Indonesia bermitra dengan Iran kembangkan nuklir untuk perdamaian

ATA
Kemungkinan ini terbuka pasca pertemuan Dubes Valiollah Mohammadi dan Wapres Jusuf Kalla.
Seorang penjaga di depan fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran. Foto oleh: Abedin Taherkenareh/EPA
JAKARTA, Indonesia — Meski masih menjadi pro-kontra, pemerintah harus tetap membuka kemungkinan untuk segera mengembangkan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia. Inilah hasil pertemuan bilateral antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi di kantor Wakil Presiden di Jakarta, Kamis, 30 Juli.
Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 mengamanahkan bahwa pada periode ketiga pembangunan jangka menengah di tahun 2015 hingga 2019, nuklir harus mulai dipertimbangkan sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.
Meski masih ragu untuk memulai sendiri, pemerintah Indonesia pun melirik Iran sebagai mitra. Pasalnya, terdapat kemungkinan Iran akan segera mengirimkan delegasinya ke Indonesia untuk mendiskusikan tentang pengembangan nuklir di tanah air.
“Tadi Pak Dubes tidak sempat menyampaikan (kepada media), tetapi dia mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini akan ada tiga delegasi yang datang dari Iran,” kata Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik Dewi Fortuna Anwar, sebagaimana dikutip oleh media.
“Delegasi terkait ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, teknologi yang canggih itu tentu saja di antaranya bidang nuklir,” ujar Dewi.
Meski tidak secara gamblang menyebut teknologi nuklir, Valiollah mengungkapkan bahwa negaranya terbuka untuk membagikan pengalaman mereka mengembangkan teknologi canggih. 
“Republik islam Iran siap berkerjasama dengan negara-negara sahabatnya untuk membagikan pengalaman di bidang teknologi-teknologi canggih sesuai dengan peraturan internasional,” kata Valiollah. 
Iran lebih leluasa kembangkan nuklir
Sempat menjadi sumber keresahan di tingkat global, program pengembangan teknologi nuklir Iran kini telah mendapatkan “lampu kuning”.
Ini terjadi pasca lahirnya Iran nuclear deal dalam perundingan mereka dengan P5+1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Uni Eropa) medio Juli ini. (BACA: Kisah cokelat Mozart di Palais Coburg)
Asal tak melangkahi koridor kesepakatan, Iran kini relatif lebih leluasa untuk melakukan riset dan pengembangan dalam bidang teknologi nuklir. —Rappler.com