Ramai-ramai menolak Sitok Srengenge di Singapore Writers Festival

 

JAKARTA, Indonesia—Tercantumnya nama penyair Sitok Srengenge di Singapore Writers Festival menuai kontroversi. Aktivis perempuan ramai-ramai menolak Sitok yang sedang terjerat kasus dugaan pemerkosaan RW, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. 

Penolakan tersebut diteriakkan di media sosial oleh aktivis perempuan Caroline Monteiro dan dosen sekaligus pendamping RW, Saras Dewi.

Ikatan Alumni dan dosen-dosen Universitas Indonesia bahkan menulis surat terbuka untuk SWF agar nama Sitok dicabut. Dalam surat itu, mereka menulis kekecewaan atas pencantuman nama Sitok. 

“Sejak 2013, Sitok telah ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus dugaan pemerkosaan dan kekerasan seksual. Tiga remaja putri telah diperiksa dan dilaporkan ke polisi karena menderita kekerasan. Kasusnya saat ini masih dalam proses dan akan segera naik ke pengadilan,” tulis pernyataan bersama itu.

Di surat itu juga dicatumkan nama 133 pegiat seni dan aktivis, serta mahasiswa Fakultas Ilmu Bahasa yang mendukung kasus tersebut untuk dituntaskan. 

Sitok sebelumnya dilaporkan ke polisi oleh seorang wanita berinisial RW, 22 tahun pada November 2013 atas dugaan pemerkosaan. 

Penyair ini tidak membantah tudingan tersebut. Sitok menceritakan ia memang mengenal pelapor dan mengakui pernah berhubungan intim dengan RW atas dasar suka sama suka.

"Tapi tidak benar saya berniat membiarkan, apalagi lari dari tanggung jawab," katanya.

Nama Sitok dicabut

Setelah desakan demi desakan, akhirnya nama Sitok dicabut dari daftar pembicara di Singapore Writers Festival yang diselenggarakan pada 3 Oktober hingga 8 November itu. 

“Setelah meneliti dengan cermat, berdiskusi dengan mitra program kami dan Sitok Srengege, SWF memutuskan untuk mencabut namanya dari program,” cuit akun resmi @sgwritersfest di Twitter. 

Ayu Utami: Sitok berhak tampil di SWF 

Kawan Sitok, novelis Ayu Utami yang juga aktif bersama Sitok di Komunitas Salihara mengaku tak kaget dengan penolakan ini. 

“Buat saya sih kalau itu dari protes dari kalangan feminis saya bisa mengerti. Jadi kalau kalangan feminis merasa keberatan karena kasusnya belum selesai, karena Sitok dianggap melakukan pemerkosaan, saya bisa mengerti,” katanya saat ditemui Rappler di Salihara, Minggu, 4 Oktober. 

Ayu melanjutkan, ia akan mempertanyakan jika surat penolakan tersebut berasal dari kelompok sastrawan. 

“Kalau festivalnya hak asasi manusia akan problematis, karena di dalamnya ada hak perempuan juga,” katanya. Dalam kasus Sitok dan SWF, ia sendiri menempatkan dirinya sebagai sastrawan, karena festival tersebut mengenai sastra bukan hak asasi manusia. 

Ia mengatakan seharusnya Sitok berhak tampil di festival tersebut.  “Ya kalau kita bicara perkembangan kesusastraan, kalau saya merasa Sitok itu berhak. Tapi ya terserah. Saya kan mengerti juga perjuangan (aktivis perempuan) kan harus mengambil pilihan,” katanya. —Rappler.com

BACA JUGA