Bincang Mantan: Kenapa masih bicara buruk soal mantan?

Bincang Mantan: Kenapa masih bicara buruk soal mantan?
Mantan adalah cerminan seleramu, berhentilah menjelek-jelekkan mantan kamu

Kedua penulis kolom baru Rappler, Bincang Mantan, adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius.

Adelia Putri: Utamakan diri sendiri dulu saja

Bincang mantan akhirnya ngomongin mantan. Awkward.

Kalau kata guru saya dulu, batasan cinta dan benci itu sangat tipis. Terlalu cinta bisa langsung berubah wujud jadi terlalu benci dalam sekejap, apalagi kalau urusannya dengan patah hati.

Putus dari sebuah hubungan, mau sebaik-baik apapun, pasti meninggalkan perasaan mengganjal, dan sepertinya sudah kodrat manusia untuk melampiaskan emosi melalui self-disclosure (saya tidak tahu Bahasa Indonesianya apa, maaf), alias cerita-cerita. 

Cerita-cerita tentang kegundahan hati baik dari diri sendiri maupun dari teman-teman yang ingin tahu, pasti akhirnya akan menyerempet ke cerita tentang apa yang salah dari hubungan dan pasangan kalian.

Sebagai orang yang disenggol dikit curhat, saya tahu benar efek dari berbagi cerita saat gundah gulana. Kesedihan itu konon lebih cepat hilang ketika dibagi, semacam proses detoks, dan buat saya, kalau itu termasuk harus ngomongin jelek si mantan ya tidak apa-apa, asal masih wajar batas omongan dan lingkup orang yang diajak bicara. 

Mungkin terdengar egois, tapi saya penganut mahzab Whitney Houston yang bilang kalau cinta diri sendiri itu harus diutamakan, sehingga ketika patah hati atau disakiti, buat saya, kembali waras adalah tujuan utama yang harus dicapai apapun caranya. Dan iya, kalau itu membutuhkan cerita ke sahabat-sahabat tentang apa yang salah, kenapa tidak? (Tapi sekali lagi, apa yang “salah” lho, bukan fitnah atau bongkar aib yang tidak relevan. Ghibah dan fitnah itu beda tipis.)

But then again, ketika kamu emosi, sangat susah memilah apalagi memproses informasi yang keluar. Kita terkadang lupa kalau sebuah hubungan itu adalah arus dua arah, jadi ketika ada yang rusak, pasti ada kesalahan dari kedua belah pihak meskipun dalam kadar berbeda — sebrengsek apapun mantan kamu itu.

Kalau kamu merasa dia terlalu posesif dan mengekang, mungkin ada kesalahan dari kamu yang lupa menetapkan batas teritori dan kedaulatan pribadi kamu secara eksplisit. Kalau dia terlalu cemburuan, mungkin komunikasi kalian berdua kurang efektif. Kalau dia membuat kamu jadi orang “enggak bener”, mungkin kamu juga yang kurang kuat menahan diri. 

Kalau dia selingkuh…. ya, itu sih pengecualian. Good for you kalau kamu bisa ninggalin dia dan anggap aja ngatain dia sebagai hadiah penghibur sakit hati. Salah. Sendiri. Selingkuh. (Kok jadi emosi?)

Tapi akan ada saatnya kok kamu akan sadar kalau proses detoksnya sudah berhasil dan sudah waktunya untuk bicara buruk tentang si mantan, atau bahkan tentang kegagalan kamu. Time does heal, meskipun terkadang butuh waktu yang lama, emosi yang meluap-luap, tagihan kartu kredit untuk makan-makan besar serta retail therapy, dan malam-malam galau yang dipacu oleh lagu-lagu karangan Yovie Widyanto. 

Pada waktunya, forget dan forgive akan benar-benar terjadi dan kamu sadar kalau dia tidak seratus persen buruk, kamu bisa memaafkan dia dan diri sendiri, dan akhirnya menerima kalau tidak semua hal yang diusahakan bisa berhasil.

Tapi hingga saat itu datang, do what you have to do to stay sane

Bisma Aditya: Stop ngejelek-jelekin mantan kamu

Hidup terus berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Sekarang kita bahagia, bisa aja besok sengsara. Tahun lalu kaya raya, belum tentu tahun depan masih sama. 

Yang saya tahu, hal yang demikian sudah jadi pengetahuan semua orang. Jadi, jika ada yang dulu waktu masih sayang memberi pujian, lalu sekarang setelah pisah malah memberi hinaan, bukan hal yang aneh bukan?

Saya pribadi tidak setuju dengan yang orang bilang “ngejelek-jelekin mantan”. Bukan cuma mantan, coba buka buku pelajaran PPKn kita waktu SD, deh. Kita itu udah dilarang untuk menghina siapapun sejak kecil, jadi siapapun juga pasti mengutuk perbuatan yang satu itu. Tapi menurut saya, belum tentu semua orang yang dianggap ngejelekin mantannya, memang berniat demikian.

Yang namanya putus, pasti ada konflik. Penyebab konflik tidak pernah hal yang baik. Anggaplah A putus dengan B. A sedih terus cerita ke C tentang penyebab dia putus (biasanya dengan perjanjian. “gue cerita tapi jangan disebar-sebar ya”). 

Kalau curhat aja, enggak mungkin A dibilang ngejelek-jelekin mantannya, nah anggapan itu muncul ketika D, E, F, sampai Z tahu cerita buruknya yang biasanya disebar oleh si C. 

Dengan begitu, mungkin C sudah melakukan wanprestasi kepada A karena perjanjian yang mereka buat untuk tidak menyebarkan cerita itu sudah memenuhi syarat sah perjanjian pada pasal 1320 KUH Perdata. 

Selain itu, C mungkin juga dianggap melakukan pencemaran nama baik kepada B karena menyebar kejelekannya dengan maksud agar diketahui orang banyak sebagaimana diatur di pasal 310 KUH Pidana.

OK, mungkin berlebihan, tapi betul bahwa kadang bukan A yang ngejelek-jelekin mantannya, melainkan orang-orang terdekatnya yang tidak rela temannya disakitin yang menyebarkan cerita buruk yang seharusnya cuma jadi konsumsi pribadi.

Poinnya di sini, orang yang putus hampir pasti cerita ke temannya tentang alasan putus yang pasti buruk itu. Tapi tidak semua memang berniat ngejelek-jelekin mantannya. Kadang orang lain yang punya andil besar menyebarnya cerita jelek itu tapi akhirnya malah orang seperti si A itu yang dibilang ngejelek-jelekin mantannya. 

Sungguh kasihan si A, udahlah putus… Di cap jelek karena dibilang ngejelek-jelekin mantannya… 

Perlu diingat, “Dari dulu memang begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir” (kutipan terkenal dari Pat Kai di serial Kera Sakti).

Tapi selain orang-orang malang seperti si A di atas, ada juga sih orang yang memang niat ngejelekin mantannya. Ada yang fitnah, buka aib, berkata kasar, bikin sebutan enggak pantas, dan lainnya. 

Pesan saya sih cuma satu. Segera taubat, stop ngejelek-jelekin mantan kamu. Biar bagaimanapun dulu kamu ngejar-ngejar, sayang, bahkan sempat punya rencana sehidup semati sama dia. Dia adalah cerminan dari seleramu. 

Kalo memang dia itu seburuk yang kamu bilang dan sebar ke seluruh dunia, berarti selera kamu … ? —Rappler.com

Adelia, mantan reporter Rappler, kini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di London, sementara Bisma adalah seorang konsultan hukum di Jakarta. Keduanya bisa ditemukan dan diajak bicara di @adeliaputri dan @bismaaditya.

Baca juga lainnya di Bincang Mantan:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.