Setahun berlalu, apa kabar kasus kematian Akseyna?

JAKARTA, Indonesia — Kasus kematian Akseyna Ahad Dori sudah setahun lebih berlalu, namun hingga hari ini belum ditemukan pelaku dan motif pembunuhan mahasiswa Universitas Indonesia ini. 

Akseyna ditemukan mengapung dengan batu di dalam tasnya di Danau Kenanga, di dalam kampus UI Depok, Jawa Barat, pada 26 Maret 2015.

Hingga kini pihak kepolisian belum juga mengungkap siapa pelaku pembunuhan mahasiswa jurusan Biologi tersebut, meskipun sudah menyatakan Ace, panggilan Akseyna, sebagai korban pembunuhan.

Kolonel (Sus) Mardoto, ayah Ace, dalam sebuah program acara salah satu televisi nasional mengatakan, sejak awal kematian anaknya, dirinya sudah memiliki firasat ada yang tidak beres.

Ia mengaku kontak terakhir dengan Ace pada 21 Maret 2015. Mardoto kehilangan kontak hingga seminggu ke depan dan baru mendengar berita ada mahasiswa yang tewas mengapung di danau UI beberapa hari setelahnya.

"Kami tidak berpikir itu jenazah anak saya. Lalu saya suruh adik saya di Depok untuk mengecek kost-an Ace. Penjaga kos bilang, Ace masih terlihat pada Jumat, padahal Ace ditemukan meninggal pada Kamis," kata Mardoto.

Dirinya kemudian memutuskan pergi ke Jakarta untuk memastikan dan pergi ke RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Saya awalnya hanya berpikir ingin melaporkan anak hilang, tapi disuruh adik saya cek ke RS Polri," ujarnya.

Saat melihat jenazah di RS Polri, Mardoto mengakui dirinya tidak mengenali jenazah dikarenakan wajah jenazah sudah hitam dan mulutnya rusak.

"Saya tidak mengenali dan satu-satunya cara mengenali dengan barang yang dibawa Ace, sehingga saya memutuskan ke Polsek Beji,” katanya.

Dari apa yang dilihat, akhirnya Mardoto mengenali bahwa Jenazah tersebut adalah Ace. "Ada ransel, sepatu, sapu tangan, dan payung, itu milik Ace," ujarnya.

Dia pun menuturkan, keanehan sempat terjadi saat dirinya sebelum ke Polsek Beji di Depok, Jawa Barat. Dirinya mengaku datang ke kampus UI terlebih dahulu.

"Saat ke UI, saya belum mengetahui itu anak saya, tapi sudah disodori oleh salah satu teman Ace sebuah surat yang sudah beredar itu," ucapnya.

Surat yang dimaksud adalah surat “wasiat” yang diduga ditulis oleh Ace, namun Mardoto menyangsikannya. 

Hamidah Abdurrachman, salah seorang anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengatakan, kasus kematian Ace memang salah satu kasus yang menantang bagi kepolisian.

"Ini menantang bagi polisi, karena kondisi korban pada air itu sesuatu yang sulit," kata Hamidah.

Selain itu, Hamidah mengungkapkan, kesulitan lainnya adalah tidak ada satupun saksi yang melihat kejadian tersebut.

"Lalu TKP kedua, kamar Ace itu sudah dimasuki orang sebelum polisi masuk untuk olah TKP," katanya.

Namun, dirinya yakin kasus Ace akan terungkap dengan metode yang dilakukan Polda Metro Jaya, yaitu scientific investigation.

"Polda Metro sudah sangat berkembang dengan mengungkap secara scientific investigation, contoh kasus pembunuhan di Kalideres diungkap dengan scientific, kalau dilakukan secara konvensional dan hanya saksi manusia saya kira akan sulit," kata Hamidah.

Polda sebelumnya telah menggunakan metode scientific investigation untuk mengungkap kasus pembunuhan terhadap seorang anak perempuan 9 tahun yang ditemukan meninggal dunia di dalam kardus di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, pada Oktober tahun lalu.

Sedangkan mengenai waktu yang saat ini sudah setahun berjalan, Hamidah menuturkan, hal tersebut masih dalam waktu yang singkat.

"Saya kira polisi sangat hati-hati, setahun itu waktu yang singkat. Masih ada peluang polisi untuk mengungkap, kalau polisi bisa fokus dan bisa menggali fakta-fakta yang ada," katanya.

Hutang negara

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti, pada awal 2016 sempat berucap bahwa kasus Ace adalah kasus prioritas yang akan diungkapnya. Bahkan, Krishna menyebut kasus Ace adalah kasus yang cukup sulit untuk diselesaikan.

"Saya akui kasus pembunuhan Akseyna sebagai yang paling sulit,” kata Krishna kepada wartawan, usai jumpa pers akhir tahun 2015 Polda Metro Jaya, pada 30 Oktober 2015.

Pihak kepolisian, kata Krishna, masih terus dan serius menangani kasus Akseyna.

"Justru yang saya ingin ungkapkan pertama di tahun 2016 ini adalah kasus Akseyna. Semangat ini membuat saya semakin bersemangat dan sedang kencang-kencangnya menyisakan kasus ini," ujar Krishna.

Menurutnya, kasus Akseyna merupakan hutang negara untuk mengungkap kasus ini.

"Kami bukan menghentikan penyelidikan, tapi kami tetap mengencangkan untuk penyelidikan kasus Akseyna. Karena ini adalah hutang negara," ujar Krishna.

Hingga kini Polda telah menemukan beberapa alat bukti penting yang masih terus diselidiki.

“Kami simpan itu dan tidak bisa sampaikan ke publik karena itu urusan saya dengan tim penyidik. Bukan untuk konsumsi publik, terlalu sensitif," ucap Krishna.

Dia pun tidak berani menyebut nama yang dicurigai pihak kepolisian, karena menurutnya pihak kepolisian bekerja sesuai alat bukti.

"Kami belum bisa menyebutkan nama atau menjurus ke sana. Kami ingin ketika menyebutkan nama tapi dengan berlandaskan alat bukti yang ada," kata Krishna.

Krishna menambahkan pernyataan Hamidah bahwa kesulitan kasus Ace adalah rangkaian petunjuk dan barang bukti dari olah TKP yang sudah rusak.

"Kemudian dari awal sudah berkembang bahwa yang bersangkutan mati bukan tindak pidana atau bunuh diri, tapi dari olah TKP yang berulang kami menemukan kematian tidak wajar dan kami akan membuat terang," katanya.

Beberapa fakta dan kejanggalan juga sempat menguak di media. Dari hasil autopsi jasad Ace, ditemukan pasir dan air di paru-paru alumni SMA 8 Yogyakarta tersebut.

Hal tersebut yang membuat ada indikasi bahwa Ace berada dalam keadaan pingsan sebelum tenggelam. Selain itu, dari hasil autopsi juga ditemukan luka lebam di beberapa tubuh Ace.

Polisi juga menemukan fakta ada sobekan pada ujung sepatu, yang mengindikasikan bahwa Ace diseret ke Danau.

Kesulitan mencari motif

Sementara itu, kriminolog UI Eko Haryanto mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan hingga saat ini pihak kepolisian belum bisa mengungkap kasus Ace.

"Banyak faktor, selain TKP rusak di danau dan kost-an korban, polisi sulit mencari motifnya," ujarnya.

Dari informasi awal, kata Eko, Ace tidak mempunyai musuh dan diduga pelaku mempunyai dendam dengan orang tua Ace dan dilampiaskan kepada Ace.

"Itu buat sulit jika pelaku tidak ada motif secara langsung ke korban, lebih sulit jika pelakunya adalah pembunuh bayaran," katanya.

Dia pun melihat, jika dari ditemukannya jenazah Ace di danau, menurutnya pelaku adalah orang yang sudah mengenal TKP.

"Jika melihat pelaku membuang mayat korban dan waktunya, pelaku sudah mengenal lingkungan di UI, pelaku mengenal di titik mana UI sepi dan tak terlihat CCTV," ucapnya.

Eko pun tidak membantah jika ada kemungkinan pelaku lebih dari satu orang. Namun, dia menegaskan kemungkinan pelaku menggunakan sepeda motor untuk membuang Ace ke Danau.

"Bisa saja, satu awasi lingkungan dan satu menyeret korban. Kemungkinan pelaku menggunakan motor, kalau mobil pasti ketahuan sama satpam UI, tapi kalau dua orang nyeret korban tidak mungkin karena dari temuan ada sobekan di sepatu korban," katanya.

Perihal pihak kepolisian apakah terlalu dini menetapkan kasus kematian Ace sebagai tindak pidana, Eko menegaskan, hal tersebut bukan hal yang salah.

"Prinsip awal polisi kalau melihat mayat adalah korban tindak pidana atau kriminal, mengenai awalnya bilang bunuh diri itu belum semua fakta di lapangan dikumpulkan, saat semua fakta sudah dikumpulkan polisi sebut ini pembunuhan, saya pun sudah menduga sejak awal fakta ditemukan pakai ransel dengan beban di dalamnya ini pembunuhan," kata Eko.

Dia pun mengingatkan agar masyarakat, media, dan keluarga korban bersabar dan memberikan waktu polisi untuk menuntaskan kasus ini.

"Saya berharap masyarakat memahami pengungkapan kasus tidak gampang," katanya.

Eko juga tidak mau polisi dalam menetapkan tersangka karena ditekan oleh media, masyarakat, dan keluarga korban.

‘Jangan sampai ada Ace-Ace lainnya’

Setahun sudah berlalu, pihak kepolisian belum juga menentukan siapa tersangka pembunuhan mahasiswa yang masuk ke UI melalui jalur undangan tersebut.

Mardoto mengaku, pihak keluarga belum mengetahui dan menduga siapa tersangka pembunuhan Ace. Namun, dirinya menduga bahwa tersangka adalah orang yang kenal dengan Ace dan sebaliknya Ace mengenal orang tersebut.

"Kami dari pihak keluarga tidak bisa menebak siapa-siapanya. Kami berusaha mengetahui motifnya apa, tapi saya nyatakan sulit pembunuhan ini dilakukan orang yang tidak dikenal Ace. Saya cenderung menduga dilakukan orang yang mengenal aktivitas Ace dan dikenal juga oleh Ace," katanya.

Mardoto juga menduga pelaku pembunuhan Ace lebih dari satu orang.

"Saya menduga lebih dari satu orang, sangat sulit menenggelamkan Ace yang berbadan cukup besar jika dilakukan satu orang, minimal dua orang, jika satu orang menenggelamkan, satu orang mengawasi lingkungan," ucapnya.

Ia berharap ihak kepolisian segera mengungkap siapa pelaku pembunuhan Ace agar tidak ada lagi Ace berikutnya.

"Saya berharap agar pelaku ditangkap, apa yang menjadi dasar dan tidak semata-mata karena Ace. Saya yakin pelaku masih berkeliaran dan berpotensi membuat kejahatan lain dan ada korban, jangan sampai ada Ace-Ace lainnya," ujarnya. —Rappler.com