Konsumsi buah butuh revolusi mental

Kokok Herdhianto Dirgantoro
Konsumsi buah butuh revolusi mental
Kehadiran Presiden Jokowi ke Festival Bunga dan Buah Nusantara membawa angin segar bagi produsen buah nasional.

JAKARTA, Indonesia – Setahun ini, pemerintah fokus pada peningkatan Padi, Jagung, Kedelai (Pajale). Akan tetapi fokus itu akan ditambah lagi dengan peningkatan buah lokal.

Hal ini menyusul pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kegiatan Festival Bunga dan Buah Nusantara, 27 – 29 November 2015 di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Presiden Jokowi mengaku pemerintah akan memperhatikan produksi buah lokal.

Bagaimana pola konsumsi buah masyarakat?

Konsumsi sehat buah-buahan per tahun di dunia adalah 65-70 kg untuk satu orang. Tapi orang Indonesia hanya mengkonsumsi separuhnya. Tapi sebenarnya bukan karena tidak ada buah melainkan daya beli masyarakat yang rendah.

Namun dengan perekonomian Indonesia yang terus tumbuh dari tahun ke tahun- apalagi di bawah kepemimpian Jokowi #eaaa #dibullyhaters-konsumsi buah diyakini akan terus meningkat.

Tapi pertanyaannya, ketika era itu terjadi, akan kah buah lokal menjadi tuan rumah atau tergerus buah impor? Mari kita hitung!

FESTIVAL BUAH. Pengunjung melihat aneka bunga dan buah saat Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) 2015 di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Jabar, 27 November 2015. Foto oleh ANTARA Foto.

Nilai buah nasional ditekan buah impor

Pertumbuhan konsumsi buah nasional mencapai 12-15 persen per tahun. Di samping itu, total impor buah ke Indonesia terus menerus digaungkan sangat rendah, di bawah 5 persen. (Angka ini yang kemudian akan saya pertanyakan dalam tulisan berikutnya)

Dari jumlah itu memang tidak terlalu mengkhawatirkan kalau buah nasional akan tergerus buah impor. Sebab total produksi buah nasional mencapai 19-20 juta ton. Sementara impor buah ke Indonesia sekitar 500-an ribu ton. Tapi tunggu dulu, itu kalau dilihat dari beratnya, lalu bagaimana dengan nilainya?

Jika dilihat dari nilainya, impor buah ke Indonesia mencapai Rp 8,9 triliun. Sementara, ekspor buah Indonesia hanya sekitar 1-2 persen total buah produksi dalam negeri, atau 37,8 ribu ton. Nilainya hanya Rp 309 miliar.

Apa artinya? Setiap ton buah impor memiliki nilai Rp 17 juta. Sementara setiap ton buah ekspor Indonesia dihargai Rp 8 juta. Sungguh jauh ketimpangan harga antara buah lokal  berkualitas ekspor dan buah impor yang masuk ke dalam negeri.

Sayangnya saya tidak menemukan data berapa total nilai konsumsi buah dalam negeri. Jika ada valuasinya, tentu dapat diperbandingkan dengan total nilai buah impor ke Indonesia. Benarkah sungguh-sungguh di bawah 5 persen?

Pusing ya memikirkan angka-angka? Tinggal baca saja pusing, bagaimana yang menulis hahaha #curcol. Yang pasti saya tidak percaya buah impor tidak mengganggu buah lokal.

Mengapa? Dari sisi harga saja terlihat buah impor masuk di kelas menengah atas pada awalnya. Namun pada titik-titik tertentu, buah impor akan masuk ke menengah bawah.

Bagaimana fenomena jeruk shantang dari Tiongkok masuk dengan harga yang sedemikian murahnya di pinggiran jalan hanyalah tips of iceberg yang akan dihadapi dunia perbuahan nasional di masa yang akan datang.
BUAH IMPOR. Ilustrasi. Buah impor beredar di pasaran. Foto oleh ANTARA Foto

Revolusi mental konsumsi buah nasional

Konsumsi tertinggi buah di Indonesia adalah konsumsi rumah tangga. Sekitar 35 – 40 persen konsumsi buah nasional dilakukan oleh rumah tangga. Biasa disebut buah meja.

Empat buah meja terpopuler adalah apel, jeruk, pir, pisang. Hanya pisang yang Indonesia masuk 10 besar negara penghasil pisang terbanyak. Untuk apel, jeruk dan pir, Indonesia tertinggal jauh.

Rasanya perlu ada revolusi mental dalam budaya mengkonsumsi buah terutama buah meja. Bahwa banyak buah lokal yang cukup dikupas tanpa menggunakan pisau untuk memakannya.

Jeruk lokal, Pisang, dan Salak rasanya dapat dijadikan pilihan. Jeruk lokal seperti Medan, Siam (Jawa), dan Pontianak rasanya tidak kalah rasa maupun harganya dibanding jeruk impor.

Hanya masalah buah yang tidak standar kulit dan ukurannya–masalah terbesar di dunia buah nasional. Saya sempat membaca di sebuah berita, Jeruk impor mencapai 30 persen dari total impor buah nasional.

Buah meja musiman atau sepanjang tahun juga harus dilakukan kampanye khusus. Misalnya kedondong, sawo, rambutan, dan lain-lain. Ini juga harus dikampanyekan.

Tidak usah pakai iklan dengan artis-artis mahal. Apalagi ditayangkan secara masif di televisi menggunakan APBN, itu pemborosan dan tak terukur hasilnya. Cukup Presiden, Wapres, Menteri-menteri lainnya pamer foto makan buah lokal musiman via sosial media.

