Luhut: Pemerintah tidak akan minta maaf pada korban tragedi 1965

JAKARTA, Indonesia — Pemerintah Indonesia akan mengupayakan rekonsiliasi terhadap pelanggaran-pelanggaran terkait tragedi 1965, namun tidak akan meminta maaf, kata Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Pandjaitan. 

“Rekonsiliasi kita cari nanti format yang pas dengan cara-cara Indonesia,” kata Luhut, Rabu, 30 September. 

“Tidak ada pikiran untuk meminta maaf, minta maaf pada siapa? Siapa memaafkan siapa, karena kedua pihak ada terjadi kalau boleh dikatakan korban. Jadi saya pikir, tidak sampai ke situ.”

Meminta maaf pada korban menurutnya justru bisa membuat pemerintah terkesan disusupi Partai Komunis Indonesia. Rekonsiliasi yang dilakukan, kata Luhut, adalah dengan melihat masa depan dari anak cucu korban. 

“Jangan sampai dihukum lagi mungkin terhadap peristiwa-peristiwa yang lalu.”

Luhut mengklaim bahwa data-data korban banyak yang tidak ada. Benarkah? 

Pada Juni 2015, ada 24 jenazah korban tragedi 1965 yang ditemukan oleh Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusie, di Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Semarang. Dari 24 orang tersebut, hanya delapan yang berhasil diidentifikasi. 

Salah satunya adalah Joesoef Setyo Widagdo. Selama 50 tahun, anak angkat Joesoef, Sri Murtini, tidak mengetahui keberadaan ayahnya. Menurut Sri, sebagaimana dikutip Liputan6.com, Joesoef ditangkap pada malam hari dan tidak pernah ada kejelasan mengenai keberadaannya sampai jenazahnya ditemukan belum lama ini. Saat peristiwa itu terjadi, Sri masih duduk di bangku sekolah dasar. 

Selain Joesoef, ada juga seorang korban yang diidentifikasi sebagai Darsono. Menurut Suwito, seperti dikutip Tempo.co, Darsono hanyalah petani biasa, namun dianggap tokoh komunis karena memperjuangkan haknya. Dia dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan perjuangannya. Darsono juga aktif di Pemuda Rakyat. 

Enam korban lainnya yang telah teridentifikasi adalah Moutiah, Soesatjo, Sachroni, Soekandar, Doelkhamid, dan Soerono. — Rappler.com

BACA JUGA: