Tak hanya Sumatera dan Kalimantan, kabut asap juga selimuti Timika

Rappler.com
Tak hanya Sumatera dan Kalimantan, kabut asap juga selimuti Timika
"Hot spot di daerah Merauke dan sekitarnya termasuk Mappi bertambah banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kita tidak bisa memastikan apakah itu akibat pembakaran lahan oleh masyarakat atau karena terbakar dengan sendirinya"

TIMIKA, Indonesia — Aktivitas penerbangan dari dan ke Bandara Moses Kilangin Timika, Papua, hingga Jumat, 16 Oktober, lumpuh total akibat kabut asap yang semakin tebal di wilayah itu.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Mimika John Rettob mengatakan aktivitas penerbangan di Bandara Timika lumpuh sejak Kamis. 

“Tadi siang sekitar pukul 13.00 WIT kami memutuskan bahwa tidak ada lagi pesawat yang masuk Timika karena kabut asap semakin pekat dengan jarak pandang hanya sekitar 400 meter. Kita berharap mudah-mudahan esok kondisi cuaca jauh lebih baik sehingga semua aktivitas penerbangan kembali normal,” kata John.

John mengaku menerima telepon dari para penumpang yang berada di Jakarta, Denpasar, Makassar dan Jayapura yang menanyakan kondisi cuaca di Timika. Para penumpang tersebut mengaku tidak mendapat kepastian jadwal keberangkatan mereka kembali ke Timika.

“Kami sudah berupaya menjelaskan kepada para penumpang bahwa sebenarnya mereka bukan diterlantarkan, tetapi kondisi cuaca kita di Timika memang demikian. Para pilot dari semua operator penerbangan juga masih menunggu kondisi cuaca di Timika bisa membaik atau tidak. Kalau kondisi cuaca baik maka tentu pesawat bisa berangkat, demikianpun sebaliknya,” ujar John. 

 


Titik panas terdeteksi di Papua

Kabut asap yang menutupi Kota Timika merupakan kabut asap kiriman dari wilayah Merauke, Mappi dan sekitarnya.

Prakirawan pada Stasiun Meteorologi Kelas III Timika Fitria Nur Fadillah mengatakan berdasarkan data pantauan satelit Tera & Aqua jumlah hot spot (titik panas) di wilayah Merauke, Mappi dan sekitarnya kini terus bertambah sehingga memicu kabut asap pekat di sejumlah wilayah pesisir selatan Papua seperti Timika, Asmat dan lainnya.

Hot spot di daerah Merauke dan sekitarnya termasuk Mappi bertambah banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kita tidak bisa memastikan apakah itu akibat pembakaran lahan oleh masyarakat atau karena terbakar dengan sendirinya,” kata Fitria. 

Ia mengatakan asap yang ditimbulkan akibat kebakaran di wilayah Merauke dan sekitarnya itu menimbulkan efek yang sangat terasa di wilayah Timika dan daerah lain di pesisir selatan Papua.

Kendati praktik membuka lahan dengan cara membakar sudah berlangsung bertahun-tahun di wilayah Merauke dan sekitarnya, namun pada tahun-tahun sebelumnya kabut asap tersebut tidak sampai mengganggu penerbangan di Bandara Timika.

Hal itu lantaran pada tahun-tahun sebelumnya Kota Timika selalu diguyur hujan cukup lebat. Namun tahun ini, katanya, asap akibat pembakaran lahan di wilayah Merauke itu sangat mengganggu kondisi cuaca di Timika lantaran adanya fenomena el nino.

“Dengan curah hujan yang sangat berkurang, ditambah hot spot di daerah Merauke dan angin yang bergerak dari arah tenggara maka dampaknya sangat terasa di Timika,” ujarnya.

Fitria memperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung dalam waktu yang cukup panjang jika tidak ada upaya untuk memadamkan titik api di wilayah Merauke dan sekitarnya.

Apalagi, lanjutnya, kondisi el nino atau kekeringan yang melanda wilayah Indonesia bagian selatan diperkirakan akan berlangsung hingga Januari 2016. Adapun potensi hujan di wilayah Timika dan sekitarnya saat ini sesuai data BMKG sangat kecil.

“Kalaupun ada hujan, mungkin hanya hujan gerimis atau hujan ringan,” kata Fitria. — Laporan dari Antara/Rappler

BACA JUGA: 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.