Zika merebak, penumpang dari Singapura jalani tes kesehatan di bandara

Seorang penumpng menunjukkan brosur informasi mengenai virus Zika di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Foto oleh Fariz Fardianto

Seorang penumpng menunjukkan brosur informasi mengenai virus Zika di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang.

Foto oleh Fariz Fardianto

SEMARANG, Indonesia – Kasus penularan virus Zika yang merebak di Singapura membuat para penumpang pesawat menjalani pemeriksaan ketat di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah pada Rabu, 31 Agustus.

Proses pemeriksaan melibatkan tim medis gabungan dari KKP, yang dibantu tim dokter Dinas Kesehatan (Dinkes) serta puskesmas setempat. Tim medis meminta para penumpang pesawat Silk Air rute Singapura-Semarang untuk menjalani pemeiksaan ketat setibanya di bandara.

Tri Hartiningsih, seorang penumpang Silk Air mengaku terkejut dengan proses pemeriksaan kesehatan yang dilakukan petugas bandara. "Sampai kaget ini ada apa kok tiba-tiba banyak petugas kesehatan di depan lorong penumpang internasional," ujar Tri kepada Rappler.

Wanita berusia 65 tahun itu baru saja menengok cucunya yang tinggal di Punggul, Singapura. Selama enam hari di Negeri Singa itu, ia mengatakan tidak banyak tahu soal penyebaran virus Zika. Sebab, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani cucunya di dalam rumah.

"Tapi kurang tahu penyakit apa itu. Baru sadar ketika berada di bandara pas mau terbang ke Semarang. Ternyata, di sana pun banyak pemeriksaan virus Zika," kata Tri.

Begitu lolos pemeriksaan, ia mendapatkan brosur informasi tentang virus Zika. Ia lega karena telah dinyatakan lolos screening kesehatan di Bandara Ahmad Yani.

Isvalia, penumpang pesawat lainnya, cukup was-was dengan wabah Zika yang muncul saat ini. Apalagi, ia pernah berpergian ke luar negeri untuk keperluan keluarganya.

"Makanya, saya senang saat ada pemeriksaan kesehatan di sini. Karena pengaruhnya ke depan bisa membuat bayi mengalami cacat fisik," katanya, seraya menambahkan bila kini keluarganya juga mewaspadai penyebaran virus tersebut saat melancong ke Singapura.

Semarang waspada

Sementara itu, Kepala KKP Kota Semarang, Priagung AB mengaku langsung bergerak cepat saat tahu penyebaran Zika meluas di dataran Singapura. Informasi terkini, terdapat 41 warga di Singapura yang tertular Zika.

"Dan itu bahaya bagi ibu hamil. Karena bayinya sangat rentan mengalami mikrosivali yang mengakibatkan kepala si jabang bayi mengecil," terang Priagung.

Orang yang terjangkit Zika dapat dikenali dari ciri-ciri badan mengalami demam tinggi, ruam atau kemerahan, lalu badan menjadi lemas serta mengalami kondungtivitis atau mata memerah.

Ia menyampaikan pencegahan virus Zika kini dilakukan bandara dengan memperkerat pemeriksaan kesehatan. Tiap penumpang pesawat tujuan Singapura, mulai Selasa kemarin menjalani cek terma-screner agar mengetahui temperatur suhu tubuh usai mendarat di bandara. Penumpang, katanya juga dibekali panduan informasi kewaspadaan virus Zika.

"Kita lakukan deteksi dini pakai terma-screner untuk memantau suhu tubuh secara massal. Yang lebih 38 derajat akan discrening ulang. Jika ditemukan gelaja Zika, maka kita rujuk ke puskesmas maupun RSUP Dr Kariadi," sambungnya.

Status waspada virus Zika bakal diberlakukan sampai Singapura benar-benar bersih dari penyakit berbahaya tersebut. "Di sini, ada 8 petugas yang mengecek suhu tubuh penumpang internasional dibantu dokter spesialis penerbangan dan dinas terkait," ucapnya.

"Pencegahan virus Zika tak hanya dilakukan di bandara, namun juga menyeluruh ke semua pintu masuk Semarang salah satunya Pelabuhan Tanjung Emas," imbuhnya.

Sedangkan otoritas Bandara Ahmad Yani menyatakan bahwa untuk sore ini terdapat 320 penumpang Silk Air yang mendarat pukul 15:00 WIB. Penumang Airasia yang tiba pukul 16:00 WIB juga menjalani pemeriksaan serupa.

Penerbangan internasional tujuan Semarang sesuai jadwal ada tiga kali seminggu yakni tiap Senin, Rabu dan Jumat.

Humas RSUP Dr Kariadi, Parna secara terpisah menyatakan siap menampung orang-orang yang terjangkit Zika. "Kami sudah punya sebuah ruang isolator untuk menangani pasien yang diduga kena Zika," jelasnya. – Rappler.com