Lalu dari Kementerian Pertanian menggandeng pakar nutrisi untuk menjelaskan kandungan dalam buah. Lalu disambung kultwit mengenai cerita petani buah yang bersangkutan, tentang cara menanam, perawatan, panenan, hingga cara memilih buah yang paling enak rasanya. Cukup lewat sosial media. Mudah, murah, dan akan banyak diikuti masyarakat.

Setelah konsumsi buah meja, konsumsi terbanyak berikutnya adalah buah untuk industri. Produknya bisa jus, buah kering, juga kalengan. Jenisnya banyak.

Ini yang sempat disinggung oleh Presiden Jokowi, bahwa produksi buah harus masuk industrialisasi. Mungkin bisa dimulai dengan produk-produk unggulan yang RI masuk 10 besar dunia seperti Pisang, Mangga, jambu biji (guava), Nanas, dan Rambutan. Nanas adalah produk unggulan ekspor Indonesia dalam bentuk olahan.

Selain buah yang kelanjutan produktivitasnya sudah teruji, pemerintah harus mulai mempersiapkan komoditas-komoditas baru yang mulai muncul. Misalnya buah Naga.

BUAH IMPOR. Ilustrasi. Buah impor beredar di pasaran. Foto oleh ANTARA Foto.

Dorong persaingan buah naga di pasar internasional

Di Asean, hanya Vietnam yang berjaya memiliki kebun buah naga dengan skala besar. Indonesia bisa mengejarnya. Pasarnya pun besar.

Tiongkok mengimpor Pisang, Buah Naga dan Durian cukup besar. Pisang mencapai 22 persen dari total impor buah-buahan di Tiongkok. Buah Naga 16 persen, dan Durian sekitar 10 persen.

Kendati Indonesia masuk 10 besar penghasil pisang terbanyak, secara volume panen tahunan kalah jauh sekali dengan India, bahkan dengan Tiongkok.

Namun untuk buah Naga, Indonesia masih punya peluang besar. Demikian juga dengan Durian. Dalam produk segar maupun olahan, komoditas tersebut dapat diserap oleh pasar dunia. Butuh industrialisasi untuk mendukungnya.

Hotel bisa berdayakan buah nasional

Bagian konsumsi besar berikutnya adalah hotel dan katering. Biasanya didominasi semangka, melon, nanas, pepaya. Ada baiknya untuk hotel-hotel berbintang empat atau lima, mulai memperkenalkan buah-buah eksotik asal Indonesia.

Mereka pasti belum pernah mengkonsumsi buah-buah yang lezat dan unik seperti Ciplukan, Jamblang/Juwet, Langsep, Kecapi, Kenitu/Apel Susu/Sawo Duren, Gandaria, Rukem, Kawis/Kinco, Cerme dan lain sebagainya.

Tamu-tamu hotel bahkan tamu negara dapat diajak ‘uji nyali’ makan buah-buahan unik tersebut. Jika memungkinkan, maskapai penerbangan ke luar negeri juga menyediakan buah-buah eksotik ini sekalian promosi bahwa Indonesia adalah surga buah-buahan eksotik.

Rasanya upaya menarik investor untuk melakukan penanaman modal langsung dalam pengolahan industri berbasis buah lokal masih banyak tantangan. Masalah infrastruktur, perizinan hingga kepastian pasokan.

Senyampang pemerintah tengah mematangkan pembangunan infrastruktur, ada baiknya fokus di perubahan kebiasaan konsumsi buah untuk rumah tangga, hotel, katering dan pesawat. Ini lebih mudah dilakukan.

APEL IMPOR. Apel impor di jual di pasar swalayan. Foto oleh ANTAR Foto

Pentingnya data

Sampai saat ini masalah data berikut informasi mengenai buah sangat sulit dipercaya. Perlu rasanya pemerintah lebih fokus dalam pengadaan data yang lebih sesuai keadaan agar kebijakan terkait buah nasional tidak salah karena menggunakan basis data yang keliru.

Misalnya buah asing hanya 3-5 persen dari total pasokan buah nasional. Ternyata itu dihitung berdasarkan berat, bukan atas nilai per ton. Bukan atas penguasaan buah impor terhadap konsumsi buah meja nasional.

Ya, itulah data di Indonesia. Susah sekali dipercaya. Dan negeri ini harus mengambil kebijakan berdasarkan angka yang salah. Sudah dirasakan tahun ini terkait beras dan jagung.

Akibatnya cukup besar. Ramalan yang kelewat optimistis membuat Indonesia tak membuat perjanjian pembelian beras jangka panjang, akibatnya saat gudang bulog kurang pasokan, beli berasnya dengan kontrak mendadak, ya jelas harganya lebih mahal.

 

Salah baca data berujung kerugian

Sama juga dengan ramalan tentang produksi jagung yang dikabarkan bakal melimpah yang kemudian disusul kebijakan nasionalisme buta bernama stop impor jagung. Akibatnya harga jagung pakan melejit hingga Rp4000-5000/kg dari Rp3000-an.

Petani jagung mendapat banyak untung, tapi peternak ayam petelur hancur pendapatannya. Biaya pakan ayam petelur itu 50-60 persen dari total biaya produksi.

Dengan kenaikan jagung pakan yang sedemikian tinggi maka peternak merugi. Harga telur saat ini eceran per kilogram mencapai Rp 20-21 ribu. Jika naik terus, yang mengalami beban terberat adalah menengah bawah karena lauk utama adalah tahu, tempe dan telur.

Jangan sampai data yang salah juga ditemukan di buah-buahan dan digunakan sebagai sandara kebijakan. Bisa sesat jadinya.

Sudah seharusnya kebijakan didasarkan pada data yang dapat dipercaya. Termasuk juga buah-buahan. Semoga buah lokal dapat terus berjaya dan petaninya sejahtera.—Rappler.com

Baca Juga:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.