Wajah perang Suriah dalam sosok Omran Daqneesh

JAKARTA, Indonesia — Anak laki-laki itu duduk diam. Tubuhnya diselimuti debu dan darah — tapi ia tidak menangis. Ia bahkan tidak bersuara sama sekali. Tapi teror dan rasa terkejut tampak jelas di wajahnya yang tak berekspresi.

Trauma yang melanda ratusan ribu anak-anak yang terjebak perang sipil Suriah yang seakan tak ada hentinya terangkum dalam video yang diunggah pada Rabu, 17 Agustus, dan menjadi viral di media sosial ini.

Video berdurasi 1 menit 48 detik tersebut diunggah Aleppo Media Center pada Rabu, dan memperlihatkan dampak usai munculnya situasi darurat, yang kemungkinan besar terjadi setelah suatu serangan udara di Aleppo. 

Video ini diawali seorang petugas penyelamat yang menggendong anak kecil tersebut, yang dilaporkan Al-Jazeera telah diidentifikasi anggota tim relawan penyelamat yang berbasis di Aleppo, Khaled Khaled, sebagai Omran Daqneesh.

Omran digendong ke dalam ambulans dan diletakkan di atas kursi. Sang relawan kemudian segera keluar ambulans untuk membantu korban lain menyelamatkan diri dari reruntuhan, sementara kamera memperbesar fokus pada Omran yang tidak bersuara sama sekali. 

Ia tidak menangis, tapi sosoknya yang hening dan diselimuti debu dan darah tampak mengiris hati sekaligus mencekam. 

Anak yang berusia lima tahun itu kemudian mengusap darah yang melumuri sisi kiri wajahnya, memandangi tangannya, lalu melihat sekelilingnya, seakan menyelidiki tempat duduknya.  

Dua anak lainnya, satu putri dan satu putra, yang diselamatkan dari reruntuhan kemudian bergabung dengan Omran, yang disebut TIME sebagai “anak lelaki dalam ambulans.” Ketiganya tidak bersuara sama sekali, tercengang akan apa yang baru saja mereka alami.

Keaslian video ini belum bisa dikonfirmasi, tapi AMC adalah kelompok aktivis yang terkenal di kota tersebut, menurut CNN.

Aleppo, yang pernah menjadi pusat ekonomi Suriah, kini adalah salah satu zona petempuran di negara yang dicabik-cabik perang itu. 

Sejak pertengahan 2012, Aleppo terbelah akibat penguasaan kekuatan oposisi di timur dan pemerintah di barat. 

Pertempuran demi menguasai mantan pusat ekonomi Suriah ini menjadi semakin intens sejak pasukan rezim pemerintah merebut kontrol rute terakhir suplai menuju area yang diduduki kelompok pemberontak pada pertengahan Juli.

Lebih dari 290 ribu orang telah terbunuh dan jutaan mengungsi sejak awal perang sipil Suriah, yang dimulai pada 2011 dengan protes anti rezim berkuasa. –Dengan laporan dari AFP/Rappler.com