Dua warga antitambang Tumpang Pitu dikabarkan tewas

BANYUWANGI, Indonesia—Dua warga di kawasan Gunung Tumpang Pitu, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dikabarkan ditembak saat melakukan unjuk rasa di lokasi tambang emas tersebut, Rabu, 23 November kemarin. 

"Kami mendapat informasi dua warga tertembak, namun belum bisa memastikan apakah mereka benar-benar tertembak karena aparat kepolisian hanya menggunakan peluru karet," kata Kapolres Banyuwangi, AKBP Bastoni Purnama, di Banyuwangi.

Ia mengatakan jumlah warga yang melakukan demonstrasi penolakan tambang emas Tumpang Pitu tersebut sekitar 600 orang dan jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan jumlah aparat kepolisian gabungan sebanyak 400 personel.

"Ada satu anggota Polres Banyuwangi yang terluka akibat lemparan batu para pengunjuk rasa hingga harus mendapat perawatan di klinik PT BSI dan beberapa anggota lain juga terkena pukulan batu tersebut," tuturnya.

Bastoni menjelaskan massa telah melakukan tindakan vandalis dengan membakar sejumlah sarana dan prasarana milik PT BSI di sekitar lokasi penambangan emas di Kecamatan Pesanggaran.

"Massa membakar kendaraan penambang, kantor pengamanan, dan kem milik PT BSI. Kemarahan warga antitambang itu merupakan akumulasi puncak tuntutan penutupan tambang emas di Tumpang Pitu, namun kami duga ada provokator hingga menyebabkan warga berbuat anarkis," paparnya.

Ia mengatakan warga menolak keras keberadaan tambang emas di Tumpang Pitu, namun sejauh ini aparat kepolisian tidak bisa menutup tambang itu karena semua izin yang dimiliki PT BSI sesuai dengan prosedur.

"Kami terus berupaya melakukan negoisasi dengan warga, agar suasana kondusif di sekitar pemukiman warga di Kecamatan Pesanggaran," katanya.

Pantauan di lapangan, situasi di sekitar lokasi penambangan emas di Tumpang Pitu hingga Rabu malam masih mencekam dan seratusan personel aparat kepolisian siaga satu untuk mengamankan lokasi tambang emas tersebut. 

Penyerbuan warga ke area tambang emas Tumpang Pitu itu adalah bentuk kekecewaan karena hingga kini kawasan tambang tersebut tidak ditutup. PT BSI  terus melakukan ekslpoitasi tambang emas meski seluruh warga menolak pertambangan tersebut.

Aparat: Aktivitas tambang emas sudah sesuai prosedur

Menurut laporan media lokal Banyuwangi Times, kontroversi keberadaan tambang emas di gunung Tumpang Pitu, di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, sudah berlangsung beberapa hari sebelumnya.

Pertemuan atau mediasi antara warga sekitar lokasi dan pihak pengelola PT Bumi Suksesindo (BSI) di Mapolres Banyuwangi, digelar pada Selasa, 20 November, tapi warga tetap menolak.

Dalam pertemuan yang dihadiri antara lain Badan Pelayanan perizinan Terpadu (BPPT), Bappeda, Badan lingkungan Hidup, Perhutani serta Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama, Kepala BPPT Abdul Kadir, menyampaikan bahwa aktivitas tambang emas Tumpang Pitu sudah sesuai prosedur.

"Izin PT BSI ini sudah lengkap dan sesuai aturan, jadi sudah tidak ada masalah," katanya

Kepala Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi, Chusnul Khotimah, juga menyampaikan uji analisis dan dampak lingkungan penambangan emas sudah sesuai aturan dan disetujui oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur.

Usai mendengar pemaparan panjang lebar dari instansi lainya, seperti dari Dishubkominfo dan Kapolres, warga tetap bersikeras menolak keberadaan tambang emas di gunung Tumpang Pitu. Sebab keberadaan tambang emas dinilai hanya akan meninggalkan kerusakan lingkungan.

Harta karun di Pulau Merah

Kandungan emas di Tumpang Pitu tidak hanya menarik pengusaha dan warga tapi juga 21 ahli geologi dan peneliti pertambangan dari dalam dan luar negeri.  Mereka antara lain Society of Economic Geologists (SEG), CODES University of Tasmania, Australia, dan Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI). 

Ketua rombongan, Prof David Cooke menyebutkan, para peneliti itu tinggal selama dua hari di Pulau Merah. Mereka melihat dari dekat kondisi bebatuan Pulau Merah, sekaligus observasi terkait aktivitas pertambangan yang ada.

"Pulau Merah itu istimewa. Selain kandungan emasnya dinilai terbaik di dunia, bebatuan yang ada di sana bagaikan laboratorium alam yang luar biasa yang langsung bisa kita saksikan," ujar guru besar CODES University of Tasmania itu. —laporan dari Antara/Rappler.com

BACA JUGA