Wawancara khusus Rappler dengan Jusuf Kalla: Indonesia perjuangkan sawit di APEC

JAKARTA, Indonesia — Indonesia akan memanfaatkan pertemuan tahunan organisasi kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC), di Manila, Filipina, pekan ini untuk memperjuangkan produk minyak sawit yang berkelanjutan. 

“Ini masuk dalam kategori development goods, barang penunjang pembangunan. Industri sawit kita menyerap tenaga kerja yang banyak,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam wawancara khusus dengan Rappler, di kantornya di kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 13 November.

Forum yang melibatkan 21 negara anggota APEC itu akan dimanfaatkan untuk melobi negara maju, termasuk Amerika Serikat yang selama ini mengkritisi produk sawit. 

“Kalau di antara sesama anggota APEC bisa menyepakati sawit sebagai barang penunjang pembangunan, tentu akan lebih murah bagi kita mengekspor minyak sawit ke negara anggota APEC,” kata Kalla.

Upaya Indonesia melobi soal minyak sawit di forum APEC sudah berlangsung sejak pertemuan APEC di Vladivostok, Rusia, pada 2013.  Saat itu Tiongkok juga memperjuangkan bambu sebagai barang penunjang pembangunan. 

Kalla akan hadir mewakili Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam pertemuan antar pemimpin ekonomi APEC. Jokowi memilih untuk hadir dalam konferensi tingkat tinggi negara anggota G-20 di Antalya, Turki, yang berlangsung pada 15-16 November 2015. 

Sementara acara pemimpin ekonomi APEC berlangsung 18-19 November 2015.  

Dua pekan lalu, Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit Indonesia juga melakukan upaya promosi dan advokasi tentang produk minyak sawit Indonesia di Eropa.

Mengapa Jokowi tidak datang ke Manila?

Ketika ditanya kenapa bukan Jokowi yang hadir ke APEC, Kalla menepis rumor bahwa presiden menepikan kepentingan organisasi se-Asia Pasifik itu.

“Tidak, tidak benar Indonesia kurang perhatian ke APEC. Ini karena waktunya terlalu berdekatan.  Jangan lupa, pertemuan APEC pertama dilakukan di Indonesia,” kata Kalla. 

Dari Turki, Jokowi akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asosiasi Negara di Asia Tenggara (ASEAN) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.

Selain Jokowi, Presiden Rusia Vladimir Putin kali ini juga absen dari pertemuan pemimpin ekonomi APEC di Manila.  

Ke-21 negara anggota APEC menguasai sekitar 57 persen dari produk domestik bruto dunia. 

Presiden AS Barack Obama dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan hadir di Manila.  

Apakah Kalla akan bicara soal TPP dengan Obama?

Kehadiran Kalla di APEC juga patut ditunggu, apakah ia membicarakan soal keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Kemitraan Trans-Pasifik, atau Trans-Pacific Partnership (TPP).

“Sementara posisi Indonesia mempelajari.  Di mana letak positifnya, negatifnya, apa efeknya," kata Kalla.

Sebelumnya, Jokowi dalam kunjungan ke AS baru-baru ini mengindikasikan Indonesia akan bergabung dengan TPP setelah bertemu dengan Presiden Barack Obama di AS.

"Sebelum ikut serta kan kita harus pelajari betul isi dokumen TPP. Negara lain juga butuh waktu dua tahun untuk mempelajari, negosiasi, dan meratifikasi. Kita juga belum buru-buru ke sana.  Namanya menunjukkan minat,” kata Kalla.

Ia mengatakan bahwa di kawasan ASEAN, sudah ada kerjasama ASEAN-Tiongkok. Indonesia juga memiliki kerjasama kemitraan komprehensif dengan Jepang, dan sedang dibahas dengan Tiongkok. 

“Dengan AS belum. Kita pelajari TPP. Karena kalau kita tidak masuk, maka produk ekspor kita akan didiskriminasi. Produk pertanian kita akan kekurangan pasar. Malaysia, Singapura, dan Vietnam sudah meratifikasi TPP. Kita bisa kalah bersaing dengan mereka,” kata Kalla. —Rappler.com

BACA JUGA: