UI minta studi klub seksualitas tak gunakan nama dan logo kampus

JAKARTA, Indonesia — Universitas Indonesia (UI) menyatakan bahwa Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC UI) bukan merupakan unit kegiatan mahasiswa resmi, baik di tingkat fakultas maupun universitas, sehingga tidak dapat menggunakan nama dan logo UI dalam aktivitasnya.

"Dengan tegas UI menyatakan SGRC tidak berhak menggunakan nama dan logo UI pada segala bentuk aktivitasnya," demikian bunyi rilis yang dipublikasikan melalui www.ui.ac.id.

Menurut penuturan koordinatornya Nadya Karima Melati, SGRC UI merupakan kelompok studi terkait seksualitas dan gender secara ilmiah yang berdiri sejak tahun 2014.

"SGRC adalah support group dan juga resource center. Di resource center ini, kita punya digital library yang isinya penelitian-penelitian dan publikasi ilmiah, seperti jurnal, buku, semua yang berkaitan dengan seksualitas dan gender," kata Nadya saat dihubungi Rappler pada Kamis, 21 Januari.

SGRC UI memiliki 222 orang anggota terdaftar yang terdiri dari mahasiswa UI dan kerap melakukan kerjasama dengan lembaga lain, baik di dalam maupun di luar kampus, seperti Pusat Studi Gender FISIP UI hingga Komnas Perempuan.

Nadya mengaku SGRC UI sebelumnya tidak pernah memiliki masalah apapun dengan pihak kampus, hingga saat publikasi kegiatan mereka Peer Support Network tersebar luas.

"Kemarin SGRC UI baru publish kerja sama dengan Melela, Melela ini kan ngomongin coming out. Lalu posternya tersebar. Nah, di situ karena SGRC bawa nama UI, mungkin UI sepertinya keberatan karena seakan-akan terlihat bahwa UI mendukung LGBT," tutur Nadya.

Peer Support Network adalah layanan konseling bagi mereka yang butuh tempat bercerita, khususnya terkait orientasi seksual.

"Sebelumnya kami baik-baik saja dan UI mengakui kami sebagai komunitas. Tapi karena ada poster ini tersebar, mungkin tiba-tiba UI merasa homophobic dan melarang SGRC menggunakan logo UI lagi," katanya.

Selain itu, Nadya juga mengakui, hingga kini kegiatan SGRC manapun tidak pernah dilarang oleh pihak kampus.

"Bahkan kegiatan kita juga dipublish di UI Update," jelasnya. UI Update adalah situs publikasi kegiatan-kegiatan mahasiswa UI.

Pihak SGRC dan UI akan segera berdiskusi terkait permasalahan ini pekan depan.

Founder Melela Rio Damar juga menjelaskan pentingnya kehadiran SGRC UI sebagai saran pendidikan seksual.

Seseorang bisa menjadi besar bukan karena berani menekan yang kecil, melainkan tahu caranya menghargai yang kecil #dukungSGRCUI @sillysampi — Rio Damar (@rio_damar) January 21, 2016

Pemahaman seksualitas penting bukan krn mengajarkan penis dan vagina, tetapi lebih dari itu, mengajarkan jg mengatakan "TIDAK" #dukungSGRCUI — Rio Damar (@rio_damar) January 21, 2016

Melalui media sosial, para mahasiswa UI, alumni, serta masyarakat secara umum mengemukakan dukungannya terhadap kegiatan SGRC.

Says lulusan FPsi UI dan saya bangga dan mendukung @SGRCUI. #dukungSGRCUI — Paramita Mohamad (@sillysampi) January 21, 2016

Saya mahasiswa UI dan menurut saya eksistensi organisasi seperti SGRC UI sangat dibutuhkan di semua universitas #dukungSGRCUI — quee(r)n (@mikkeIsen) January 21, 2016

Seandainya waktu masih di UI sudah ada @SGRCUI, mungkin masa kuliah saya terasa lebih 'berisi'. Maka dari itu saya #dukungSGRCUI! :) — f/x (@bigbadqueer) January 21, 2016

Saya bukan warga UI, tp menjadi orang yg terbantu oleh kegiatan @SGRCUI. Saya iri krn anak UI jauh lbh maju dr kampus saya. #dukungSGRCUI — a_to (@Mr_Cosmonot) January 21, 2016

Ada pula yang mengaku terbantu dengan kehadiran SGRC UI saat ia duduk di bangku kuliah.

I came out when I was a student at UI—if only this brave, admirable network by @SGRCUI existed then. #DukungSGRCUI pic.twitter.com/m4DgVPOGXh — Nico Novito (@NicoNovito) January 21, 2016

—Rappler.com

BACA JUGA: