Rossi vs Marquez: Dendam kesumat yang meledak di Sirkuit Sepang

JAKARTA, Indonesia — Kamu pendukung siapa? Valentino Rossi, Marc Marquez, atau Jorge Lorenzo? Jawaban kamu akan menentukan bagaimana chemistry diskusi kita selanjutnya. Kalau kamu bukan pendukung Rossi, kita tak perlu banyak bicara lagi.

Kira-kira begitulah suasana di berbagai “forum” diskusi di Indonesia (dan mungkin dunia). Dari forum warung kopi, warung tegal, warung internet, sampai di warung-warung perkantoran.

Istirahat makan siang dipenuhi pembelaan meledak-ledak kubu Rossi. Sementara para pendukung Marc Marquez-Jorge Lorenzo tak banyak bicara tapi diam-diam ikut menyalahkan pebalap Italia tersebut.

Insiden “tendangan maut” Rossi kepada Marquez di Sirkuit Sepang, Minggu 25 Oktober, seperti membelah para penggemar MotoGP dalam dua kutub.

Para pendukung Marquez-Lorenzo menggunakan aturan untuk menyalahkan Rossi. Sementara, para pembela Rossi merasa pihaknya adalah korban konspirasi jahat Marquez-Lorenzo.

Masalahnya, sebagian besar kita melihat kasus tersebut hanya dari insiden Sirkuit Sepang. Tudingan itu diperkuat dengan tindakan “unsportsmanlike” Marquez yang melambat di Phillip Island, Australia untuk memberi ruang bagi Lorenzo, dan menghambat Rossi.

Teori konspirasi itu semakin menjadi karena Marquez dan Lorenzo berasal dari negara yang sama, Spanyol. Jadilah ini seolah pertarungan antara negeri Matador tersebut dengan Italia.

Apalagi, pebalap Italia yang membela tim Ducati, Andrea Iannone, memasang fotonya bersama Rossi di fanpage Facebook miliknya, sesaat setelah insiden Sepang. Jadilah duel antara dua negara: Italia dan Spanyol. Indonesia ikut yang mana?

Sistem poin penalti

Kubu Rossi semakin panas karena mereka merasa peluang untuk merebut gelar juara pertama dalam enam tahun "diamputasi". Rossi dikenai tiga poin penalti gara-gara “tendangan” tersebut.

Karena sudah mendapat satu poin penalti di MotoGP San Marino, penalti poin Rossi menjadi empat. Sanksinya, memulai balapan di seri selanjutnya di Valencia, pada 8 November mendatang dari posisi paling buncit.

Bagi mereka yang belum tahu poin penalti, ini bukan pengurangan poin. Ini adalah sanksi yang ditentukan berdasarkan akumulasi poin. Aturan ini diberlakukan karena maraknya manuver berbahaya di kejuaraan dunia balap motor.

Setiap kesalahan dibobot dengan poin berkisar 1-10. Pada akumulasi tertentu, pembalap dikenai hukuman sebagai berikut.

Poin empat: Pebalap start dari urutan paling belakang pada seri berikutnya.

Poin tujuh: Pebalap start dari pit lane pada seri berikutnya.

Poin sepuluh: Pebalap didiskualifikasi dari race berikutnya.

Jika menyimak video rekaman kronologi "tendangan" Rossi kepada Marquez yang banyak beredar di sosial media, kita pasti dengan gampang menyimpulkan betapa Marquez memang berusaha memprovokasi Rossi.

Pebalap 22 tahun itu menempel ketat Rossi. Bahkan mendorongnya untuk keluar dari line. Terlihat jelas upaya juara dunia termuda itu untuk membuat Rossi marah. Kemudian terjadilah "tendangan maut" itu.

Baik Rossi maupun Marquez sejatinya memiliki alasan untuk melakukannya. Rossi punya alasan untuk menendang, sedangkan Marquez punya alasan untuk memprovokasi.

Membara sejak MotoGP Argentina

MotoGP Argentina pada 19 April adalah awal mula konflik Rossi versus Marquez. Hal ini juga sudah diakui oleh tim Repsol Honda. Bahkan manajer pembalap Honda Emilio Alzamora mengatakan bahwa tindakan Marquez tersebut merupakan balas dendam atas insiden di Argentina.

Saat itu Rossi dianggap melakukan manuver berbahaya yang mengakibatkan Marquez terjatuh dan gagal finis. "Aku mendapat konfirmasi dari Alzamora. Dia bilang Marc menganggap akulah yang membuatnya kehilangan titel juara dunia,” kata Rossi dalam jumpa pers di Malaysia.

Sebenarnya, apa yang terjadi di Argentina?

Di Negeri Tango tersebut, Rossi dan Marquez terlibat duel ketat di lap terakhir balapan. Keduanya saling overtake. Posisi motor Rossi sudah berada di depan Marquez saat roda belakang Yamaha YZR-M1 miliknya menyenggol roda depan pebalap Repsol Honda tersebut.

Marquez pun jatuh. Begitu jatuh, dia langsung berlari menuju motornya. Tapi karena mesin motor mati, dia sangat kesal sehingga memukuli Honda RC213V. Ekspresi kekecewaannya karena terjatuh terlihat jelas.

Coba simak betapa kecewanya Marquez dalam video berikut ini: 

Insiden gravel Assen

Marquez jelas kecewa terjatuh di Argentina. Sebab, dia bisa meraih poin besar dan bersaing untuk juara umum baik dengan finis di nomor satu maupun di posisi runner up. Namun karena terjatuh, dia tak dapat poin apa-apa. Bahkan terancam tak ikut bertarung dalam perebutan gelar juara. 

Tapi, insiden yang membuat hatinya terluka tak hanya itu. Insiden kedua terjadi di Sirkuit Assen, Belanda, pada 27 Juni.

Di putaran terakhir, Rossi kembali mempecundangi Marquez. Saat itu, keduanya saling menempel ketat di tikungan. Rossi sedikit berada di depan Marquez.

Tiba-tiba Rossi “menempuh” jalan pintas. Dia keluar lintasan dan menyasar gravel. Jarak tikungan pun berhasil ia pangkas. Posisi ketat keduanya berganti dengan Rossi di depan Marquez. Rossi pun mengklaim juara satu balapan di negeri kincir angin.

Meski melintasi gravel, tak ada sanksi apapun dari Race Director. Rossi tetap meraih posisi pertama, sedangkan Marquez di posisi kedua.

Simak bagaimana insiden tersebut di video ini: 

Marquez “membalas” di Australia

Dengan dua insiden tersebut, Marquez pun melancarkan “balas dendam”. Lokasinya di Australia saat sirkus MotoGP digelar di Phillip Island. Tak lagi memiliki peluang juara, Marquez pun terus menempel Rossi.

Bahkan, dia dianggap sengaja memelankan laju kendaraannya demi memberi ruang bagi Jorge Lorenzo dan mengganggu Rossi. 

Marquez mengaku memperlambat laju motornya dalam balapan yang digelar pada 18 Oktober itu. Namun dia membantah aksi itu sengaja untuk menahan Rossi masuk ke posisi tiga besar.

"Tentu saja tidak. Jika saya ingin membantu Lorenzo, saya tidak akan menyalip dia di putaran terakhir. Saya tidak akan memacu motor saya sampai ambang batas dan tidak akan mengambil risiko. Saya tidak tahu kenapa Rossi mengatakan hal itu," ujarnya dalam konferensi pers jelang MotoGP Malaysia.

Rossi dalam konferensi pers itu menuding Marquez membantu Lorenzo. Sebelum menyalip Lorenzo, Rossi menuduh Marquez menahannya agar tetap berada di belakang pembalap Ducati, Andrea Ianonne. Akibatnya, Rossi harus puas finis di posisi keempat.

Dengan fakta-fakta tersebut di atas, ada kemungkinan kedua pembalap memang memiliki “unfinished business”. Terutama di tiga balapan tersebut.

Dengan tensi balapan yang semakin panas, dendam di antara keduanya akhirnya meledak di Sirkuit Sepang. Tapi, mereka punya alasan kuat untuk merasa benar. Begitu juga kamu. Merasa punya argumen kuat untuk membela Rossi atau Marquez. Meski dua-duanya juga tak benar-benar amat. — Rappler.com

BACA JUGA: