yang pernah ia lakukan termasuk memukuli istrinya, menyerang seorang pengendara motor, dan pencurian kecil. "Tidak ada yang berbau jihadis," kata Cazeneuve.

Tetangga di apartemennya yang juga berlokasi di Nice, mengatakan Bouhlel tidak pernah terlihat pergi ke masjid lokal ataupun terlibat dalam kegiataan keagamaan. Bagaimanapun juga, ia dikenal sangat temperamental. Terutama setelah bercerai dengan mantan istrinya.

Sementara, kakak Bouhlel, Jabeur, mengaku tak yakin adiknya sebagai pelaku tindak kejahatan di Nice. 

"Untuk apa dia melakukan hal itu? Kami telah berupaya untuk menghubunginya pada Kamis malam, tetapi dia tidak merespons," ujar Jabeur ketika menjawab pertanyaan kantor berita Reuters.

Truk menewaskan puluhan orang

Sebuah truk menabrak kerumunan warga di kota resor Nice, Perancis pada Kamis malam, 14 Juli. Pelaku kemudian melepaskan tembakan ke arah massa dengan menggunakan senjata 7,65 mm.

Jumlah korban tewas yang semula disebut berjumlah 77 orang, kini sudah bertambah menjadi 84 orang. Sementara, ratusan lainnya mengalami luka.

Menurut keterangan pejabat lokal setempat, Sebastien Humbert, pengemudi truk berhasil ditembak mati usai mengendarai di jalan yang penuh dengan pohon palem di Promenade des Anglais, Nice. Humbert menyebutnya ini merupakan sebuah serangan tindak kriminal yang besar.

“Kami melihat orang-orang ditabrak dan puing-puing benda berterbangan,” ujar seorang reporter AFP yang menyaksikan kejadian tersebut secara langsung.

Petugas keamanan sempat mengatakan di dalam truk terdapat granat dan senapan laras panjang. Setelah diteliti lebih lanjut, senapan itu palsu, sedangkan granat tersebut tak berfungsi. 

Menurut laporan reporter itu, sebuah truk berwarna putih tiba-tiba saja melaju dengan kecepatan tinggi di jalan di resor tersebut. Ratusan pejalan kaki yang tengah berada di sana ketakutan dan berhamburan meninggalkan area tersebut.

“Benar-benar kacau,” katanya lagi.

Sementara, saksi lainnya mengatakan kepada media setempat, jenazah warga yang tergeletak di jalan langsung ditutupi.

PETA LOKASI. Peta yang menggambarkan lokasi kejadian teror truk menabrak kerumunan warga Perancis dan menewaskan puluhan orang. Ilustrasi oleh Rappler

PETA LOKASI. Peta yang menggambarkan lokasi kejadian teror truk menabrak kerumunan warga Perancis dan menewaskan puluhan orang.

Ilustrasi oleh Rappler

Berdasarkan data yang dimiliki Jaksa Penuntut Umum Perancis, sebanyak 70 orang tewas terbunuh usai truk itu melaju sejauh 2 kilometer ke arah kerumunan warga yang tengah menikmati hari libur nasional Perancis.

Namun, hingga saat ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Harian Inggris, The Telegraph melaporkan kendati begitu, kelompok pro terhadap grup Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sudah merayakan serangan tersebut di dunia maya.

Serangan tersebut berlangsung beberapa jam usai Perancis mengumumkan situasi darurat di sana akan segera berakhir pada tanggal 26 Juli, karena hukum yang menekankan keamanan di sana sudah diadopsi sejak bulan Mei. Status darurat diberlakukan usai terjadi serangan di beberapa lokasi di Perancis pada bulan November tahun 2015.

Jangan keluar rumah

Insiden tersebut terjadi sehari setelah Perancis merayakan hari nasional mereka yang disebut Hari Bastille. Setiap tahun hari nasional dirayakan dengan upacara militer dan jet tempur Perancis melintasi di atas area Champs-Elysees.

Pemerintah menyatakan hari nasional sebagai hari libur, sehingga banyak warga Perancis yang memilih menghabiskan waktunya di depan Menara Eiffel. Di sana biasanya digelar perayaan kembang api.

Namun, perayaan tersebut dibayangi insiden teror di kota Nice. Otoritas setempat meminta kepada warga di area Alpes-Maritimes untuk tetap berada di dalam rumah.

“Pengemudi truk sepertinya sudah membunuh puluhan orang. Tetap di dalam rumah untuk saat ini. Informasi lebih lanjut akan disampaikan,” kata Walikota Nice, Christian Estrosi.

Presiden Perancis, Francois Hollande langsung bertolak ke kota Avignon untuk menggelar rapat darurat. Sementara, Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve langsung menuju ke Nice untuk meninjau lokasi serangan teror.

Tak ada WNI jadi korban

Sementara, melalui akun twitternya, Kementerian Luar Negeri menyebut tidak ada laporan WNI yang menjadi korban. Informasi tersebut diperoleh perwakilan Indonesia di kota Marseille setelah berkoordinasi dengan otoritas setempat. 

Pejabat di bidang protokol dan konsuler KJRI Marseille, Robert Sitorus, yang dihubungi Rappler menyebut kondisi sudah dapat dikendalikan. 

"Sejauh ini, kami belum menerima informasi adanya pemberlakuan keadaan darurat dari pemerintah setempat pasca kejadian itu," ujar Robert melalui pesan pendek pada Jumat pagi, 15 Juli. - dengan laporan AFP, Santi Dewi/Rappler.com

BACA JUGA: